February 20, 2013

“Kita”, cukup!


Untukmu yang selalu ada melindungi, dan membagi waktu denganku, lalu aku menyebutmu Dewa
Kata setelahnya adalah bonus untuk kau tambahkan sendiri, pelindung, hati , cinta atau mungkin kehidupan, bebas semaumu! 
Adakah hal yang lebih menawan melebihi kebersamaan kita? Adakah kisah yang lebih klasik yang melebihi cara kita membunuh waktu bersama? Duka dan tawa kita adalah tak sekedar sedang membagi cinta. Cinta itu kita urai, dan kita terbangkan bersama angin utara. Cinta itu kita tampar, sekeras tamparan ombak kepada bibir pantai. Kita mengukir cinta itu sendiri, diluar konteks yang selama ini dibangun para pujangga.  
Kita mangkir dari kisah Romeo dan Juliet, Laila Majnun bahkan Ainun Habibie.  Hmmm ,,, betapa sempurnanya kisah mereka, tapi kita memilih membelakanginya.  Dan kau yang mengajarkanku berkhianat terhadap hakikat cinta yang ada. Melalui setiap kata yang terpancar dari kedua matamu, kau percayakan aku akan istana cinta kita yang lain. Yang kau sebut “Kita” cukup. Kau tak ingin aku percaya pada kisah-kisah dongeng dunia, karna bagimu cinta itu lebih keras dari itu semua. 
katamu aku tak perlu terlena dengan cinta, karna kau bisa memberikan gantinya.  Katamu roman picisan itu fana dan cintamulah yang nyata. Biarpun aku sering menyangkal, tapi aku memilih diam dan merenungi setiap ucapmu.  Selama kau masih meminta keberadaanku, cukuplah untukku.  
Kucukupkan hatiku dengan membantumu mencintai anak-anak yatim itu, yang entah siapa gerangan yang membuat mereka hadir di dunia ini, kucukupkan cintaku dengan setia mengantamu menyebar separuh gajimu kepada setiap insan lemah ditepi jalan diseluruh penjuru kota.  Kucukupkan inginku untuk memilikimu lebih lagi karena aku melihat dunia begitu mencintaimu. Dan akupun bisa berkata cukup. Cukup melihatmu bercengkerama dengan dunia. Cukuplah kau mencintaiku dengan caramu. 
Dan aku ingat saat aku bertanya apa kau mencintaiku, untuk keseribu kalinya kau jawab “TIDAK”. Huft,,Kebohongan yang indah!
Lalu kutanya “Berapa besar kau mencintaiku?”,
Kau jawab “Aku tak ingin mencintaimu seperti Habibie mencintai Ainun, karena aku tak bisa membuat pesawat untukmu, aku tak mencintaimu seperti Romeo yang rela mati untuk Juliet karna aku ingin hidup untukmu, aku tak ingin mencintaimu seperti Majnun yang menggilai Laila karena aku tak segila itu”.
“Hmmm...lalu seperti apa kau mencintaiku?” tanyaku kemudian.
Kau jawab “ Bila aku menjadi JK Rowling dan sanggup memutar cerita dan menjadikan Harry jatuh hati kepada Hermonie, atau Stephenie Meyer mengubah Cinta Bela menjadi milik Jacob, mungkin bila aku sanggup melakukannya, akupun sanggup merubah jalan cerita hidup kita”. 
Mungkin benar kata “tidak” itu.  Kau tidak mencintaiku seperti imajinku, kau mencintaiku seperti kau mencintai dunia, kau cintai mereka semua, kau cintai kehidupan.  Tapi aku tak sanggup pergi darimu, seperti Shruti Gosh yang tak sanggup meninggalkan Barfi.  Karena kau menjadikannya cukup, cukup untuk ku mendapat segalanya, hingga aku tak iri lagi dengan pasangan yang disatukan para peri cinta.  Entah apa ini, entah cinta model apa yang tengah kita jalani.  Tapi, sekalipun seribu kali kau inginkan aku pergi, aku merasa kau sendiri mencukupi hatiku dengan semua yang kau miliki. Bagaimana aku bisa pergi? Bagaimana aku menuai keindahan cinta yang lain bila dihadapanku ada keindahan-Nya yang tak ternilai.   Aku & kamu cukup, kita cukup.

No comments:

Post a Comment

Perkara Makan dan Saudaranya

Makan adalah perkara rumit dalam hidup saya. Ini tak semudah seperti yang digambarkan orang-orang yang berkata bahwa itu hanya soal ...