May 15, 2017

Review Novel To Kill A Mocking Bird

Doc. irerosana



Perlu waktu yang tidak sebentar bagi Amerika untuk mendewasakan diri, menerima bahwa warna kulit bukanlah sesuatu yang patut diperselisihkan lebih jauh. Dalam novel ini, tergambar betapa perbedaan tersebut menjadi begitu kentara. Berlatar setting di Alabama 1936, di sebuah tempat bernama Maycomb County, Harper Lee mengajak pembaca untuk tahu bahwa menjalani perbedaan pada masa itu tidaklah mudah.

Ia menciptakan tokoh peremuan kecil berusia 9 tahun, Jean Louise “Scout” Finch, dan menggunakan matanya untuk mencerna keseluruhan cerita.  Scout yang polos mulai membuka mata kita tentang bagaimana situasi dan sosok ayahnya, Atticus Finch yang seorang pengacara dan kakaknya Jem. Mereka hidup dengan seorang pengurus rumah dari seorang kulit hitam, Calpurnia.

Untuk menggugah rasa penasaran, Harper Lee menghadirkan sosok Boo Radely yang misterius dan belum pernah terlihat sekali pun. Layaknya anak, mereka menebak-nebak Boo menurut versi mereka. Boo yang tergambar mengerikan pun terpatahkan bahkan menjadi sebuah kejutan indah pada akhir cerita.

Petualangan mereka menjadi lengkap dengan kehadiran Dill, seorang anak laki-laki yang tidak begitu tinggi dan memperkenalkan dirinya sebagai Charles Baker Harris dan mengaku bisa membaca dan berusia hampir 7. Dill sosok yang pemberani dan penantang yang pantang mundur. Ia berhasil meyakinkan Jem untuk menyentuh rumah Boo Radely meskipun setelahnya mereka lari terbirit-birit. Sosok Dill pantas menjadi pemeran utama dalam sebuah cerita di buku lain. Ia selalu dinanti, ditunggu-tunggu rencanannya, tak terkecuali oleh Scout yang pernah dijanjikan akan dinikahi lalu dilupakan selayaknya candaan anak kecil.

Harper Lee menciptakan konflik rasial di mana Atticus Finch, seorang pengacara kulit putih yang harus membela seorang nigger Tom Robinson yang dituduh memperkosa Mayella, seorang wanita berkulit putih putri dari Mr Ewell, seorang yang brutal dan pemabuk. Karena tugas tersebut, dirinya mulai menghadapi berbagai penolakan dan teror, tidak terkecuali Scout dan Jem. Pada tahun tersebut, sangat tidak mungkin untuk memenangkan seorang nigger, sekalipun dilakukan oleh pengacara sekaliber Atticus.

Tergambarlah bagaimana masyarakat berpihak berdasarkan ras. Harper lee meyakinkan betapa ketidakadilan pada nigger menyeruak bebas layaknya udara yang dengan mudah dan gratis dihirup oleh seseorang. Bukti tidak bersalah, logika mengenai gadis kesepian yang berusaha menutup aib terbesar pun tidak mampu mematahkan keyakinan juri dan membuat keputusan fenomenal bahwa putih bersalah dan hitamlah yang benar. Mereka hidup tidak di bawah keadilan akan tetapi, di bawah warna kulit dari ras mereka sendiri.

Dill lebih sensitif terhadap sekitar, menghadapi fakta pengadilan ia menangis,

“Kurasa aku mau jadi badut kalau sudah besar,” kata Dill. 

“Tak ada satu pun di dunia ini yang bisa kulakukan pada orang lain kecuali tertawa. Jadi, aku mau ikut sirkus dan tertawa sampai puas.”

“Kau terbalik, Dill,” kata Jem. “ Badut itu sedih, orang-orang yang menertawakan mereka.”

“Yah, aku akan menjadi badut jenis baru. Aku akan berdiri di tengah lingkaran dan menertawakan orang. Lihat saja ke sana,” dia menuding.” “Setiap orang itu semestinya menunggangi sapu.”

Sementara Jem lebih dramatis, ia mengerti bahwa yang terjadi di pengadilan itu mengecewakan. Mungkin hanya ia, Dill, Scout, Atticus dan orang-orang nigger saja yang setuju bahwa Tom tidak bersalah. Tapi anak-anak kecil itu,  dengan logika sederhana, mereka bisa mengerti bahwa Tom tidak bersalah, tanpa gangguan warna kulit.

“Ketika aku seusiamu. Kalau hanya ada satu jenis manusia, mengapa mereka tidak bisa rukun? Kalau mereka semua sama, mengapa mereka merepotkan diri untuk saling membenci? Scout, kurasa aku mulai mengerti sesuatu. Kurasa aku mulai mengerti mengapa Boo Radley tinggal tertutup di rumah selama ini... karena dia ingin tinggal di dalam.”

Seperti itulah Harper Lee menggugah ingatan mengenai warna kulit. Warna yang seharusnya menggembirakan kehidupan namun sejarah berkata lain, warna telah menorehkan cerita dan kenangan pahit di masa lalu. 

February 9, 2017

Singapore Jalur Backpacker (part 3)





 Aroma Imlek di Chinatown

 
Chinatown food street di pagi hari

 
Berbeda dengan perjalanan beberapa tahun lalu yang menggunakan jasa private tour. Backpacker bersama suami kali terasa lebih menyenangkan. Saya jadi mulai paham alur, jalan dan paham cara bergerak di Singapura. Kurang lebih pukul 10.30 kami sampai di St Chinatown. Kami bergegas keluar dan mengaktifkan google map untuk mencari hostel yang sudah kami booking. Tak berapa jauh berjalan, kami melewati Chinatown foodstreet. Terlihat di kanan kiri beberapa stand makanan lengkap dengan harga-harga, di sekitar stand terdapat meja kursi untuk pengunjung yang juga sudah penuh terisi. Kami tak sempat mencicipi apalagi meneliti tulisan pada menu di samping kanan dan kiri. Kami sengaja tak mampir, rencana kami ingin terlebih dahulu menuju hostel, menaruh beberapa barang dan keluar kembali dalam keadaan ringan.


Sebelum sampai di penghujung pesta kami sudah menemukan nama Burrow. Bergegas kami mencari jalan masuk yang memang kecil dan sedikit tertutup keramaian. Setelah tangga lantai ke tiga kami menemukan pintu masuk. Di resepsionis 2 orang wanita tengah berbincang dengan petugas jaga. Si petugas wanita meminta saya menunggu. Ruang tunggu hostel terasa akrab dan tidak kaku. Seorang bule yang tengah berbaring di sofa merah bergegas bangkit dan mempersilakan jikalau mau duduk di sebelahnya. Saya memilih ndlosoran di lantai dekat dengan buku-buku. Itu pertama kali saya menginap di hostel dan tahu bahwa masing-masing hostel menata diri secara berbeda-beda.

Ruang tunggu hostel burrow

 
Spot baca *love*

Hostel kami berfasilitas standar. Kami membayar 472ribu rupiah untuk 2 bed (atas-bawah) selama satu malam. Harga tersebut sudah termasuk murah mengingat letaknya yang strategis. Yang jelas, di Singapore kelas hostel sudah bisa dikatakan bersih. Saya mulai membiasakan bila bepergian -apalagi waktu weekend- untuk terlebih dahulu booking dan bayar hotel secara online. Apalagi sekarang banyak sekali aplikasi travel yang memudahkan untuk cari dan booking hotel dengan harga yang variatif. Kami menggunakan traveloka sebelum berangkat. Keuntungannya, kami bayar masih dalam rupiah dan aman, kami tak perlu takut kehabisan kamar.



Bed yang kami sewa


Setelah hampir tengah malam kami baru dapat kamar. Karena bersama suami, kami memilih kamar campuran. Meski sedikit risih satu kamar bersama pria-pria asing tapi itu lebih baik daripada kami harus terpisah (efek penganten baru). Kesepakatan awal saya tidur di atas, tapi rupanya bed atas berada tepat di bawah kipas angin, saya pun minta yang di bawah. Suami sibuk sendiri menutup bed bawah dengan kain seadanya, tak rela istrinya tidur dilihat pria asing. Ketika saya minta kami seranjang ia menolak, katanya malu. Lah kan sudah sah ya, lagian apa kita berniat begituan di sana?

Suasana kamar


Pihak hostel menerangkan berbagai hal seperti tempat mengambil cup, piring, sendok, air panas gratis, teh, kopi dan toilet yang letaknya terpisah dari semua kamar. Mereka juga menjelaskan mana yang gratis dan mana yang harus bayar. Di hostel kami harus mandiri, selepas membuat teh, cup dicuci dan diletakkan pada tempatnya, berlaku juga untuk makanan lain. Apa yang seperti ini patut untuk diceritakan? Harap maklum karena itu benar-benar pengalaman pertama saya di hostel. Rupanya menginap di hostel itu selain harga yang cocok dikantong juga menyenangkan.

Small kitchen bersama



Setelah menyantap pop mie yang memang sengaja saya bawa banyak, beberapa sari roti dan teh panas, kami kembali turun untuk menengok jalan. Siapa tahu masih kebagian pestan makanan china di bawah. Sayang hujan datang dan banyak stand sudah tutup. Kami kebagian becek dan lalu lalang yang mulai meredup satu demi satu. Yah, setidaknya kami sempat mengunjungi beberapa toko oleh-oleh sebelum mereka tutup. Harga di Chinatown sama halnya di Bugis Street, murah dan cocok di kantong. Harga oleh-oleh tas Singapore masih dengan 3 tahun lalu 10$ untuk 6 tas, bedanya 1 dollar kala itu masih di angka 6000an sementara sekarang hampir 10 ribu. Mengingat ini tahun ayam, banyak sekali toko di sana yang menjual pernak-pernik berbentuk ayam.



Salah satu toko oleh-oleh

 
Pernak-pernik imlek
Jadi, menurut saya, poin-poin penting kalau mau backpacker ke Singapura adalah prepare google map offline, mencari tahu kondisi dan info mobilitas di sana, memilih dan membooking hostel sebelum berangkat lalu print out biar aman, lalu yang satu ini klasik tapi masih berfungsi, bawa pop mie dan roti yang banyak (sejauh ini saya selalu coba dan berhasil), itu semua di luar dokumen-dokumen wajib secara umum seperti paspor, KTP dll. Lebih dari itu, tersesat di sana tentu menyenangkan.

Salaman




February 1, 2017

Singapore Jalur Backpacker (Part 2)





Transportasi ala Singapore



Hal pertama yang patut dibanggakan dari Singapura tentu saja akses transportasi yang mudah dan maju. Setelah berlabuh di Pelabuhan Tanah Merah dan menghabiskan banyak menit di bagian imigrasi, saya dan suami bergegas mencari minimarket terdekat untuk membeli Ezlink card untuk naik MRT dan Bis. Harganya 10 dollar  per kartu dan di dalamnya sudah termasuk isi 5 dollar. 

GTM ( General Ticketing Machine) bisa top up kartu di sini


Kami ke luar menuju halte bis yang berjarak sekitar 15 meter dari pintu ke luar. Berbeda dengan bandara Changi yang langsung terhubung dengan MRT, dari pelabuhan Tanah Merah, kami harus naik bis terlebih dulu untuk menuju ke stasiun Tanah Merah. 

St Tanah Merah


Hanya sekejapan kami sudah sampai di St Tanah Merah. Dari sana kami langsung menuju St Chinatown. Bagi yang sudah sering menggunakan Commuterline di Jakarta pastilah tidak kesusahan mengikuti alur MRT. Misalkan bingung bisa tanya ke petugas jaga atau orang lewat.  Supaya lebih mudah lagi, kamu bisa install beberapa aplikasi tanpa bayar dari play storemu seperti ; Singapore MRT, Singapore Offline MRT Map,dll sebagai panduan penggunaan MRT.  Cara mudah membaca Map MRT adalah perhatikan jalur warnannya. Misal kamu ingin ke stasiun Little India, di map, stasiun tersebut berwarna ungu dengan kode NE7 maka, kamu ikuti jalur petunjuk warna ungu dan naik MRT dengan kode NE berwarna ungu.

MRT Map ada di setiap stasiun

Menuju Gate


Hampir seluruh mobilitas kami di sana menggunakan MRT. Selain mudah juga murah. Tentu harganya jauh di bawah sewa taksi. Mapping sebelum berangkat juga sangat penting. Setidaknya untuk menentukkan letak paling strategis untuk menginap, tidak terlalu jauh dari stasiun dan dekat dengan beberapa titik penting seperti masjid, stasiun atau tempat tujuan tertentu. Saya memilih menyewa hostel di daerah Chinatown karena dekat dengan pusat belanja chinatown, merlion park, masjid dan St Chinatown.

Sejauh ini, kebanyakan backpacker lebih suka memilih hostel di daerah little India karena harganya cukup murah. Itu tak jadi soal asalkan kamu cukup punya banyak waktu. Untuk saya yang saat itu tengah diburu waktu, saya lebih memilih yang paling dekat dengan tempat-tempat yang akan saya kunjungi.

 Waktu yang kami miliki cuma 1 hari 1 malam. Sungguh waktu yang sangat tidak cukup sekalipun hanya untuk mencicip beberapa menu di Chinatown.

Pagi hari kemudian kami harus menuju USS dan menghabiskan hari di sana. Untuk ke sana kami berangkat menggunakan MRT dari St Chinatown yang kami tempuh dengan berjalan kaki menuju ke St Harbourfront. Sampai di St Harbourfront kami menyeberang ke Sentosa Island menggunakan Sentosa ekspress. Letaknya 3 lantai di atas St Harbourfront.  Tarifnya juga cukup murah, kalau tidak salah hanya 2 dollar.

Kurang dari 5 menit kami sudah sampai di Waterfront yang terletak tidak jauh dari pintu masuk USS. Di sana kami tak lagi perlu mengantri tiket, karena suami sudah membeli sebelumnya via online. Hitung saja harganya sekitar 500 ribu per orang. Ini tidak wajib, misalkan kamu ingin ke Sentosa tanpa masuk USS juga bisa. Ada pantai gratis yang menanti untuk dinikmati, atau bisa sekadar foto di depan simbol USS atau jalan-jalan di sekitar.

Di sana kami kecewa karena tak bisa menjajal seluruh permainan. Sepertinya kami butuh waktu sehari full dengan tiket khusus untuk  bisa menjajal seluruh permainan. Bayangkan, untuk 1 permainan transformer ride saja kami butuh mengantri 40 menit. Suami sudah mulai terlihat capek ketika mengantri namun kembali ceria setelah menyeleseaikannya. Katanya, “nggak percuma ngantri sejam.” Judul hari itu, “Yang Penting Suami Senang.” Ya jelas suami, wong istri ngajak foto di Far Far Away saja gagal karena panas.

Sehari semalam sudah kami makan tak layak, siang itu saya minta makan nasi, pokoknya nasi, lapar tak karuan dan benar-benar tak tahan. Harga makanan USS tentu tak cocok dikantong backpacker, kami menghabiskan 30 dollar, itu senilai 300ribu untuk 1 porsi nasi rendang tambah telur tanpa rasa dan 1 porsi nasi ayam tambah telur tanpa rasa plus gratis cola 2 gelas.

Makan siang ala USS


Pukul 2 kami keluar USS dan bergegas kembali ke stasiun agar tidak lebih kecewa karena terlambat check in seperti sebelumnya. Kami kembali menuju Harbourfront dengan Sentosa Ekspress. Dari sana kami mencari jalur hijau yang menuju ke St Tanah Merah. Kami sudah tak punya banyak waktu. Bahkan untuk berhenti sejenak dan membeli oleh-oleh di pasar. 

Perjalanan pulang menuju St Tanah Merah

Petunjuk peringatan di MRT :) LUCU


Perjalanan dari St. Harbourfront sampai St Tanah Merah adalah perjalanan MRT paling lama yang kami tempuh di sana. Di perjalanan kami berbincang mengenai biaya hidup di sana, kemudahan akses transportasi, jalanan yang teratur, toleransi antar sesama dan lain-lain. Sepertinya saya menangkap aroma keinginan untuk kembali berkunjung dari teman seperjalanan saya.

“Ehm... nggak pengen pindah kerja di sini aja?” kata saya menggoda tapi penuh harap.
“Eemmm....enggak dulu lah,” jawabnya. Yah, pendengar kecewa.

Btw kami menghabiskan kurang dari 10 dollar / orang untuk seluruh mobilitas di Singapura (di luar harga tiket kapal).

To be continue.... part 3

Part sebelumnya -> Singapore Jalur Backpacker (Part 1)

January 28, 2017

Singapore Jalur Backpacker (Part 1)


Part 1
Tanjung Pinang to Singapore


Jika kau masih berpikir bahwa untuk ke luar negeri itu hanya bisa dilakukan oleh orang yang berharta banyak, maka kau terbukti butuh piknik dengan membawa sebotol air mineral.  Cara terbaik menghadirkan pikiran yang baik adalah dengan terlebih dulu menyingkirkan pikiran-pikiran buruk. Jika otakmu hanya dipenuhi keirian atas postingan liburan milik temanmu, maka kau pun lupa untuk memulai liburanmu sendiri.


Saya masih percaya bahwa popmie adalah penyelamat terbaik seperjalanan. Tepat satu minggu yang lalu, saya menghitung dan menata jumlah popmie dan menggabungkannya dengan beberapa roti basah dalam satu plastik. Satu buah koper, tas punggung mini, tas punggung besar, kamera, tripod, syal, paspor, dan beberapa dokumen yang lain. Saya menghitung ulang secara berulang. Perjalanan kali ini mendadak dan lebih ringan dengan kehadiran partner in crime yaitu, suami. Dia handling tiket pesawat, jadwal kapal, booking hotel, prepare gps, map, rute MRT dan menyempatkan diri ke money changer. Sementara saya dalam 1 x 24 jam hanya diberi tugas untuk memutuskan baju mana saja yang akan saya pakai dan menentukan wilayah hotel. Itu pun gagal.


Bahkan tugas terakhir seringan itu pun tak bisa saya selesaikan dengan baik. Sementara hostel saya memilih Chinatown. Akhirnya setelah menjelaskan detail alasan, dia menyetujui kami stay di sana. Saya mengajukan 3 alasan, pertama, karena dulu saya belum sempat berkunjung ke sana. Kedua, Chinatown cukup strategis, lumayan dekat dengan Merlion Park dan Sentosa Island bila dibandingkan dengan little india  ataupun Bugis. Dan yang terakhir, kami datang mendekati imlek. Alasan terakhir terasa briliant. Tentulah Chinatown lebih hidup dan menyala menjelang imlek. Banyak acara-acara, festival dan stand-stand khusus imlek yang menjadikan kita manusia paling beruntung bisa mengunjunginya. Pasti seru, pikir saya.

Tepat sabtu lalu kami mendarat di Bandar Udara Raja Haji Fisabilillah International Airport Tanjung Pinang. Rencana awal kami menyeberang ke Singapore dengan kapal Majestic fast ferry pukul 13.30 dan berlabuh pukul 16.30. Seharusnya, menjelang matahari terbenam, kami sudah dapat menikmati sunset di Marina Bay. Setelahnya kami akan berjalan ke arah Utara menuju Chinatown. Di sana kami akan menghentikan langkah sejenak di Chinatown food street. Menjajal beberapa menu makanan yang terjangkau dan mengambil beberapa foto. Setelah puas dan lelah, kami menuju Hostel Burrow yang letaknya tepat di area foodstreet. Kami tak perlu khawatir karena sudah membookingnya via traveloka beberapa hari sebelumnya. Kami akan melepas lelah, memasak indomie dan membuat teh untuk menghangatkan badan. Kami sama-sama merasa tak perlu mandi, dan memutuskan untuk melakukannya dikeesokan hari. 


Sayang itu hanyalah rencana yang berbuah khayal. Faktanya, kami terlambat setengah jam menuju counter check in. Si embak yang berparas cantik itu menolak tiket kami. Dengan amat terpaksa kami harus ikut kapal berikutnya yaitu pukul 17.30 plus membayar biaya tambahan  sebesar 30 ribu per orang. Dengan selisih waktu Indonesia - Singapura yaitu sekitar 1 jam, tentu kami kemalaman jika harus bersikukuh untuk menjalankan rencana awal. Mau tak mau saya harus menyusun jadwal ulang perjalanan sembari menggerutu. Beberapa menit kemudian saya sadar, mau liburan kok menggerutu. Saya pun malu dengan diri sendiri.


Soal biaya, kami membayar 440 ribu per orang untuk pulang pergi. Harga tersebut lebih murah ketimbang membeli tiket sekali jalan sebesar 257 ribu rupiah. Dalam satu hari ada tiga jadwal keberangkatan kapal, pagi, siang dan sore. Kapanpun itu, pastikan kamu sudah berada di counter check in minimal satu jam sebelum keberangkatan. Itu pun jika kamu keberatan mendengarkan embak-embak counter check in mengumpat "memangnya tak bisa membaca tulisan yang tertera ditiket?" seolah kita ini buta huruf.


Angin laut tak cukup bersahabat, beberapa kali membuat kapal cepat kami terguncang. Saya tak merisaukan bilamana kapal yang saya tumpangi tenggelam atau terbalik, itu tak lebih menyakitkan ketimbang menahan rasa mual luar biasa, ingin muntah tapi tak bisa. Sejak dulu memang saya percaya bahwa rasa mual adalah cobaan luar biasa bagi umat manusia.

Kami sampai di pelabuhan Tanah Merah tepat waktu. Berjalan agak cepat agar tak lebih kemalaman dan ingin segera mencari segelas minuman hangat. Tapi rintangan kedua menghadang. Ketika melewati bagian imigrasi, saya mudah saja lewat. Tapi entah, apa yang menarik dari suami saya sehingga mereka harus menahannya terlebih dahulu. Saya menunggu di seberang tempat cek imigrasi dengan perut dingin. 15 menit berlalu, dingin sudah merambah ke sekujur tubuh. Saya mulai gelisah, suami tak kelihatan karena harus masuk ke dalam sebuah ruangan interogasi. Sesekali suami keluar bersama 2 orang petugas, melihat ke arah saya dan kembali berbincang.

Tepat ketika rasa kesal saya hampir menemui ujung, seorang petugas imigrasi menuju ke arah saya. Ia seorang keturunan India, berkata dengan bahasa melayu yang tak begitu lancar. Katanya saya harus pergi sementara rekan saya mereka tahan. Saya berusaha menanyakan ada masalah apa, kata dia ini masalah imigrasi. Saya yang mulai bingung menghujaninya dengan berbagai penolakan ; tidak bisa Pak, saya tidak bisa pergi sendiri. Saya tidak ada kenalan siapa-siapa di tempat ini, Saya pergi bersama dia jadi kita harus sama-sama, pokoknya saya tidak bisa pergi tanpa dia.

Si petugas bersikukuh bahwa saya harus segera pergi meninggalkan pelabuhan. Saya meminta ditahan bersama suami tetapi ditolak. Saya meminta menemuinya pun ditolak. Yang ada dalam benak saya ketika itu, ini orang gila apa, Hp saya tidak bisa digunakan untuk menghubungi nomor Indonesia, saya tidak dibolehkan ketemu suami, dan disuruh masuk ke Singapura sendirian sementara duit juga suami yang bawa. Saya benar-benar panik. Imigrasi begini amat ya, pekik saya. Bahkan saya tidak diberi penjelasan apa kesalahan suami saya. Saya kembali ngeyel, minta diketemukan dengan suami. Tepat ketika saya bilang “Saya sendirian tidak ada kenalan di sini.”

“Kamu tidak sendirian, kamu bersama mereka, bukan?” Kata petugas sembari menunjuk ke arah wanita bersama 2 orang anak yang juga sedang menunggu teman. “Bukan Pak, Saya tidak kenal. Saya istrinya Pak, kita berangkat bersama harus pulang bersama,” saya kembali meyakinkan. Di situlah si petugas menyadari ada yang salah, tepat ketika saya bilang istri. Orang yang ditahan di imigrasi dan diputuskan tidak bisa masuk ke Singapura adalah seorang wanita, lalu bagaimana bisa saya menikah dengan wanita? 

Dan setelah ditelusuri, ternyata si petugas salah orang. Oh my god, damn! Dia hampir membuat saya syok, dan untung saya masih ngeyel di situ dan belum beranjak pergi.  Setelah menunggu kembali, akhirnya suami lolos dari imigrasi. Hingga sekarang masih misteri mengapa ia harus ditahan dan ditanya ini itu. Apa mungkin karena tanah kelahiran dia Sukoharjo atau karena ia sedikit berjenggot (padahal cuma sedikit) atau karena memang baru pertama kali ke sana?  Rupanya jalur kapal lebih ketat secara imigrasi, Berhati-hatilah kamu yang berjenggot ataupun yang berkelahiran Sukoharjo.

Apapun itu akhirnya saya masuk kembali ke Singapura melalui jalur lain. Kapal laut.

Part selanjutnya -> Singapore Jalur Backpacker (Part 2)

Review Novel To Kill A Mocking Bird

Doc. irerosana Perlu waktu yang tidak sebentar bagi Amerika untuk mendewasakan diri, menerima bahwa warna kulit bukanlah sesuatu ya...