20 Maret 2013

Belanja di Bugis Street & Mustafa Centre Singapore

Seminggu yang lalu jam segini saya dan Mitha masih di hotel 81 Dickson, merebahkan diri dan siap berkemas menuju Bugis street.  Rasanya belum puas kami menelusuri Bugis Street hanya dalam waktu 45 menit.  Selesai mandi dan merapihkan diri, kamipun berangkat. Berbeda dengan sebelumnya yang mana kami diantar agen, kali ini kami berjalan kaki karena jadwal dari agen untuk hari pertama sudah finish.  Saya sendiri mau melanjutkan pemburuan oleh-oleh ditempat tersebut.  Mitha lebih prepare lagi, sudah siap dengan list nama-nama orang yang mau dibelikan dan nama barang yang akan dibeli.  Berada di Bugis street yang riuh ramai memang mengaburkan fokus kita, catatan-catatan kecil memang dirasa cukup berarti.  
Benar juga kata Agi, di Singapore sama aja seperti mangga 2. Berbekal info-info dari teman, saya bertekad untuk tidak terpengaruh membeli barang-barang yang notabene juga bisa ditemukan di Indonesia. Baiknya cari barang yang merupakan icon Singapore dan cuma bisa ditemukan di Singapore.  Tentu saja gantungan kunci menjadi solusi jitu para traveler.  Karena daftar orang saya banyak, pikiran saya langsung Fokus melihat gantungan kunci, dimana gantungan kunci, dimana gantungan kunci. Ahaaa!!!! akhirnya saya temukan juga.  10$ for 3 bukan yang ini, 10$ for 18 naahh..!! ini dia yang saya cari, hehehe 10$ dapat 18 lumayan irit.  Tahap awal beli 10$ dulu. 
"Aku nyari tas Tha, kalo' pas liat berenti dulu ya," kataku.  Mencari-cari tas yang cocok tapi murah (dasar!) 40$ for 2. Hmm..kenapa ya, tiap saya liat angka 10$ & 40$ bawaannya keinget 10ribu ma 40ribu melulu ya? wait, coba dihitung 40$ berarti sekitar 312.000 rupiah dapet 2 hmm murah sih, tapi sama saja dengan di Indo secara ini bukan tas Merk.

   

Karena masih awal saya gengsi mau milih 1dan langsung beli, nanti aja lah, kan belom keliling semua (nyesel :( ! ).  Intinya disana kita sibuk2 nyari oleh-oleh, dan harus dipuas-puasin.  Bugis tutup jam 11 malam kalau tidak salah jadi kami harus pandai-pandai memanage waktu agar bisa keluar dan mendapat semua barang tepat waktu.


Bugis street mirip dengan pasar.  Benar-benar seperti pasar di Indonesia adanya.  Ini seperti Pasar Raya salatiga atau Johar Semarang. Di Bugis, kebanyakan yang saya lihat adalah orang-orang keturunan China, Melayu dan sedikit India&arab. Seperti silsilah penduduk aslinya yang memang perpaduan dari suku-suku tersebut. Jarang rasanya melihat bule di Bugis.



Mitha kembali memilih-milih kaos.  Pengennya dia kita patungan gitu, karena semakin banyak beli semakin murah, tapi saya hitung-hitung budget, kaos tersebut terlalu mahal untuk oleh-oleh (maklum kaum minim) apalagi sebelumnya Mr. Sam (Travel agen+driver kita) mengantar kita ke sebuah toko baju murah 10$ for 3 jadi kerasa bedannya (walaupun yang mahal secara kualitas memang lebih baik). 


Cuma bisa beli 3 pcs untuk Bokap dan 2 orang adek. Sepertinya yang jual keturunan China (keliatan dari mukanya).  Key, merasa cukup dan larut, kami segera keluar dan menyempatkn membeli juice 1$ di salah satu pintu keluar Bugis.  Begonya saya, udah tau ada namanya masing-masing saya asal tunjuk ternyata yang saya beli juice asam (haduh..!!)

Yang saya tahu, tempat shopping murah di Singapore itu ada Bugis, China town ma Mustafa centre. Tapi sepertinya kami tak punya cukup waktu untuk mengunjungi ketiganya, akhirnya saya dan Mitha sepakat melepas China Town dari daftar kunjungan dengan alasan barang-barang China sudah ada dimana-mana (apalagi beberapa tahun lalu Mitha juga lepas pulang dari China).

Hari kedua kami habiskan di Sentosa hingga malam, barulah tengah malam kami berjalan kaki menuju Mustafa Centre yang memang tak jauh dari hotel kami (tapi kaki ko' pegel-pegel).  Kami tempatkan Mustafa di hari kedua tengah malam karena katanya itu tempat buka 24 jam, sedangkan tempat-tempat lain seperti Ochard&Bugis hanya sampai jam11 malam.  Walhasil, kami shoping hingga dini hari (seumur hidup baru pertama kali shopping hingga dini hari.)


Dibanding Bugis yang saya nilai seperti pasar, Mustafa lebih tertata dan rapi. Di Indonesia sendiri bisa dikatakan seperti Mall kecil.  Bila di Bugis dikuasai kebanyakan oleh baju-baju, di Mustafa layaknya Mall berisi barang-barang kebutuhan, tas, snack/makanan dan beberapa accecories untuk oleh-oleh.  Secara harga tentunya lebih miring di Bugis, begitu hasil pengamatan saya.  Di bugis gantungan kunci  berharga 10$ untuk 18 pcs, sendang di Bugis 3.5$ untuk 6PCS (lebih mahal 0.5$).  Untuk barang-barang lain lebih tinggi lagi bedanya.  Cermin yang di Bugis bisa dapat 3 dengan 10$ di Mustafa bisa mencapa 5$ per PCS nya. Setelah muter-muter dan kedinginan, akhirnya saya malah membeli sebuah tas berharga 19$ dan sebuat notes 2.8$.  Mitha sudah memperingatkan saya berkali-kali untuk apa membeli Notes toh di Indo juga ada. Hmm..tapi gimana ya namanya juga penggemar notes itung-itung belinya di Singapore,hehehe.  

Paginya sebelum berangkat ke bandara saya meminta kembali ke Mustafa karena masih ada sisa uang 12$ (saya pikir mo buat apa, ditukar juga cuma dapat sedikit) lebih baik saya belanjakan gantungan kunci dan bolpoin imut ala Singapura. Dan akhirnya itulah terakhir kalinya kami belanja murah di Singapore.

Ternyata niat foto-foto tanpa banyak belanja secara halus terpendam sendiri oleh gemerlapnya oleh-oleh.  Tetep kalau disana mau tak mau, sedikit or banyak pasti belanja.  Toh jauh-jauh kesana masa tidak membeli kenang-kenangan barang sedikit?? hmm dasar wanita!

Oh ya, Ochard?! kami tidak ada jadwal kesana.  Bila mau kesana Mr Sam minta tambahan 30$ lagi (busyet!!) akhirnya karena Mitha sangat ingin kesana, kita berdua nekad ke Ochard naik Bus. Tapi sayang sampai di Ochard sudah lewat 11 malam, semua sudah tutupan :( bagaimana cerita serunya perjalanan ke Ochard, simak artikel berikutnya :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Review Novel To Kill A Mocking Bird

Doc. irerosana Perlu waktu yang tidak sebentar bagi Amerika untuk mendewasakan diri, menerima bahwa warna kulit bukanlah sesuatu ya...