November 20, 2012

PROSPEK BISNIS OL PADA KARYAWAN INDUSTRI



Dunia digital atau sering disebut dengan duniaya maya memang mengalami perkembangan yang pesat. Dahulu ketika saya masih duduk di Sekolah Dasar (1999- kebelakang) tak satupun murid di SD saya memiliki Handphone. Dulu yang lebih terkenal adalah telephone rumah, bahkan kami sering mencatat no telephone rumah teman-teman. Herannya saya hafal nomor-nomor tersebut diluar kepala karena saking sedikitnya. Sedikit rasa bangga terbesit karna saya hidup dalam masa peralihan. Saya bisa merasakan langsung dan membandingkan manfaat sebelum dan sesudah adanya perkembangan teknologi.  Keberadaan handphone mulai muncul ketika saya menginjak Sekolah Menengah Pertama (SMP) namun yang punya masih jarang, hanya komunitas tertentu ( anak dari keluarga berada) saja,  itupun bukan tipe canggih seperti smartphone maupun fiture phone yang full MP3, GPS, ANdroid, dengan kamera 8G.  Handphone teman saya ketika itu sejenis NOKIA 2100, NOKIA 3315 yang kala itu sangat nge-tren dan mentereng (terkadang saya kangen dengan HP 2 jadul tersebut). Handphone pertama saya adalah Samsung yang masih berantena dan itu saya dapat ketika masih duduk di bangku SMA.  Orang -orang disekitar sudah mulai merambah beralih ke Nokia 6600 Nokia 3630 Sony Ericson T316 dll. Kala itu Nokia 6600 masi seharga 4jutaan, sekarang jumlah tersebut sudah bisa mengantongi galaxy tab 7.0. 
Rupanya peralihan yang saya alami bukan hanya soal telepon genggam, Keberadaan komputer dan social networkig pun mengalami hal serupa.  Dahulu piranti digital tersebut merupakan barang langka namun sekarang menjadi kebutuhan.  Pergolakan Tehnologi terkhusus digital memang meroket.  Orang tak lagi asing dengan Email, FB, Twitter, IPAD, youtube, YM. Hal tersebut tak lepas dari peran perusahaan terkait dan media yang turut mempopulerkan.
Seiring berkembangnya piranti teknologi, berkembang pula aktivitas aktivitas di dalamnnya. Dimana orang berkumpul memang bisa dijadikan sebagai lahan mata pencaharian.  iklan online dan toko online mulai tumbuh perlahan, Hal yang pada awalnya belum mendapat kepercayaan penuh dari masyarakat sekarang mulai diminati, Para pembisnis jeli melihat ceruk pasar online. Mereka memanfaatkan media Website, blog facebook dan media social networking lainnya.  Saya sendiri yang dahulu kurang minat menjadi tertarik untuk mencoba belanja online.  Barang pertama yang saya beli online adalah Buku dari BukaBuku.Com.  Karena masih takut kena tipu saya hanya membeli 2buah seharga total sekitar 80ribu. Ternyata memang benar aman akhirnya saya mulai merambah membeli produklain seperti pakaian, asesoris dll. Belanja online saat ini memang sangat tidak asing bagi saya maupun rekan rekan saya satu daerah, walaupun memang ternyata banyak juga dari teman saya yang masih gaptek, atau mungkin kurang percaya dan tidak berminat karena dipikir mblibet.
Saya tinggal di daerah Ungaran daerah dimana industri sangat berkembang. Bahkan anda bisa menemukan macam macam perusahaan industri dengan jarak 5 meter (kadang bersebelahan kadang sedikit jauh). Disekitar rumah saja ada sekitar 3 perushaan yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama 2menit. Blum lagi jalan raya Ungaran -Bawen mungkin ada sekitar 20 perush. jumlah tersebut masi ditambah dengan perushaan daerah Pringapus - Karangjati dengan jarak yang hampir berhimpitan. Perusahaan ditempat saya bekerja itu sendiri memiliki karyawan kurang lebih 3000 orang, padahal ini adalah perusahaan cabang ke3 dari pusatnya yang ada di Ungaran.  Dari 3000 karyawan tersebut tentulah mengenal interet barang sedikit.
Tehnologi digital memang sudah merebak keseluruh lapisan masyarakat, pun begitu dilingkungan kerja saya.  Aktivitas-aktivitas sosial sudah banyak diterima dan dijalankan oleh karyawan.  Bisa dihitung berapa orang yang tidak memiliki account fb dalam 1 perusahaan, pastilah kecil jumlahnya.  Macam handphone pun bervariasi sesuai perkembangan.  Tak heran BB & Galaxy yang awalnya digandrungi oleh orang-orang kelas tertentu kini hampir setiap operator (karyawan produksi) menggunakannya. Posisi tersebut tentunya akan terus berkembang sesuai era perkembangan teknologi. Namun, memang perkembangannya tak secepat pada lapisan mahasiswa dan kelompok lain yang memiliki kebebasan akses secara lebih luas.
Aktivitas jejaring sosial memang berkembang dilingkungan karyawan namun untuk aktivas lain seperti belanja on line maupun berjualan online masih belum bisa berjalan secara maksimal.  Permasalahanya adalah keterbatasan pengetahuan, waktu dan ketidakpercayaan. Sempat saya bertanya kepada beberapa rekan rekan karyawan mengenai pernah tidaknya mereka melakukan transaksi secara online baik menjual ataupun membeli barang.  Dan kebanyakan dari mereka menjawab tidak pernah. Alasannya simple, tidak tahu caranya dan takut kena tipu. Padahal bila kita melihat dari segi perkembangan digital itu sendiri, akan semakin pesat. Ceruk market seperti para karyawan tersebut alah salah satu lahan yang bisa dimaksimalkan.  Dalam kaitannya dengan dunia digital itu sendiri, para karyawan memiliki dua sisi baik positif maupun negatif.Dari segi positif disini karyawan memiliki kematangan secara finansial.  Tentunya kondisi tersebut berpengaruh pada mampu tidaknya mereka terjun dan mengakses dunia maya.  Hal lain dikarenakan mereka padat kerja, menyebabkan mereka berminat pada aktivitas-aktivitas yang mudah dan praktis tanpa banyak mengeluarkan tenaga serta waktu.  Kedua alasan tersebut cukup mendasari mengapa keterbatasan akses dari karyawan perlu di perhatikan dan ditindaklanjuti.  Segi negatifnya, yaitu para karyawan tidak memiliki pengetahuan lebih mengenai aktivitas didunia maya mencakup bagaimana cara melakukanya, bagaimana bertransaksi secara aman dan apa pula manfaatnya.  Keterbatasan pengetahuan serta akses untuk menjadi karyawan berpengetahuan menjadi salah satu PR yang perlu dibahas dan dipecahkan bersama.
Bisa dibayangkn berapa penambahan jumlah pengguna internet apabila para karyawan industri benar-benar bisa dimaksimalkan?   Untuk satu perusahaan saja memiliki kurang lebih sekitar 3000 karyawan, bagaimana dengan jumlah seluruh karyawan industri di negeri ini yang mana memiliki tipikal / kondisi permasalahan yang hampir serupa? Memang jumlah tersebut tidaklah akan tepat sasaran secara keseluruhan, namun dengan pembinaan dan arahan yang baik, deviasinya akan semakin kecil.
PELUANG BISNIS BERJUALAN OL
Sebelum menentukan suatu usaha memang terlebih dahulu harus menguji kelayakan pasar serta produk yang akan dipasarkan.  Pada pembahasan sebelumnya menjelaskan bahwa Karyawan industri memenuhi beberapa kriteria sebagai sasaran bisnis. Diantaranya kemampuan finansial dan keterbatasan waktu sehingga memungkinkan adanya potensi perkembangan kepada aktivitas-aktivitas yang berbau praktis. 
Pelaku bisnis bisa menangkap peluang tersebut serta memaksimalkanya.  Pelaku bisnis disini meliputi para provider internet, penjual pulsa, penjual dan pembeli online itu sendiri. Pengoptimalan peluang disini bisa dengan cara memberi kemudahan dalam praktik penggunaan internet baik dari segi teknis maupun ketersediaan layanan yang lebih praktis.  Misalnya akses menuju toko online bisa dicapai dengan mudah dengan menggunakan HP tipe menengah. Hal lain adalah dengan cara melakukan promosi secara menyeluruh dan menunjukkan step-step untuk mengakses yang tentunya dengan lebih praktis lagi.  Dalam upaya pendekatan dan pembinaan para pengguna internet tidak ada salahnya bila para penyedia layanan internet juga turut andil dalam upaya membina dan mengembangkan aktivitas para penjual online maupun menggerakkan karyawan untuk berjualan online.






November 15, 2012

PASSPOR PERTAMAKU

141112

Kemarin saya mengurus passport (lebih tepatnya tinggal foto saja) ke Kantor Imigrasi Krapyak .Susah bener deh, mulai dari ijin kerja yang bribet, lokasi kantor yang jauh dan belum lagi saya tak tahu menahu alamat tersebut.  Setelah nyasar dulu ke Manyaran (tujuan asli harusnya ke Krapyak) dan menelusuri jalan2 sempit melewati rumah penduduk, akhirnya sampai juga ke Jalan Siliwangi.  Setelah perlahan-laha saya telusuri sembari membaca tulisan disekeliling akhirnya ketemu juga fiuh...
Saya datang 30 menit lebih awal, janjian dengan mb2 yang nomornya saya dapat dari biro saya.  Setelah bertemu dengan embak2 tadi saya disuruh menunggu diruang tunggu. Di dalam ruang tunggu ternyatas sudah penuh orang, dengan celingak celinguk menatap sekitar berharap ada yang saya kenal (pastinya gak kenal semua) akhirnya saya menemukan kursi kosong di deretan nomor 2.  Kembali mata saya mengitari seluruh ruangan karena penasaran. ceritanya itu pertama kalinya saya ke kantor imigrasi, sebelah kiri ada tempat untuk foto, heran tempat fotonya terbuka jadi kita bisa diphoto sembari diliatin orang2 (ati2 kalo narsis pasti ketauan!) dan sebelah kanan ada mas2 (lumayan ganteng) dengan 1 buah meja kursi dihadapannya sepertinya itu untuk proses wawancara. Samar saya dengar suara mas2 ganteng tadi rada meninggi, keras, sedang, meninggi keras, dan sedang kembali persis seperti orang menginterogasi.  Pasti itu mas mas yang diceritakan Tyas teman saya. Katanya "entar km di wawacara sama mas2 yang sebenernya lumayan cuma sok teu nyebelin gitu" . Owh itu orangnya kali ya. Saya kemudian langsung membayangkan mungkin mas2 ganteng tadi beban mental karna harus mengecek alasan orang keluar negeri satu persatu, siapa tahu ada koruptor atau teroris yang mau melarikan diri dan dia disalahkan karna memberi kmudahan dalam pembuatan passpor.
Ternyata kantor imigrasi tak sebesar yang saya perkirakan. tempatnya sempit bakan mirip kantor kecamatan di daerah saya. tapi ternyata ruangan pembuatan passpor ada beberapa, Si embak2 yang mendampingi saya tadi mengajak ke ruangan lain yang mirip dengan ruang antrian Rumah Sakit, tapi disana sedikit beda, ada nomor antrian dan urutan pembuatan passpor dengan sistem pemanggilan nomor yang sudah modern seperti di Bank, ruangan untuk photonya pun tertutup begitu pula ruang wawancara.
Lagi2 saya disuruh menunggu, dan si embak pergi lagi tak tahu kemana.  Diruang tunggu bermacam-macam karakter orang bercampur dalam 1ruangan ada 1 rombongan ibu - ibu yang sya perkirakan itu adalah calon2 TKI, ada juag anak2 muda semi stylist saya kira itu pasti mahasiswa,dan ada juga PNS kalau ini bisa ketauan dari seragam yang mereka kenakan. Masuklah 2 orang yang satu bule dan 1 lagi muka indo, cew dengan tinggi kurang lebih 157cm kulit hitam rambut lurus. secara muka sih orang yang melihat pasti mengira gadis desa, taksiran saya sibule pasti pacarnya mereka terlihat sangat akrab.   Si cew mondar mandir mengurus beberapa syarat sedangkan mas2 bule asyik duduk sembari bermain HP.  Sesekali saya bisa mendengar mereka bercakap2 dengan bhs inggris, si cewek berkulit hitam rupanya masih kikuk berbahasa Ingg.  Tak hanya saya ternyata beberapa orang diruangan juga curi curi pandang kearah mereka.
Cukup lama menunggu tiba - tiba datang seorang pasangan muda chinese, si cew chinese emg cantik, kulit putih, tinggi semampai, dan berambut lurus, sedang si cow chinese lebih sedikit berisi dengan rambut hitam lurus, berkacamata dan mkannya kategori lumayanlah.  Beda dengan saya yang sudah menunggu selama berjam-jam, si cew chinese langsung bisa masuk ruang foto dan si cow nunggu diluar. saya heran mengapa saya sendiri yang tidak dipanggil2 mana mbk2 yang harusnya bantu saya malah menghilang.
Pukul setengah 3an barulah si embak yang membantu saya bikin passpor kembali dan bertanya apakah saya sudah difoto. Mukanya heran, masa daritadi saya belum difoto, karna curiga si embak langsung inspeksi mendadak ke ruang foto dan kejadian parah, sial , bete, apalah itu namany itupun terjadi. jadi....ternyata.....si cew chinese yg kebanykan senyum dan polos dan super duper putih itu foto dengan berkas saya. Petugas Imigrasi tidak bertanya terlebih dahulu sebelum memfoto dia, asal jepret aja. walhasil rusak document sya, padahal as info dari bag imigrasi document tersebut langsugn meng-link ke pusat (Jakarta) jadi mau tak mau kami harus menunggu balasan pengembalian data dari Jakarta. OMG, ya Allah, andai tidak selesai hari ini gimana ? Si embak yang mengurus passpor saya pun berusaha menenangkan saya yang sedang panik. "Duduk dulu mb, verifikasinya lama lho" kata si embak. Gimana bisa tenang untuk mecapai kantor imigrasi saja perjuanganku bukan main, mulai dari nyari2 alasan buat ijin tidak kerja, belum lagi berangkat kesasar, seandainya tidak bisa foto hari itu terus kapan lagi? apa yang harus saya reasonkan ke tempat kerja??? apa!!??? tumpahlah air mata saya, huft terdenganr sedikit lebay c
Sya harus menunggu sampai setengah 4 untuk memastikan document benar2 tidak bisa proses hari itu juga. Hasilnya memang mengecewakan, tak ada cara lain selain harus kembali lagi untuk re ulang foto.bah!
Perjalanan pulang saya gundah gulana, dongkol, kecewa semua campur aduk, sampai - sampai saya nyasar. Perasaan saya warga situ situ saja, bertahun tahun tinggal di Ungaran tapi kenapa bisa nyasar? mungkin karena pikiran saya yang tak karuan. Entah kenapa tiba - tiba saya di PRPP kemudian tiba - tiba di Johar. Ya Tuhan kalau tidak bisa keluar dari Semarang bisa bisa saya pingsan di jalan karena kecapaian.
Yang paling saya cemaskan, reaksi Bokap kalau mendengar saya pulang tidak membawa hasil sama sekali. Sesampai dirumah setelah mampir sebentar ke Tembalang untuk istirahat dan makan saya cerita ke Bokap, sepertinya beliau sangat cemas, dari saya berangkat sms tanya keadaan saya berkali-kali. Dan benar, reaksi bokap pasti deh dikait-kaitkan dengan masalah agama "Iki tandane Gusti Allah ora kerso" artinya ini berarti Yang Maha Kuasa tidak ridho.  Bukan maksud saya tidak percaya kepada sang Khalik tapi pasti deh semua hal ditanggapi dengan cara seperti itu.  Saya jadi kikuk sendiri, jadi maksudnya rencana saya untuk berlibur tidak di ridhoi Allah? tapi kenapa ? kenapa berlibur tidak boleh? kalau sudah begini saya jadi resah sendiri, pikiran ngaco kemana- mana. Jangan-jangan nanti pas liburan kenapa-kenapa, wush positive thingking saja lah. Emg kadang bokap sering negative thingking dan berperasaan aneh -aneh gitu.
Waaa saya harus nyari waktu lagi neh buat balik ke kantor imigrasi.
*additional info saya pakai biro habisnya jadi 500ribu (pas gak pakai kembalian)

Hidup Dengan Sedikit Benda

Baru-baru ini saya menyadari bahwa saya terlalu banyak mencemaskan benda-benda yang saya miliki. Terlebih benda yang benar-benar saya...