22 Maret 2013

Merlion Park dari Mata Saya

Entah berapa kali saya mengetik "Merlion Park" di Google.  Entah berapa kali pula saya mendownload dan membuka tutup hasilnya di folder saya.  Kali ini benar-benar syukur alhamdulillah bisa mengabadikan Merlion Park asli sejati, cetar membahana badai (minjem dari teh Syahrini, he) langsung dari kedua mata saya. 


That's real from my eyes! pakai kamera HP yang minim lagi.  Sebenarnya penasaran pas malam hari akan jadi seperti apa, tapi dapatnya jatah siang (sedikit kecewa) but It's ok.
Hm..mana hari lagi panas-panasnya lagi, kalau ng' pakai kaca mata hitam susah melek. Riuh ramai pengunjung juga ga' kalah panas. Just 15 minutes there! It's enough to take some pics only but not for enjoying the view. Saking padat riuhnya dan terbatasnya waktu jadi lupa keadaan disana bagaimana. Kapan ya bisa balik sana lagi di malam hari? #semoga

 Sibuk foto-foto malah tidak sempat membaca tulisannya. Tapi masih bisa dibaca sedikit ya. I really like that pic,thank's for Mitha !


Saya sendiri heran kenapa posenya begitu? seingat saya mau pose seolah-olah terpelanting karena pancuran airnya.  Tapi lumayan lah! (lumayan aneh maksudnya,,he).  Foto Mita lebih manis lagi sayang tidak bisa saya pajang karena belum bilang orangnya langsung.  Foto dia lagi menghadap ke patung dan menengok kebelakang sembari tersenyum manis gitu sembari tangannya seperti menyentuh pancuran air dari si patung. Pokoknya lucu banged. Untuk bisa mendapatkan foto full tanpa ada gangguan orang lewat sekitar kami harus mengantri bergantian dengan pengunjung-pengunjung lain yang juga ingin melakukan hal yang sama.  Mitha sempat bete karena 2 kali saya foto dia, selalu saja ada tas orang masuk or kepala orang (he sorry tha, habis orangnya pada lewat melulu).  Orang sana pun berpose aneh-aneh ada yang mangap dari samping yang tentunya ingin mengambil momen sedang minum airnya, ada yang menadah air dan banyak lagi.


Kelihatan sepiii gitu ya. Padahal depannya ramai orang. Begitu kosong langsung lari buat foto (niat banget!). Disana mah udah narsis narsis aja, orang-orang ga' akan memandang aneh. Lagian ga' kenal juga.  
Untuk foto yang pertama tadi memang pakai kamera HP saya tapi foto-foto selanjutnya ini tentunya pakai kamera SLR punya mitha.
Begitulah Merlion Park dari arah mata saya.  Ya itu tadi, pengen mengulang kesana di malam hari #semoga.

20 Maret 2013

Belanja di Bugis Street & Mustafa Centre Singapore

Seminggu yang lalu jam segini saya dan Mitha masih di hotel 81 Dickson, merebahkan diri dan siap berkemas menuju Bugis street.  Rasanya belum puas kami menelusuri Bugis Street hanya dalam waktu 45 menit.  Selesai mandi dan merapihkan diri, kamipun berangkat. Berbeda dengan sebelumnya yang mana kami diantar agen, kali ini kami berjalan kaki karena jadwal dari agen untuk hari pertama sudah finish.  Saya sendiri mau melanjutkan pemburuan oleh-oleh ditempat tersebut.  Mitha lebih prepare lagi, sudah siap dengan list nama-nama orang yang mau dibelikan dan nama barang yang akan dibeli.  Berada di Bugis street yang riuh ramai memang mengaburkan fokus kita, catatan-catatan kecil memang dirasa cukup berarti.  
Benar juga kata Agi, di Singapore sama aja seperti mangga 2. Berbekal info-info dari teman, saya bertekad untuk tidak terpengaruh membeli barang-barang yang notabene juga bisa ditemukan di Indonesia. Baiknya cari barang yang merupakan icon Singapore dan cuma bisa ditemukan di Singapore.  Tentu saja gantungan kunci menjadi solusi jitu para traveler.  Karena daftar orang saya banyak, pikiran saya langsung Fokus melihat gantungan kunci, dimana gantungan kunci, dimana gantungan kunci. Ahaaa!!!! akhirnya saya temukan juga.  10$ for 3 bukan yang ini, 10$ for 18 naahh..!! ini dia yang saya cari, hehehe 10$ dapat 18 lumayan irit.  Tahap awal beli 10$ dulu. 
"Aku nyari tas Tha, kalo' pas liat berenti dulu ya," kataku.  Mencari-cari tas yang cocok tapi murah (dasar!) 40$ for 2. Hmm..kenapa ya, tiap saya liat angka 10$ & 40$ bawaannya keinget 10ribu ma 40ribu melulu ya? wait, coba dihitung 40$ berarti sekitar 312.000 rupiah dapet 2 hmm murah sih, tapi sama saja dengan di Indo secara ini bukan tas Merk.

   

Karena masih awal saya gengsi mau milih 1dan langsung beli, nanti aja lah, kan belom keliling semua (nyesel :( ! ).  Intinya disana kita sibuk2 nyari oleh-oleh, dan harus dipuas-puasin.  Bugis tutup jam 11 malam kalau tidak salah jadi kami harus pandai-pandai memanage waktu agar bisa keluar dan mendapat semua barang tepat waktu.


Bugis street mirip dengan pasar.  Benar-benar seperti pasar di Indonesia adanya.  Ini seperti Pasar Raya salatiga atau Johar Semarang. Di Bugis, kebanyakan yang saya lihat adalah orang-orang keturunan China, Melayu dan sedikit India&arab. Seperti silsilah penduduk aslinya yang memang perpaduan dari suku-suku tersebut. Jarang rasanya melihat bule di Bugis.



Mitha kembali memilih-milih kaos.  Pengennya dia kita patungan gitu, karena semakin banyak beli semakin murah, tapi saya hitung-hitung budget, kaos tersebut terlalu mahal untuk oleh-oleh (maklum kaum minim) apalagi sebelumnya Mr. Sam (Travel agen+driver kita) mengantar kita ke sebuah toko baju murah 10$ for 3 jadi kerasa bedannya (walaupun yang mahal secara kualitas memang lebih baik). 


Cuma bisa beli 3 pcs untuk Bokap dan 2 orang adek. Sepertinya yang jual keturunan China (keliatan dari mukanya).  Key, merasa cukup dan larut, kami segera keluar dan menyempatkn membeli juice 1$ di salah satu pintu keluar Bugis.  Begonya saya, udah tau ada namanya masing-masing saya asal tunjuk ternyata yang saya beli juice asam (haduh..!!)

Yang saya tahu, tempat shopping murah di Singapore itu ada Bugis, China town ma Mustafa centre. Tapi sepertinya kami tak punya cukup waktu untuk mengunjungi ketiganya, akhirnya saya dan Mitha sepakat melepas China Town dari daftar kunjungan dengan alasan barang-barang China sudah ada dimana-mana (apalagi beberapa tahun lalu Mitha juga lepas pulang dari China).

Hari kedua kami habiskan di Sentosa hingga malam, barulah tengah malam kami berjalan kaki menuju Mustafa Centre yang memang tak jauh dari hotel kami (tapi kaki ko' pegel-pegel).  Kami tempatkan Mustafa di hari kedua tengah malam karena katanya itu tempat buka 24 jam, sedangkan tempat-tempat lain seperti Ochard&Bugis hanya sampai jam11 malam.  Walhasil, kami shoping hingga dini hari (seumur hidup baru pertama kali shopping hingga dini hari.)


Dibanding Bugis yang saya nilai seperti pasar, Mustafa lebih tertata dan rapi. Di Indonesia sendiri bisa dikatakan seperti Mall kecil.  Bila di Bugis dikuasai kebanyakan oleh baju-baju, di Mustafa layaknya Mall berisi barang-barang kebutuhan, tas, snack/makanan dan beberapa accecories untuk oleh-oleh.  Secara harga tentunya lebih miring di Bugis, begitu hasil pengamatan saya.  Di bugis gantungan kunci  berharga 10$ untuk 18 pcs, sendang di Bugis 3.5$ untuk 6PCS (lebih mahal 0.5$).  Untuk barang-barang lain lebih tinggi lagi bedanya.  Cermin yang di Bugis bisa dapat 3 dengan 10$ di Mustafa bisa mencapa 5$ per PCS nya. Setelah muter-muter dan kedinginan, akhirnya saya malah membeli sebuah tas berharga 19$ dan sebuat notes 2.8$.  Mitha sudah memperingatkan saya berkali-kali untuk apa membeli Notes toh di Indo juga ada. Hmm..tapi gimana ya namanya juga penggemar notes itung-itung belinya di Singapore,hehehe.  

Paginya sebelum berangkat ke bandara saya meminta kembali ke Mustafa karena masih ada sisa uang 12$ (saya pikir mo buat apa, ditukar juga cuma dapat sedikit) lebih baik saya belanjakan gantungan kunci dan bolpoin imut ala Singapura. Dan akhirnya itulah terakhir kalinya kami belanja murah di Singapore.

Ternyata niat foto-foto tanpa banyak belanja secara halus terpendam sendiri oleh gemerlapnya oleh-oleh.  Tetep kalau disana mau tak mau, sedikit or banyak pasti belanja.  Toh jauh-jauh kesana masa tidak membeli kenang-kenangan barang sedikit?? hmm dasar wanita!

Oh ya, Ochard?! kami tidak ada jadwal kesana.  Bila mau kesana Mr Sam minta tambahan 30$ lagi (busyet!!) akhirnya karena Mitha sangat ingin kesana, kita berdua nekad ke Ochard naik Bus. Tapi sayang sampai di Ochard sudah lewat 11 malam, semua sudah tutupan :( bagaimana cerita serunya perjalanan ke Ochard, simak artikel berikutnya :)

8 Maret 2013

My “Pre” -Journey to Singapore




Lagi sibuk prepare journey to Singapore, neh.  Ini akan menjadi pengalaman pertama saya terbang ke Singapore.  Pertama kalinya naik pesawat, pertama kalinya menginjakkan kaki diuar negeri, dan pertama kalinya liburan terjauh dan ternekat yang pernah saya lakukan (berangkat berdua aja sama Mitha).  Karena baru pertama kali, persiapannya sangat blibet, dari ribet buat passpor , nyari biro murah, mantau promo tiket pesawat, mantau nilai kurs dollar, dan tentunya googling nyari tahu model-model tempat wisatanya, tips-tips, dan semua hal dari para blogger yang sudah pernah berkunjung kesana.  Beruntung sekarang ada google, jadi apaapun kendala dan kesulitan saya langsung saya alamatkan ke google.  (Thank you so much google :) )

Mungkin buat para traveler, liburan Cuma 3hari 2 malam di Singapore bukan sesuatu hal yang besar, pasalnya lokasinya masih dekat dengan Indonesia dan administrasinya tidak mblibet seperti halnya ke negara-negara lain, tapi bagi pemula seperti saya yang notabene belum pernah sama sekali, terasaaaaa….. banget nervous-nya (kaya’ mau ketemu pacar aja! Ketemu pacar aja ga’ senervous ini kali!).  Bukan tegang mau ketemu Singaporenya, tapi takut alur perjalanannya.  Secara saya awam dengan Bandara apalagi Soekarno Hatta yang terkenal sebegitu luasnya.  Beruntung Mitha yang awalnya memutuskan berangkat dari Jogja bertolak jadi berangkat dari Semarang, setidaknya saya bisa berangkat dari Ahmad Yani bareng dia, jadi di Jakarta “aman”. 

4hari menjelang keberangkatan, berulang-ulang saya memutar otak mencoba menerka-nerka apa yang kurang. Barang apa yang masih belum di bawa? Beruntung saya buat notes sedari lama sekali, ternyata note tersebut bermanfaat disaat saat sekarang dimana pikiran saya campur aduk dan tidak bisa berfikir jernih. 

Oleh-oleh.  Itu salah satu yang mengganjal pikiran saya, beberapa hari saya tengah sibuk mencari tahu harga oleh-oleh dan sibuk mencatat pesanan orang-orang.  Takutnya ternyata haarganya melebihi budget perkiraan.  Kata “Oleh” yang diulang 2 kali tersebut memang sedikit memberatkan pikiran saya, gantungan kunci 1,2,3,….. kaos 1,2,3…bla bla bla saya tengah sibuk mencatat apa saja pesanan orang-orang.  Duh duitnya sampe’ ga’ ya? Hitung keperluan, hitung uang, hitung keperluan, hitung uang.  Begitulah kegiatan saya samban hari pra keberangkatan.  Hingga kepala saya pusing!

Ditengah-tengah kepeningan saya, saya jadi ingat, oh iya kenapa saya malah sibuk mikirin duit dan oleh-oleh.  Hmmm … saya tersenyum tawar.   Waa ini sudah mulai menyimpang dari alur utama neh.  Tujuan saya kesana kan untuk melepas penat, refresing, meletakan beban pekerjaan sejenak, merasakan aroma udara di Luar Indonesia. Menyantap pemandangan lain yang belum pernah saya lihat sebelumnya, berpetualang dan menginterpretasikannya dalam bentuk tulisan. Kenapa saya disibukkan oleh hal-hal diluar itu ? ahh…..dasar dunia! Dasar saya! Akhirnya saya memutuskan untuk focus, istilahnya Leo Babauta focus free (saya coba baca kembali articlenya Leo yg bisa di download free di webnya zenhabitshttp://zenhabits.net/) dan istilahnya Tukul kembali ke laptop, CATAT! Focus ke tujuan awal and don’t let any distraction disturbing you! Noted!

Sampai detik ini persiapan sudah 80%.  Hari ini Mitha bilang dia bawa banyak tas, koper, tripod, tas kamera SLR, tas buat pergi-pergi, busyet banyak amat ya!.  Saya saja yang awalnya minjem tas jinjing temen akhirnya saya batalkan karena besar dan berat (tasnya aja sudah berat apalagi ada isinya, belom tentu muat masuk cabin juga) akhirnya dengan segala ketelitian saya, beberapa barang bisa saya putuskan masuk almari kembali dan batal ikut (duh sedih kali ya baju-baju yang saya tolak, mereka pasti ngiri karena ga’ bisa ikut ke Singapore :P). 

Ya, sebenarnya saya masih maju mundur soal 2 baju saya yang saya nilai lucu-lucu jadi bingung milihnya. Buat memantapkan diri soal barang bawaan, saya tilik kembali artikel istrinya Pak Leo, Mrs Eva yang tahun lalu sempat menulis Eva’s list: Traveling Light for Women.  Garis besarnya memang banyak list yang kurang cocok dengan saya, secara adat dan budaya kita beda, apalagi saya pakai jilbab, tapi hmmm kata-kata ini sedikit memecut saya “I realized that it’s OK to wear the same things over and over again. No one cares what you are wearing. They’re too busy having a good time to even notice” yah kenapa saya jadi sibuk milih baju lucu-lucu dan ingin membawa semuanya, orang-orang ga’ akan care sama pakaian saya, mana peduli mungkin melirik saja tidak, so buat diri senyaman mungkin aja. 

Mitha bilang sih dia ngepack sesimple mungkin (kecuali peralatan kamerannya dia yg emang komplit).  Celana satu bisa dipakai berkali-kali, beli cancut kertas aja jadi bisa langsung buang, ga’ usah bawa makanan ntar beli disana. Tapi kalau saya lihat kantong saya, ternyata sangat tipis jadi saya putuskan membawa barang yang mungkin bisa mengurangi budget pengeluaran saya disana.  List prepack saya sbb :
1.      1 Jeans, 3 baju, 3 jilbab, sepasang baju tidur, celana kain cadangan (banyak juga ya?!)
2.    Netbook + Charger (memang memberatkan tapi satu2nya koneksi aman dan mudah yang bisa saya gunakan untuk komunikasi dengan keluarga di sini)
3.     Obat-obatan: obat magh( takut telat makan), antimo (takut mabuk), tolak angin (kenapa juga saya baya ya?!), salonpas (hehehe ini selalu menemani perjalanan saya) ma Hansaplast( siapa tahu terluka mendadak dijalan)
4.    Alat mandi :Handuk (saya serching google ada yg bilang di hotel yg mau saya tempati tidak menyediakan), shampoo, sabun , pasta gigi (ngirit biar tidak beli)
5.      Kosmetik  : Bedak, lipstic, parfum, eyeshadow, eyeliner.
6.      Accecories : Bross+peniti secukupnya untuk jilbab
7.      Tisu kering dan basah
8.      Kantong plastic (jaga-jaga bila diperlukan)
9.      Oh ya jangan lupa kelengkapan administrasi (passpor, tiket boardingpass, KTP)
10.     Flashdish kabel data (untuk backupdata malamnya)
11.     Snack + pop mie (saran dari teman )
12.     Buku + kaca mata 
Ko’ bukan backpacker banged ya? Hmmm….emg sedikit mblibet sih, tapi bila barang-barng itu tidak dibawa, sepertinya ada yang kurang gitu.!

So my itinerary besok antara lain
Day1    : City tour (Merlion Park, China Town, Bugis street, orchid,dkk)
Day2    : USS + Sentosa island
Day3 : Mustafa center sembari nunggu jemputan ke Airport

Saya cari-cari di google blog para traveler, kebanyakan dan prosentase terbesarnya memang mengunjungi tempat-tempat yang tadi disebutkan. Saking banyak dan seringnya nama tempat-tempat tersebut muncul dan diulas di setiap artikel blogger, saya jadi hafal & paham betul mengenai tempat-tempat dalam itinerary saya.  Bahkan, saking banyaknya foto-foto mengenai China Town, Bugis street, Merlion Park yang beredar, saya bisa berimajinasi dan serasa sudah mengelilinginya.  Walhasil saya jadi malas mengunjungi tempat-tempat familiar tersebut.  Saya malah ingin mengunjungi sisi lain Singapura yang tidak banyak diketahui orang.  Jadi bila dijadikan article bisa jadi menarik, kalau soal China Town yang terkenal seantero negeri, sebagus-bagusya saya merangkai kata tetap saja jauh dari kata up to date dan new, dan kalah dengan orang-orang yang lebih dulu membahasnya.

Mungkin untuk kategori negara sudah tidak masuk dalam agenda saya.  Negaranya kurang iconic, unique, dan kurang mempunyai cultur yang kuat. Yah...! begitulah kekuatan keuangan saya yang notabene cuma bisa mengunjungi negeri seberang yang paling dekat dan murah.  Itupun harus menunggu selama 25 tahun baru bisa.  Saya berharap ini tidak menjadi journey terakhir saya, tapi justru pijakan awal untuk lompatan yang lebih jauh lagi.  Tak ada kehidupan yang lebih indah daripada menjadi seorang travel writer (masih ngimpi!) bekerja dan berpenghasilan dari apa yang kita sukai.  Betapa indah & beruntungnya Trinity yang bisa mengelilingi dunia, menjadi traveler dan meninggalkan pekerjaan nyamannya (iri tingkat kronis/stadium 3,,,iriiiiiii banged!!!!).  
Memang saya akui Singapore bukan pilihan (impian) satu-satunya, keputusan tersebut tentunya dari pertimbangan dari beberapa segi, duit, timing, keamanan dll.  Tapi bila boleh dan bebas milih, saya sebenarnya punya destinasi impian sendiri seperti;
1.      Ke Europe pastinya (mana aja, Eropa indah semua kelihatannya)


2.        Dubai
3.        India, he
4.        Jepang
5.        Asia Tenggara mending keliling Indo deh
6.        Argentina (pengen ketemu Lionel Messi)

Kalau dipikir-pikir di Indonesia sendiri lebih eksotis, banyak tempat-tempat wisata yang ber-level internasional.  Sayang, saya hitung-hitung ko’ mahal juga ya budgetnya?  Selesai perjalanan saya kali ini mungkin sementara waktu saya mengincar beberapa tempat di Indo seperti:

1.    Aceh (sumpah dari dulu pengen banget, apalagi lihat kuburan masal dan sekalian ke pulau We.
2.    Toraja, pengen lihat langsung kuburan batu.
3.     Maumere , mengunjungi teman
4.   Raja Ampat pastinya (sayang mahal sekaleee…!!!) bagaimana ya carana bisa liburan ke Raja Ampat dengan budget murah dan akses mudah. Jadi kita-kita ini sebagai WNI (budget paspasan seperti saya ini) bisa melihat juga, tidak melulu orang asing yang kesana.
5.   Karimunjawa, alasannya simple diantara semua tempat yang saya sebutkan diatas tadi ini yang paling dekat dengan tempat tinggal saya, parahnya adalah saya belum pernah kesana L

Wew, malah jadi keliling Indo dan dunia, kembali ke laptop Singapore.  Persiapan saya hampir maksimal, duit sudah ditukar (saya Cuma tukar 1juta kebetulan dollar lagi mahal-mahalnya saya dapat 128$ Singapore), lainnya saya bawa rupiah (trik menghemat supaya bila ingin belanja pikir-pikir lagi).   

Tinggal menghitung hari, berdoa semoga semua lancar, istirahat ckup dan makan yang banyak biar fit (yang ini penting banged!). Doakan saya ya, isnyaAllah saya bawa oleh-oleh cerita unik dan lucu :)

4 Maret 2013

Spion Kehidupan

Menilik spion itu sama halnya dengan menilik kehidupan, itu menurut saya. Jadi, kenapa saya tiba-tiba terinspirasi oleh spion? Sayapun tak tahu namanya juga inspirasi datang tak diundang, pergi tak bilang-bilang! Kembali kepada tema, yaitu mengenai spion dan kehidupan. Menurut saya keduanya saling terkait & saling memberi makna.  Melihat spion artinya kita melihat ke belakang, bukan? Melihat kondisi di belakang kita, apakah ramai, sepi atau ada apa di sana kata lainnya mengintai kejadian di belakang kita.  


Seberapa sering kita menengok spion? Saya sih seperlunya saja.  Bila kita mau keluar /pindah jalur/ berbelok. Bila terlalu banyak melihat spion bisa-bisa nabrak karna jalan di depan kita terlupakan. Sebaliknya, bila tidak melihat spion sama sekali bisa-bisa ditabrak ganti dari belakang. Jadi kita perlu tau timing yang tepat dan intensitas yang tepat pula.  
Begitupun hidup, layaknya spion saya sering menengok ke belakang. Menilik history sebagai pertimbangan, atau sekedar mengenang apa yang pernah terjadi belakangan.  
Ingat spion, ingat bila saya terlalu banyak melihat spion bisa-bisa lupa jalan depan dan tertabrak.  Bila saya terlalu banyak melihat ke masa lalu, bisa-bisa saya lupa dengan masa depan. Atau bila saya terlalu focus melihat masa depan tanpa sedikitpun menengok ke belakang, bisa-bisa saya dihantam kesalahan dari masa lalu. Semua harus saya usahakan stabil dan seimbang.  Begitulah arti hidup melalui spion. 

Begitu pula mengapa Pak Polisi gencar mewajibkan setiap pengendara motor memasang spion, biar pada sadar diri, dan istropeksi bahwa kecelakaan bisa terjadi kapan saja tanpa melihat spion(Lhoh!?) 
Lha, bagaimana dengan motor-motor yang tak ber-spion? ya, siap-siap saja nabrak atau ditabrak dari belakang :D

Review Novel To Kill A Mocking Bird

Doc. irerosana Perlu waktu yang tidak sebentar bagi Amerika untuk mendewasakan diri, menerima bahwa warna kulit bukanlah sesuatu ya...