September 8, 2013

Cerita dari Airport



Karna ini hari sabtu, jadi kita tulis yang ringan-ringan aja, he. Meneruskan kisah Singapore yang terhenti beberapa lalu, ini beberapa bagian yang sebenarnya ingin juga saya abadikan. Walaupun feelnya sudah berbeda. Ops, maaf, maksud saya ‘rasanya’ sudah berbeda.

Saya pertama kali menginjakkan kaki ke Airport itu baru tanggal 12 Maret 2013 kemarin. Maklum kita-kita ini ngga’ pernah pergi jauh-jauh apalagi menggunakan pesawat, jadi buat apa juga kita harus ke Airport? Untung banget, Airport pertama yang saya pijak adalah Ahmad Yani Semarang yang masih tergolong simple dan mini. Coba bayangkan kalau pertama kali saya harus langsung menginjakkan kaki Airport di Changi? Tapi ga’ mungkin juga kali ya, orang kita tinggal di Indonesia, bagaimana bisa menginjakkan kaki pertama di airport Changi? 

Airport dan Doa

Sebenarnya saya menemukan kekuatan dari sebuah doa melalui Airport. Bagaimana bisa? Jadi, acara nggelandang ke Singapore beberapa waktu lalu itu, cerita awal sebenarnya adalah saya dan Itha janjian di Jakarta. Saya sudah merengek-rengek ke Itha buat berangkat bareng dari Semarang, tapi Itha juga belom memutuskan akan berangkat dari mana dan lewat apa. Walhasil, saya repot mencari tiket sendiri ke Jakarta. Itha sama Fajar temen saya yang kerja di sebuah biro sudah pernah memberi beberapa pilihan alternatif transportasi seperti bus,travel dan kereta, tapi ogah ah, bayangkan saja, saya ini kan buta Jakarta, belum pernah liat yang namanya Bandara Soekarno Hatta lha ko’ harus ke sana pakai Bus, travel atau kereta. Bisa-bisa dan sudah pasti saya akan nyasar (secara selama ini saya pakar nyasar), padahal jadwal keberangkatan JKT-Singapore itu jam 11.20 am. Iya kalau saya bisa menemukan itu Airport 2 jam sebelum keberangkatan, kalau terlambat? Bisa – bisa saya ketinggalan pesawat dan batal liburan, pikir picik saya kala itu. 

Akhirnya daripada beresiko, berapapun tiket ke Jakarta saya akan beli daripada saya harus terlantar di kota orang. Setelah menunggu tiket turun selama 1 minggu akhirnya saya dapat harga Rp.329.000 itu sudah saya anggap murah daripada tidak di booking takut naik dadakan jadi 700 ribu (walaupun sedikit menyesal karna Itha booking bulan berikutnya Cuma seratusan plus lain-lain jadi 200an L). Karena Jkt-Singapore menggunakan jasa Air Asia maka, tikes SMG-JKT juga saya selaraskan jasanya. Alasanya simple, di Soekarno Hatta terminal Air Asia berbeda dengan terminal Sriwijaya, Air Asia di terminal 1 sedangkan Sriwijaya terminal 3. Nah jarak antar terminal itu hampir 15 menitan, dan bisa ditempuh dengan angkutan airport gratis atau taksi tapi bayar. Lagi-lagi saya tidak mau terlalu beresiko dan repot, saya pilih satu terminal jadi saya tidak perlu pusing pindah ke terminal lain. Padahal kala itu tiket Sriwijaya lebih murah.  

Biarpun semua tiket sudah siap, tetap saja saya masih cemas, bayangkan saya harus mengejar pesawat ke Singapore jam 11.20 sedangkan tiket pagi saya ke Jakarta jam 07.15, paranoid saya kalau tiba-tiba delay berjam-jam gitu bagaimana? Yah, walaupun terdengar sedikit lebay sih, karna kedua waktu tersebut sudah terpaut hampir 5 jam, waktu yang cukup untuk mengantisipasi segala kemungkinan buruk yang bersifat dadakan. Tapi tetep, namanya juga ‘pertama’ kali, saya tetap paranoid.

Belum lagi saya harus berangkat alone alias sendiri. Saya sudah berusaha meminta Itha buat berangkat dari Semarang bareng, tapi dia bilang lihat nanti saja, terus bilang lagi sepertinya tiket dari Jogja lebih murah. Nah, saya curhat ke Bapak saya, walaupun malah jadi mencemaskan orang tua. Bapak tanya, yakin mo ke Jakarta sendiri? Bukan soal yakin ngga’ tapi emang ga’ ada teman mau gimana? Pikir saya. Bapak saya itu yang saya tahu seperti dukun (bukan juga sih) tapi apapun yang dia doakan ke Allah pasti, pasti dikabulkan. Tiba-tiba dekat hari H Itha menghubungi saya, katanya tiket yang dari Jogja beranjak naik, sepertinya dia bakalan berangkat dari Semarang. Oh God, keampuhan doa orang tua seri pertama men! Satu masalah selesai, tinggal masalah balik dari Jakarta ke Semarangnya masih terancam sendiri.

Memang begitu Bapak saya, banyak berdoa. Tau doa-doa beliau manjur, akhirnya sekalian saya curhat soal transportasi pulang dari Jakarta ke Semarang. Saya bilang, Saya balik ke Semarang pakai Sriwijaya jam 19.15 sedang Itha belum tahu balik Jogja pakai apa, katanya mo booking tiket belakangan. Saya cerita ke Bapak bakal pulang ke Semarang sendirian dan pindah terminal pula, sedangkan Itha belum jelas gimana pulangnya. Tau anaknya galau, Bapak (pasti) berdoanya kenceng banget. Mendoakan agar Itha bisa bareng pulang ke Semarang ga’ mungkin banget, secara dia kerja di Jogja, setidaknya mendoakan Itha bakal pakai maskapai yang sama itu cukup, jadi bisa pindah terminal bersama-sama walaupun toh akhirnya jadwal penerbangannya pasti berbeda. 

Giliran Itha booking tiket dari Singapore buat pulang ke Jogja ternyata yang murah Sriwijaya. Udah gitu jamnya tidak jauh berbeda Itha dapat jam 18.15 kalau tidak salah.  Artinya saya masih ada teman sampai sejam sebelum pesawat saya berangkat, huft...setidaknya aman, batin saya kala itu. Oh...tapi ternyata keberuntungan saya tidak berhenti disitu. Saat kami sama- sama menunggu jam berangkat, tiba-tiba ada pengumuman kalau Pesawat ke Jogja punya Itha harus delay, saya mulai panik, jangan-jangan yang Semarang juga delay, mana sudah malam lagi. Tapi lagi-lagi Allah Maha baik,  keberangkatan pesawat kami bisa bersamaan. Kita beranjak dari tempat duduk bersama dia menuju pesawat Jogja, saya menuju pesawat sebelah, kami berpamitan, saling minta maaf, cipika-cipiki dan say goodbye. Aman. Kekuatan doa. Itu pasti doa Bapak saya, dia terlalu mencemaskan saya, pasti takut kesasar sendirian.

Mas-mas penjaga airport tax

Saya heran sebenarnya, kenapa harus ada airport tax, padahal sepengetahuan saya di bandara negara lain itu tidak ada. Cuma ada di Indonesia lho, ck..ck..memberatkan para backpacker yah L. Airport tax untuk domestik sebanyak Rp.30.000 tapi untuk penerbangan internasional Rp. 150.000,-. Nah, 4 kali perjalanan kemarin saya hanya membayar 3 x airport tax yaitu SMG-JKT, JKT-SINGAPORE, dan JKT-SMG. Dari Changi tidak ada tax pastinya. Totalnya seperti yang sudah saya sebut di artikel sebelumnya sekitar Rp.210.000,-

Yang unik dari perjalanan saya adalah ketika membayar airport tax untuk penerbangan internasional dari Jakarta ke Singapore.  Menuju ke loket pembayaran, orang harus mengantri, proses hanya boleh dilakukan satu persatu orang. Jarak dari orang yang sedang berproses dengan yang sedang mengantri sekitar 5 meter. Itha yang pertama maju selesai dan menunggu saya di depan. Prosesnya sebenarnya simple, tinggal bayar , tunjukin berkas-berkas, terus dikasih cap, tapi entah ada apa gerangan saya bisa berlama-lama di sana. Jadi ceritanya, saya sudah mempersiapkan semua dokumen yang akan dicek sekalian dengan uangnya 150 ribu saya sematkan di bawah dokumen. Si mas mas penjaga loket yang sebenernya lumayan tapi beberapa menit kemudian saya tahu lumayan menyebalkan itu mengecek berkas saya dan confirm ok. Tapi tiba-tiba masnya bilang “Seratus lima puluh ribu” 

Saya jawab “Lho kan sudah mas, tadi di bawah berkas”. Mas membuka berkas dan mulai mencari bingung, ya bagaimana mau tau sudah bayar atau belum, orang di bawah berkas isinya duit semua seratusan ribu dan jumlahnya sangat banyak. 

Mas-mas menyebalkan mengangkat ke dua tangan dan bahu seolah bilang “Mana? Lu ga’ usah ngada ada deh, mana? mana?”. 

“Beneran deh mas tadi sudah saya satukan dengan berkas-berkas saya, coba cek lagi deh,” saya mulai panik. 
Itha sudah menunjukkan ekspresi dari jauh “Whats wrong, Girl?” 

Saya mengangkat telapak tangan, memastikan dia mengerti isyarat dari saya “ Its ok, I will take care of this, wait ya..pls wait..”. 

Kepanikan tambah meninggi setelah saya mengengok ke belakang dan ternyata puluhan bule sudah menunggu untuk bergantian membayar, cemas dan kesal. Duh saya jadi bingung sendiri harus bagaimana. Apa saya ikhlaskan saja uangnya ya? batin saya. Tapi saya tidak cukup membawa banyak uang lho, dan belum tahu nanti di Singapore butuh uang berapa, lagian 150 lumayan buat jajan. Mas mas menyebalkan mulai kekeh bilang belum terima uang dan saya tetap meminta untuk cek ulang. Akhirnya mas mas tadi curhat ke Mb petugas satunya bilang, katanya saya sudah bayar tapi dia belum terima uangnya. 

Mendengar pembicaraan mereka sayapun menyela “Eh, mas mb, saya tidak bohong lho, saya benar-benar sudah membayar,”. Melihat saya kukuh akhirnya si Embak menyarankan masnya menghitung ulang semua uang yang dia terima dengan jumlah berkas apakah sama atau selisih. Wuih gila! antrian makin menjadi-jadi gara-gara saya, sedang mas-masnya harus menghitung ulang, padahal saya lihat uangnya buanyak banget. Itha mulai penasaran ada masalah apa tapi tidak bisa ambil jalur balik, cuma terlihat sedikit kesal. 

Saya berdoa, waduh nanti kalau masnya bilang ‘belum bayar’ juga kena malu dong saya. Udah bikin antrean kesal, dikirannya pembohong lho o...! ya sudah nanti kalau memang hasilnya jumlah berkas lebih banyak daripada jumlah uang alias terbukti saya belum bayar, saya ikhlasin bayar lagi deh, daripada bermasalah lebih panjang. Mas mas menyebalkan pun selesai menghitung. 

“Gimana? Ada kan?” tanya saya penasaran. Mas masnya mengangguk. Fiuh....akhirnya. Damn! Setidaknya saya terbukti tidak berbohong,dan memang begitu kenyataanya.

Saya pun buru-buru menghampiri Itha “Sorry...sorry Tha, lama ya, itu mas nya bilangnya aku lom bayar,padahal sudah aku taroh di bawah berkas” kata saya kesal. 

“Lain kali jangan disatukan Re, kalau mereka minta baru di bayar,” balas Itha. Ooo begitu, niatan biar cepet malah jadi runyam, he.

Sehari 3 Airport terlampaui

Hari itu selain hari pertama menginjakan kaki ke Airport dan mendapatkan sedikit masalah perpajakan juga adalah hari bersejarah. Dalam satu hari saya langsung menelusuri 3 airport yang mana levelnya meningkat. Bisa dibayangkan awal dari Ahmad Yani yang sederhana dan minim, naik ke Soekarno Hatta yang lebih besar dan lumayan megah terus naik ke Changi, the number one airport in this world. No.1 men! Entah benar entah tidak, tapi begitulah info yang saya dapat dari Mr. Sam pemandu kami.  Sebagai bandara No.1 di dunia tentu fasilitasnya benar-benar oke banget.
Rasanya seperti ada lonjakan tempat. Dari yang minim ke yang paling oke. Ini gambaran sedikit tentang Changi. 



Yang benar-benar terasa berbeda itu toiletnya (tapi beda semua sih kalau dipikir-pikir). Di Semarang toiletnya biasa aja, di Soekarno Hatta air akan menyiram sendiri setelah pengguna keluar dan menutup pintu toilet, sayang sedikit kotor akibat sepatu-sepatu becek pengunjung. Kalau di Changi toiletnya bersih banget, kering. Betah deh berlama-lama di sana. Di tembok sebelum pintu ke luar toilet ada gambar si petugas yaitu seorang nenek-nenek dan disampingnya ada rate yang diberikan pengunjung berisi Excellent, Very good, good dan poor. Kita bisa memberikan rate dengan cara menyentuhnya. Itha lewat saja tanpa menghiraukan, sedang saya berhenti sejenak, menatap sang nenek dan menyentuh “Very good” untuk si nenek,hm. 

Usai dari toilet kami menuju ke cek Imigrasi Singapore yang ternyata di sana saya dapat peringatan lagi karena maju melewati batas antri. Petugas Imigrasi mengangkat tangan berisyarat “Stop there, please”. Lagi-lagi saya mengayun tangan berisyarat “Ok,fine..sorry..sorry..”. Selesailah pengecekan Imigrasi Singapore. Ternyata petugas Imigrasi Singapore lebih ramah dari Indonesia. Sewaktu di Jakarta mau ke Luar, petugas cek imigrasinya memasang tampang galak gitu. Terus tanya-tanya dengan nada yang berkesan mengintrogasi “Baru pertama ke Luar Negeri?”,”Ngapaen kesana?” bukan urusan lu kali, batin saya. “Hm..liburan Pak,” saya berusaha sok manis biar lolos cepat. “Berapa hari?” tambahnya lagi. “Tiga hari Pak..hmm..” senyum saya tambah manis. Melihat saya yang terlihat imut (hehe) dan tidak mungkin wajah-wajah seperti saya adalah seorang penjahat/teroris akhirnya dia memberikan cap lolos. Hufftt.....padahal Cuma nyari cap doank -_-. 

Mr. Sam a first foreigner who called me slim directly :(

Usai berususan dengan Imigrasi saya mengikuti kemana arah jalan membawa kami. Kami turun dari ekskalator dan ternyata di sana sudah banyak orang menunggu dengan mengangkat papan nama, menunggu si empunya nama. Kami mencari-cari nama kami. Nah, itu dia “Ms Ullail, Ms Armitha” kalau tidak salah apa “Ms Hutami” ya nama Itha, saya lupa,he.  Ternyata guide kami berkulit hitam, beruban and we thought he was an indian. 

Kurang lebih seperti ini,
“Hai..” sapa kami mendekat
“Ms Ullail & Ms Hutami?” tanyanya.
“Yes” jawab kami. 
“This is..” menjabat tangan Mitha dan menerka masing-masing nama kami.
“Armitha” balas Itha.
“O so U are Ms Ullail?”
“Ya, just call me Ire” sambil berjabat tangan.
“Perkenalkan saya Mr Sam” katanya dalam bahasa melayu. Mengetahui kami berasal dari Indo Mr Sam banyak-banyak menggunakan bahasa melayu daripada inggris.
“Owh are you students? So u came here for school holiday?”
“No, we are worker not student” kata Itha meyakinkan.
“Ya, and I am 25 years old not child” tambah saya.
“Owh really? but both of you still looked like a child. and you Ire, u are so.. slim...”
“Yes I know that L” Bisa dibayangkan saya dan Itha seperti anak SMA yang menggelandang ke negeri orang. Kita memang masih pantas dibilang anak SMA. Alhamdulillah awet muda!

Sampai di luar kami disuruh menunggu di kursi tunggu dekat parkiran.

“Wait here, saya ambil Bus dulu,” kata Mr. Sam sembari berlalu
“What? A Bus re, he said ‘a Bus’” Itha kaget takut kalau Mr. Sam beneran datang membawa Bus.
“Ga’ mungkin bawa Bus lhah Tha, orang cuma ngangkut kita doank knp harus pake’ Bus. Mungkin Bus disini maksudnya sedan gitu kali ya,hehe” ucapku berusaha menenangkan.
“Ga’ mungkin juga kita di jemput sedan kali, Re,” balas Itha.

Dengan was-was kami menanti Mr. Sam datang. Kami masih penasaran Bus yang dimaksud seperti apa. Begitu sedan lewat kami perhatikan apa menghampiri kami atau lurus.

“Ini kali Tha,” kata saya melihat sedan kinclong mendekat.
“Ga’ mungkinlah kita mobil berkelas gitu,” kata Itha.
“Atau jangan-jangan itu Re, ada sebuah mobil sekelas Colt Diesel kalau di Indo mendekat,oh No, jangan itu deh..” harap Itha.

Tapi mobil itupun berlalu menghampiri 2 orang pemuda yang menunggu di kursi sebelah. Fiuuhh....kami lega karna bukan mobil reyot itu milik kami.

Akhirnya datanglah mobil putih susu mirip APV dan benar Mr. Sam berada dibalik kemudi. Kalo ini lumayanlah, walaupun kami lebih mengharap dihampiri mobil sedan,hehehe. Jadi ini yang dimaksud ‘Bus’ ternyata.

Di dalam mobil, Itha lah yang lebih sering bercakap dengan Mr.Sam. Saya lebih suka melihat pemandangan di luar mobil dan menangkap beberapa objek lewat HP.  Mr. Sam seperti diburu waktu, dia menjelaskan dengan cepat memakai campuran bahasa melayu dan inggris. Mr. Sam menjelaskan itenerary kami dan bercerita sedikit tentang tempat-tempat yang baru kami lewati. Saya mendengar Itha beberapa kali mengucap “Okey,....Okey....” tanda paham dengan penjelasan dan aturan yang diberikan Mr. Sam. Saya ikut Itha aja deh, sepertinya dia sudah paham rule yang dijelaskan, saya sedang enjoy mbatin. Owh God, saya tidak di Indonesia! Indonesia ada di sono...lumayan jauh juga ya. 

Begitulah cerita airport pelancong amatiran, bagaimana selanjutnya? tunggu. Next kita bicara soal USS, makanan dan of course finding ochard.


No comments:

Post a Comment

Perkara Makan dan Saudaranya

Makan adalah perkara rumit dalam hidup saya. Ini tak semudah seperti yang digambarkan orang-orang yang berkata bahwa itu hanya soal ...