26 Agustus 2013

Call me "Mam"




Seminggu lagi atau selambat-lambatnya sebulan lagi, sepertinya aku akan kembali dipanggil “mam”.  Mam disini berbeda dengan Mom, Mam artinya orang yang dianggap Ibu namun tidak terikat darah. Bila di bahasa Indonesiakan adalah “Bu”, “Bu” untuk bu guru dan bukan “Bu” untuk Ibu (wanita melahirkan). 

Rupanya Allah SWT sungguh benar menyayangiku.  Biarpun hampir keseluruhan temanku sudah dipanggil “Mom”,”Mami”,”Bunda” atau bahkan “Umi” oleh darah daging mereka, tapi aku juga masih diberi kesempatan untuk dipanggil “Mam” walaupun oleh orang lain (anak lain). Kembali menjadi ibu guru, meski bukan pada jalur resmi (baca : sekolah).

Kembali menjadi guru mengingatkanku pada salah satu murid yang kutinggal sekitar 3 tahun lalu. Namanya Angga. Kala itu Angga masih duduk di bangku kelas V Sekolah Dasar, sama dengan adik kecilku, Ipang.  Karena sekarang Ipang kelas 2 SMP, itu berarti Angga-pun duduk di kelas yang sama. 

Entah bagaimana dia sekarang, entah seperti apa rupanya. Pasti sudah menjelma menjadi seorang remaja putra yang tampan. Dia memang tampan, berhidung mancung, rambut jabrik, putih, mukanya setali dengan Kiki Farel menurutku. Aku yakin kelak dia besar akan menjadi idaman para wanita. Bu Iswari, ibunya selalu bercerita selepas pengajaranku, betapa anaknya digandrungi dan suka digoda oleh teman-teman wanita sekelasnya. Bahkan katanya, kakak-kakak kelas 6 juga sering mencuri perhatian Angga.

Pertama kali aku bertemu Angga dia memanggilku “Bu” dan mencium kedua tanganku, tapi beberapa menit kemudian meralat menjadi “Mba” setelah menyadari sepertinya aku masih cukup muda. Setelah sekian lama menghilang dan tidak bertemu, hari ini aku tiba-tiba teringat pada murid kecilku itu. Karena aku sadar, besok aku akan segera kembali memiliki murid. Yang kuragukan, akan seperti apa muridku esok? Masih tanda tanya.

Bicara soal mengajar dan Angga, aku teringat betapa repotnya waktu pertama kali mengajarinya. Rupanya bocah satu itu kurang tanggap dalam hal pelajaran. Dia cerdas secara emosional, sopan santun, berbakat beramain drum, tampan, tapi lemah pada mata pelajaran. Awalnya aku pancing dengan mengenali karakteristiknya.  Aku lebih banyak mengajaknya sharing, untuk tau dia lebih dalam. Aku tanya hobinya, apa yang dia suka, musik yang dia suka dan setiap jawabannya selalu kukembangkan agar dia merasa dekat denganku dan paham bahwa aku dekat dengan apa yang dia suka.

Angga bukan anak Eksak, jiwa seninya lebih lumayan ketimbang harus beradu angka.  Bahkan pelajaran sejarahpun tidak bisa dia terima dengan baik. Akhirnya, aku harus merubah diri menjadi pendongeng sejarah agar dia lebih tertarik dan mudah menerima materi, dan ternyata itu bekerja!
Sembari mengingatnya sembari aku teringat pula rasa buruk yang harus kuterima ketika mengajar. Pressure tinggi dan gejolak paranoid tiap kali akan berangkat mengajar. Itu tidak mudah dilalui. Esok pasti sama rasanya, namun aku harus pandai mengantisipasinya sedari sekarang. 

Aku harus menyadari bahwa aku tidak pandai. Banyak materi yang tak bisa kukerjakan tanpa membuka buku referensi ataupun check google. Menyadari itu aku berusaha menggali apa yang aku bisa, tanggung jawabku kala itu adalah nilai anak itu harus bagus, anak itu harus berkembang. Lalu terbesit untuk merubah mindset Angga secara perlahan. Mungkin aku tidak bisa mengajari cara berhitung yang baik tapi aku bisa menanamkan bahwa matematika itu mudah dan itu berguna untuk dirinya kelak. Bahkan sering kali aku mengaitkan pelajaran dengan keinginannya menjadi astronot. Ternyata perubahan mindset yang kutanamkan lebih bekerja. Bu Is bilang, dalam bulan-bulan terakhir ini guru sekolah Angga berkata banyak perubahan positif pada diri Angga. Dulu yang dikenal sebagai anak yang bandel di kelas kini mulai anteng, dulu selalu malas menerima pelajaran sekarang lebih percaya diri untuk mengangkat tangan. Kepercayaan diri itulah yang aku target sebenarnya. Setelah mindset berubah, maka daya tangkap pelajaranpun akan semakin baik,pikirku. Kala itu Angga tak paham bahwa cara berfikirnya sudah kuaduk-aduk, tapi untuk hal positif.

Mengetahui hal-hal seperti itu adalah anugerah yang benar-benar membuat hidupku bahagia. Setidaknya hidupku berarti untuk satu orang. Buatku, Itu seni menikmati hidup dan seni mengajar.

Hingga akhirnya suatu hari aku menyerah. Menyerah dengan keadaan yang menghimpitku. Bisa dibayangkan kala itu, aku masih bekerja di garment, pulang kerja sekitar pukul 5, sampai rumah pukul 6, makan, solat dan berangkat mengajar hingga larut. Apa arti tubuhku yang ringkih ini. Aku makhluk lemah tak kuasa harus menahan pressure berkali kali lipat akibat dari padatnya kegiatan.

Hari terakhir aku di rumah Angga, aku membawa seorang teman atau lebih tepatnya guru pengganti untuknya. Bu Is lalu bilang, “ini nanti yang akan mengganti Mb Ire, jadi nanti Angga belajarnya sama Mb Wiewien.” Angga setengah kaget menatapku, lalu mencium tanganku seolah menahan gejolak rasa kehilangan. Batinku serasa teriris kala itu. Aku tak pernah melihat muka Angga seserius seperti kala itu.  Bahkan, sampai di rumah dan selama 2 hari hari aku masih membawa rasa sakit itu. Itu rasa kehilangan seorang murid. Aku jadi membayangkan, bagaimana rasanya guru-guru sekolah tiap tahun melepas murid-muridnya. Mungkin bagi sebagian orang terdengar “lebay” tapi buatku itu adalah bukti sayang kita terhadap murid. Bukti betapa kita bahagia melihat mereka berkembang dan terus maju.

Aku tak tahu apa kelak mereka masih teringat padaku. Muridku memang bukan Angga, dulu sewaktu kuliah aku sempat punya beberapa murid. Namun, mungkin karena faktor kedekatan waktu, aku masih mengingat Angga secara detail.

Dengan bentuk pengabadian tulisan kali ini, berharap bisa mengingat kembali susah senangnya punya seorang murid! Satu hal yang aku dapat ketika mengajar adalah perlunya rasa ketulusan, dan keikhlasan ingin memajukan murid didiknya. Terkadang hal itu yang sering kali dilupakan oleh para pengajar. Mereka hanya fokus pada penyelesaian mata pelajaran.  Seolah itu tanggung jawab utama mereka. Mereka lupa akan unsur-unsur sederhana yang sebenarnya malah merupakan esensi dari mengajar itu sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Review Novel To Kill A Mocking Bird

Doc. irerosana Perlu waktu yang tidak sebentar bagi Amerika untuk mendewasakan diri, menerima bahwa warna kulit bukanlah sesuatu ya...