December 20, 2012

Perempuan perempuan Redaksi


Mendengar dan mentransformasikan “Dimensi dalam Dimensi” ibarat membuka kotak harta karun kehidupan yang sejauh ini berhasil saya simpan rapat-rapat.  Apa yang bisa saya tulis untuk “Dimensi dalam Dimensi”?  mungkin sebuah pengejawantahan rasa melalui para  “Perempuan Perempuan Redaksi” ini.
Tema ini bukan privatisasi bukan pula egoistis.  Hanyalah sekedar pilihan! Ini bukanlah penggusuran aktivasi dan skill kaum lelaki. Bukanlah pula diskriminasi. Banyak juga kok lelaki hebat diredaksi, sebagai contoh katakanlah, bang Ershad Yanuar. Seseorang yang saya kenal sebagai satu satunya wartawan Dimensi yang mengalirkan kata melalui darahnya.  Entah mengapa unsur jurnalistik sangat kental terasa dalam setiap tulisan yang beliau buat.  Saya curiga jangan-jangan partikel dalam tubuhnyapun terusun dari huruf dan kata. Hal itu pula-lah yang membuat saya  mengirim pesan singkat untuk beliau (sekitar 2 atau 3 tahun lalu, saya lupa! )
Aku iri dengan darahmu. Kata saya.
Diapun membalas  Aku iri dengan semangatmu” balasan yang sempat membuat senyum saya mengembang. 
Tapi tetap saja, hingga hari ini,detik ini, saya masih iri dengan darahnya!
Diluar persoalan darah mendarah, saya rasa beliau tak cukup piawai menulis sastra. Bahkan hingga saat ini saya masih heran mengapa cerpen pertamanya lolos terbit di buletin DIMENSI. Kurang bagus! Itu menurut saya (maaf Bang Ershad J).  Tapi diluar itu semua, saya anggap Bang Ershad sebagai seorang journalist, even you’re good journalist! (Diluar dari pelik kontroversi majalah edisi 38 yang orang sebut sebagai majalahnya karna hampir seluruh artikel yang ada adalah karyanya, Saya tetap menganggap beliau lebih elegan sebagai jurnalis independen atau  katakalah  wartawan lepas).
Berbicara mengenai majalah 38 yang bertema DJ’s life, setelah saya baca kembali ternyata reportase yang disuguhkan kurang mendalam.  Bahasan yang ada tidak seperti tujuan awal mengapa tema tersebut diangkat.  Sebenarnya pada saat rapat pembahasan tema majalah, saya sudah menyiapkan satu tema “Pasar Traditional VS Modern” yang kalah dan kemudian malah diangkat menjadi tema tabloid. Banyak pelik, problemtika dan polemik dalam majalah 38 yang menjadikanya kontroversial. Terbitnya majalah kedua yang berjudul “ Polines In Nowhere” bak penawar atas racun DJ’s life.  Dari mulai tema, artistic, picture, dan isian artikel di dalamnya diselaraskan dan tak dilepas dari esensi pers mahasiswa. 
Penerbitan majalah pertama bagi sebuah angkatan mejadi kendala dimana diharuskan beradaptasi pada structural baru.  Pun begitu yang terjadi pada majalah selanjutnya yang tak lain adalah angkatan saya, & dadang dkk. Majalah 40 dengan tema “Pasang Surut Pendidikan” yang setelah saya tilik kembali ternyata kabur dari frame tema itu sendiri.  Bahasannya kurang tajam dan temanya amat luas.  Namun, kami sudah berupaya maksimal kala itu, biarpun setelah 5 tahun berlalu bagian cacat itu begitu terasa.  Memang, menilik history menjadi salah satu upaya perbaharuan hidup.  Mempersepsikan masa kini dalam persepsi masa yang akan datang. Itu masukan tersendiri bagi saya!

Lalu dimana para perempuan-perempuan redaksi? Mereka ada pada tahun dan bagiannya masing-masing.  Saya melihat para perempuan redaksi lebih kepada kecintaan mereka akan dunia tulis menulis, bukan akan posisi mereka secara struktural. Diakuikah? Tinggikah? Terkenalkah? Atau mungkin disaluti oleh beberapa angkatankah? Bukan esensi tersebut yang saya bangun dari tulisan ini.  Tapi para perempuan yang mencintai rangkaian huruf dan tak sengaja kutemui di negeri Dimensi. Bagi saya ini soal tulisan, bukan keorganisasionalan.

Dimulai dengan teh Agatha,
Lewat ini dan dengan segala kerendahan hati saya meminta maaf kepada teh karna kelancangan saya mengcopy ide pembuatan buku THIZISME.  Yang benar terjadi adalah perkiraan sekitar 2 bulan setelah peluncuran THIZISME, saya menerbitkan sebuah prosa liris berjudul It’s all about you. Berbeda dengan THIZISME karya ini privat dan hanya dicetak 2.  Maafkan saya teh.. peace! Tapi isinya jelas berbeda hanya konsepnya saja yang saya copy.
Diluar rasa bersalah, saya mengenal beliau sebagai satu–satunya perempuan redaksi yang mahir bermain feature.  Paling tau bagaimana menyentuh hati lewat kata dan bagaimana meniupkan roh dalam tulisan yang membuatnya seolah bernafas.  Satu bagian yang masih terasa sulit untuk saya adalah mencapuradukan unsur kesederhanaan, kejujuran dan keikhlasan dalam sebuah cerita, dan itu saya pelajari darinya.  Semua karyanya lepas, independent,cenderung ke sastra modern &prosa liris. Tak ada 5 W 1H layaknya sebuah berita, soft news/feature news,apalagi hardnews. Buat saya dia adalah salah satu penulis independen, yang punya gaya tersendiri. Ada hal lagi yang saya ingat. Kala itu sedang booming film “Merah itu Cinta”yang dibintangi oleh Marsha Timoty.  Olehnya, ketenaran kata “Merah itu Cinta” ditampik secara halus, sederhana namun rapih dengan sebuah cerpen berjudul “Hitam pun Cinta”.  Cerpen tersebut menggeser posisi cerpen Mitha yang sedari awal kami pastikan akan mengisi kolom sastra. 
Cerpenmu kalah sama punya mb Agatha, tha ...” kata Bang Ershad kepada Mitha saat itu. 
Masa’ sih! Pikir saya pula tak percaya.
Iya deh re, bagusan punya Mb Agatha, coba deh km baca” Kata Mitha sendiri. Langsung saya buka folder sastra dan kutemukan “Hitam pun Cinta”hmm.. begitu sederhana, rapi namun dalam. Sampai–sampai saya harus menitihkan airmata.  Begitulah teh Atha, sangat pandai memainkan rasa. Saya mengharapkannya menjadi novelis dan hingga saat ini saya masih menunggu sebuah novel baru muncul dengan namanya sebagai pengarang. Tapi kapan teh?

Dilanjutkan oleh Mitha,
Seperti yang tersebut sebelumnya,“Mitha” dengan nama komplit Armitha Cahya RH adalah teman sekaligus partner seperjuangan saya di Dimensi, bahkan jauh sebelum kami tau dan kenal Dimensi kami telah mengenal satu sama lain.  Dialah yang pandai bercerita melalui kata, menciptakan kehidupan melalui cerita serta ulung memainkan alur pula plot cerita.  Mitha kuat di story.  Dia tau benar bagaimana membentuk percakapan menjadi hidup dalam sebuah cerpen, tau bagaimana memunculkan konflik dan bagaimana mengakhirinya dengan sempurna.  Dia senang memasukkan dialog langsung dalam sebuah cerita. Itu satu - satunya hal yang slalu saya hindari karna saya tak piawai merangkai dialog langsung.  Pikir saya lebih aman menghindarinya.
Satu yang masih saya ingat sewaktu kami duduk di Bangku SMA. Saya tinggal bercerita mengenai kisah saya kepadanya dan dalam jangka singkat kurang dari 1 minggu, sebuah buku tulis full of my love story ada dihadapan saya.  Sejak itu saya berfikir dia adalah seorang penulis cerita kiriman Tuhan (hehe). Berbicara mengenai Mitha tak akan pernah ada habisnya.  9 tahun kami bersama melalui hari berbagai warna.  Dia satu satunya partner reportasi yang entah berapa kali telah kami lalui bersama.  Bahkan hampir dari seluruh hasil reportase saya ditemani olehnya. Sebagai ganti, saya akan menemaninya menyelesaikan reportase. Begitu cara kami menyelesaikan Job Dim’s . Tanggung jawab tetap kami pegang sendiri tapi secara lapangan kami saling menemani. Saking seringnya kami berburu berita bersama, kami punya beberapa pengalaman lucu dan unik yang akan selalu terkenang.  Kejadian unik yang sering kami alami adalah kaset rekaman habis atau recorder yang berhenti merekam akibat baterai melemah saat wawancara tengah berlangsung.  Padahal tak urung narasumber kami termasuk orang – orang penting.  Yang masih kuingat tajam, kala itu tengah berlangsung wawancara bersama Prie GS salah seorang budayawan sekaligus pimpred tabloid Cempaka dan penulis dengan salah satu buku terbitannya “Hidup itu keras, maka gebuglah”. Seingat saya sebelum kami tiba dikantor tabloid Cempaka kami sudah mengecheck secara menyeluruh berbagai piranti yang akan kami gunakan. Bahkan saat kami menunggu Redaksi Cempaka selesai meeting saya cek recorder berkali-kali, dan saat wawancara berlangsung menjadi bukti bahwa prepare kami kurang maksimal. Dan yang membuat kami bertambah malu adalah saat Prie GS berkata “Kenapa? Baterainya habis ya?” duh. Kenapa harus Prie GS? Kenapa bukan saat wawancara anak jalanan, atau pedagang pasar, atau siapalah asal bukan para raja tulisan.  Sepertinya beliau saat berpengalaman dan mengerti sekali kendala-kendala reportase. 
Beda lagi saat kami mewawancarai salah satu alumni Polines yang dari tampangnya masih tak beda jauh dari kami.  Saat itu permasalahnya seputar tender atribut warna illegal. Yang lucu, kami sering mengulang pertanyaan yang sama.  Di awal saya tanya tentang A, selesai di jawab Mita mengulang lagi pertanyaan tersebut, dan sebaliknya.  Tambah anehnya lagi bukan membenarkan arah pertanyaan malah spontah kami bersitegang “Lho tha, kan tadi aku dah tanya itu” kata saya memotong wawancara “lho iya ta” balas itha. Mas mas narasumber terheran melihat kami saling adu argumen sendiri (heheheh menurut saya kami kurang professional, hmf). 
Kami mewawancarai berbagai kategori orang, sastrawan, penyiar, politikus, birokrat, budayawan, komunitas, dan lain-lain. Kami memotret berbagai gerak gerik kehidupan, tokoh, alam, jalan, pasar, rambu-rambu, plang nama, yang esensinya belum tentu tercetak di produk Dimensi.  Perjalanan pulang dari berkelana kami sering mencari warung makan mie ayam yang enak tapi murah. Mie yang  kami makan saat itu tetap terasa beda dengan mie-mie yang saya makan sekarang, rasanya selalu terkenang.

Dan dikolaborasikan oleh Putri Nurwita dan Mila
Putri adalah seorang yang saya kenal memiliki hati dan passion terhadap tulisan. Putri lebih fleksible menghadapi rangkaian kata. Bisa menjadi hard news, feature news, feature, dan sepertinya beberapa sastra, hanya saja saya kekurangan referensi soal sastra buatannya.  Di mata saya putri  akrab dengan feature news. Dan suka dengan isu sosial. Saya dan dia lahir di tahun yang sama namun menghadapi tahun yang berbeda, oleh karenanya saya kurang memahami betul bagaimana putri. Kami pernah melakukan reportase bersama, tapi hanya beberapa kali.  That’s Putri! She’s simple, “easy going/take it easy” person & independent.
Dan terakhir yang ingin saya sebut adalah Milla H.Zahra. Begitulah dia menuliskan namanya di account FB.  Mengingat nama Mila H Zahra saya jadi teringat satu hal. Dahulu ketika saya PKL seorang staff karyawan di perushaan tempat saya PKL bertanya “Cita-cita mau jadi apa, dek?” kontan saya jawab Penulis,bu!” tegas saya. “waah bagus donk, namanya saja sudah seperti penulis ..” lanjut beliau menyebutkan nama panjang saya.  Saya sadar ungkapan itu tidak mengandung keseriusan, tapi saya membuatnya unik karena setelahnya saya mulai berfikir, apa nama saya pantas terpampang dalam sebuah buku sebagai pengarang? Kemudian iseng saya berfikir nama-nama lain yang kiranya pantas terpampang.  Semua nama saya masukkan, Putri Nurwita, Amitha Cahya , Ershad Yanuar, Wahyu setyadi, Mila H Zahra dan bahkan Pilih Kondang Paramarta…ha dan semuanya.  Ternyata nama-nama tersebut cukup unik dan pantas-pantas saja andai kata kelak menjadi penulis besar, hahahahaa... sebuah hal kecil yang tidak terlalu penting tapi unik bagi saya.  Karena hal itupula saya menuliskan nama saya full tanpa samaran disetiap account social yang saya miliki.  Pemahaman saya adalah itu salah satu bentuk promosi dimana nama saya secara perlahan diingat oleh masyarakat kebanyakan.
Back to Mila.  Jujur saya kekurangan referensi mengenai tulisan Mila. Bahkan untuk menulis tentang Mila saya harus membuka kembali majalah terbitan angkatannya.  Secara keorganisasionalan kami terpaut 2 tahun jadi tak banyak interaksi langsung yang kami lakukan, bahkan untuk sekedar reportase.  Saya melihat Mila sebagai sosok yang pandai dalam tulisan.  Satu yang saya suka darinya adalah dia bisa berfikir lebih dari orang biasa fikir(itu menurut saya).  Salah satu cerpennya yang pernah saya baca sangat imaginatif, mungkin dia menyukai hal–hal absurb.  Bila di implementasikan kedalam sebuah karya, yang muncul adalah Buku-buku sejenis Harry Potter, atau karya sastra macam Tetralogi Akar dari Dee (Dewi Lestari).  Soal sastra sendiri, saya tidak banyak menemui karya sastranya.  Mungkin celotehannya di fb bisa dikatakan sebagai salah satu sisi kecil sastranya Mila :P  Beda kan update statusnya Putri dan Mila :D
Dimata saya Putri dan Mila adalah para indie writer.  Mereka sangat kuat pada ide, dan lebih diperkuat pada gaya bahasa. Mereka juga rapih dalam mengeksekusi ide menjadi tulisan. Saya mengakui ide tulisan mereka lebih kuat dari tulisan saya.  Secara pribadi pula saya lebih suka menyebut mereka sebagai independener dibandingkan idealiser karena, dalam kaca mata saya idealis terdengar dekat dengan egois. Suatu paham yang mementingkan diri sendiri, menganggap dirinyalah yang benar dan memandang rendah pemahaman oranglain.  Jadi Putri dan Mila itu independen dan bukan Idealis, buat saya! Seperti halnya crew dimensi yang lain secara pribadi saya lebih prefer dengan kata Independen dibanding Idealis. 

Begitulah Dimensi, bukan hanya di isi oleh mereka saja yang aktif dalam setiap kegiatan, atau para pakar-pakar organisasi yang mungkin banyak disebut-sebut dan di elu-elukan namanya dari tulisan teman-teman yang lain.  Tapi juga orang-orang yang mencintai huruf dan kata semenjak mereka lahir. Yang turut mewarnai dan mengisi produk Dimensi. Yang pada awal kali melihat Dimensi sebagai rumah yang selama ini mereka idam-idamkan. Dan entah apa kata dunia! Penghianat, pecundang, penakut, looser atau apalah! Tak mengurangi kecintaan mereka akan huruf dan kata yang memang sudah terbangun semenjak mereka hadir di dunia ini. 
Anggota Redaksi memang bukan hanya 5 orang seperti yang saya sebutkan diatas, tentulah banyak dan mungkin tak bisa saya sebut satu persatu, tapi semua anggota redaksi memposisikan diri mereka sebagai reporter dan writer yang baik.  Slalu berusaha menulis sesuai koridor dan kaidah tatanan bahasa (meski banyak yang harus di edit) dan berusaha memenuhi renggang waktu deadline yang ada.
Bila mana saya ditanya mana yang lebih saya sukai saat menjadi reporter ataukah sebagai Pimred saya akan kembalikan pada koridor fungsionalnya.  Menurut saya keduanya memiliki arah dan tujuan masing-masing walaupun tetap dalam satu wadah&satu tatanan yang sama.  Saat menjadi reporter saya merasa lebih bebas berekspresi, memaksimalkan ide dan menginterpretasikannya dalam bentuk tulisan.  Bisa dengan kata lain, lebih fokus pada hal tertentu.  Sedangkan menjadi Pimred itu adalah pembelajaran ketidakegoisan hidup,plan control management yang tak luput dari deadline. 
Untuk “Dimensi dalam Dimensi” itu sendiri saya harus membuka seluruh produk Dimensi yang saya punya.  Majalah dan tabloid saya baca kembali, saya malah baru teringat pernah menulis beberapa artikel yang saya sendir lupa. Lho pernah nulis ini toh? Ko’ begini yah? Knp arahnya seperti itu? Kenapa ga’ tak lanjutin lebih dalam? Duh parah banget editannya, wew bahasanya uiIhhh,,,,haahahah gila neh article!! Begitulah exspresi yang saya dapat.  Memang banyak kekurangan, dan tidak sempurna apalagi itu hampir 5 tahun berlalu. Tapi join di Dimensi adalah sebuah pembelajaran dan pengalaman hidup, karena Dimensi adalah sebuah miniatur kehidupan. Because -The Purpose of life is to live it, to taste experience to the utmost, to reach eagerly without fear for newer and richer experience

No comments:

Post a Comment

Review Novel To Kill A Mocking Bird

Doc. irerosana Perlu waktu yang tidak sebentar bagi Amerika untuk mendewasakan diri, menerima bahwa warna kulit bukanlah sesuatu ya...