September 11, 2013

Jodoh itu Urusan Allah



‘Jodoh itu urusan Allah’ tapi usaha pencarian jodoh itu menjadi urusan kita.  Tidak ada penggambaran definisi jodoh secara pakam. Bahkan KBBI pun hanya bisa menjelaskan secara arti kata yang berarti cocok & sesuai. Definisi tersebut tentunya tidak cukup untuk menjelaskan konteks ‘jodoh’ secara lebih mendalam. Cocok dan sesuai belum tentu jodoh, tapi bisa jadi kalau jodoh pasti cocok dan sesuai. 

Jodoh sudah pasti ditentukan Allah, logikanya kita tidak perlu khawatir tidak kebagian. Tapi, bagi wanita yang berusia lebih dari 25 tahun namun masih single alias belum menemukan jodoh logika tersebut tidak cukup menenangkan. Wanita single dengan usia pantas berkeluarga itu tantangannya berat, dan pastilah mereka harus bermental kuat dan dan berpikir cerdas untuk menanggapi omongan-omongan miring dan gosip-gosip para tetangga. Belum lagi harus menghadapi kenyataan bahwa perawan-perawan di daerahnya bisa dihitung dengan menggunakan jari. Belum lagi buka social media dan menemukan teman-temannya asyik riang mengupload foto-foto pernikahan ataupun anak mereka yang imut lucu serta menggelikan. Belum lagi yang punya adik perempuan dan sudah memberi tanda-tanda akan segera dilamar pacarnya. Kalau bukan hebat dan kuat, bisa bantu disebutkan kata-kata apa yang pantas untuk kita-kita?

Terkadang saya sendiri terbawa arus pemikiran orang-orang sekitar. Apalagi dalam kondisi mental kurang fit, sindiran dan momen yang biasanya bisa dilalui dengan biasa saja bisa berubah menjadi kegalauan. Tapi saya bisa merasakan bahwa gusuran efek positif thinking lebih banyak bekerja untuk saya. Dibilang tidak ingin ya pasti ingin, ’tapi kok kelihatannya santai-santai saja?’ saya sering mendapat pertanyaan seperti itu. Saya jawab enak, ‘ya dibuat santai’. Apa kalau kita belum ditemukan dengan jodoh harus tiap hari merengek meratapi nasib? Atau mungkin yang ekstrem mengobral diri / membanting harga dan tawar tawar di pasar? Tidak bukan?. Terus dikatain lagi ‘Lha kamu ga’ usaha kali.’ Saya jawab, saya tiap hari berdoa dan mengusahakan yang terbaik apa itu bukan usaha? Kita ini kan wanita jadi usaha ya sebatas itu-itu saja. Coba saya laki-laki, nemu yang cocok, saya bidik lalu tembak. Apa kita perlu melakukan tindakan ekstreme ‘Nikahin kita dong..!’ Tidak juga, kan?

Tapi masalah yang terberat adalah ketika sudah berurusan dengan orang tua. Mana ada orang tua yang tidak cemas punya anak perawan dengan usia matang. Apalagi teman-temannya sudah mulai membangun rumah dan punya anak. Pun begitu dengan orang tua saya. Tahun-tahun lalu cemasnya terlalu berlebihan, apalagi kalau emak saya di provokatori para tetangga ‘Kapan bu anaknya?’ terus emak saya galau, biasa ibu-ibu suka terlalu mendengarkan omongan tetangga. Saya sempat juga menjadi treding topic karena belum juga menikah padahal semua sahabat saya sudah ludes dibawa suaminya. Tapi saya sudah pandai menghadapi kecemasan orang tua model begitu. Buat yang belum menemukan cara bisa pakai cara dari saya berikut:

   1.   Ajak ngobrol santai, pastikan mood mereka baik lalu bahas pelan-pelan topik  menikah
   2.  Dalam obrolan tersebut cari tahu apa yang sebenarnya mereka cemaskan? Bisa jadi mereka mencemaskan perasaan kita akan sedih karena takut kita terpuruk oleh keadaan bisa juga hanya tidak nyaman dengan omongan tetangga.

   3.  Kalau alasan yang pertama mending yakinkan mereka kalau kita baik-baik saja, bahagia dan santai. Juga jangan pernah memperlihatkan mimik sedih, termenung sendirian, atau menyanyi lagu-lagu galau di kamar mandi, Ortu bisa salah sangka kita galau gara-gara menikah.

   4.    Kalau yang dipermasalahkan omongan tetangga bilang, ’Nanti yang mengurus suami, saya lho Pak,Bu bukan tetangga, kalau menderita, saya juga lho yang merasakan bukan tetangga,’ jadi tidak perlu terburu-buru hanya karena menuruti omongan tetangga. Masyarakat banyak itu ada-ada saja bahan omongannya.

     5.    Kalau masalahnya si A udah punya anak, Si B juga udah punya rumah, bilang aja ‘Tapi si C teman saya belum nikah ga’ kerja pula, Si D juga nikah 2 tahun belum punya anak, atau Si E nikah tapi mau cerai mulu padahal baru setahun’ maksudnya biar tidak terlalu membanding bandingkan dengan hidup orang lain. Setiap orang punya cobaan hidup sendiri-sendiri jadi jangan menghabiskan waktu untuk melirik iri atas hidup orang lain. Ada yang cobaanya kerjaan, ada yang cobaanya anak, ada juga jodoh, jadi tidak perlu iri. Alhamdulillah ortu saya tidak kolot sih jadi bisa menerima cara berfikir anaknya yang aneh.

Nah, dari obrolan-obrolan tersebut kan jadi jelas semuanya, antara kita dan orang tua juga tidak perlu berpersepsi sendiri-sendiri. Toh nyatanya ortu saya jadi sedikit lega saya punya pemikiran seperti itu. Walaupun terkadang masih kumat, sih. 

Yang membahayakan adalah ketika orang tua memandang ini bukan persoalan sudah ada jodoh atau belum, tapi mereka menyangka terjadi penyimpangan terhadap anakanya (baca:ga’ doyan lelaki). Kalau menghadapi yang seperti itu pamer aja, pas nonton TV liat sinetron ‘Gila...tu cowok cakep bener, mau dong suami kaya gitu’ ortu pasti lega, owh ternyata perkiraan mereka salah. 

Kalau saya gampang, samperin ortu, nyodorin foto di HP, bilang saja itu calon suami saya kelak, walaupun beberapa menit kemudian tanya ‘Pacar kamu?’ saya jawab ‘Bukan,’ hahahaha mreka tertawa menganggap saya gila. Tapi mereka pun lega, dan menganggap ternyata saya normal, untungnya lagi sampai sekarang saya tidak dikejar-kejar menikah. Cuma saya tahu dalam doa mereka pasti minta saya menikah sekencang-kencangnya. Tapi setidaknya tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. 

Jadi beberapa tahun lalu, emak saya paranoid saya tidak menikah akhirnya mencoba mengenalkan anaknya temen-temennya. ‘Ini lho adeknya si itu...alim, kerja lumayan, dan kalau diajak ngomong nyambung gitu seperti permintaanmu’ kata nyokap sembari menyodorkan foto dari HP. ‘Ogah, kalau mau ngenalin itu liat dulu, dia waras ng’ kalau waras jangan dikenalin aku dong mak, bisa-bisa dia jadi gila lho...hahahah’ balasku becanda. ‘Pokoknya neh ya kalau aku dijodoh-jodohin aku mau minggat, pindah kerja ke Jogja!’ saya beranjak membanting pintu kamar (biar mirip disinetron-sinetron gitu,hihihi..). Takut saya minggat beneran nyokap tidak berani lagi menyodorkan calon. Fiuh...orang bonyok aja menikah karena jatuh cinta, masa anaknya lebih primitif  ‘dijodohkan’?

Obrolan soal pernikahan sudah sering ada dikeluarga kami. Cara bahasnya benar-benar ringan dan tidak perlu memandang perasaan orang anaknya nyantai semua macam saya. Malah pernah nyokap teriak ke adek saya ‘Do, sono buruan nikah sama Nila, ini embakmu ga’ mau nikah neh!’ astaghfirullah tega bener, yang tidak mau menikah siapa coba? Haduh. Tapi saya bersyukur, sekeras dan sekolot-kolotnya mereka tidak pernah saklek menghendaki anaknya harus menikah dengan ini, dengan itu, harus begini, harus begitu, tapi masih bisa diberi masukan. 

Di lingkungan luar paling memberatkan saya itu ketika ada acara hajatan, dan saya harus sinoman dan saya cew paling tua sendiri, itu sungguh sungguh satu satunya alasan yang membuat saya jadi ingin menikah. Bisa dibayangkan karena menjadi senior jadi saya yg harus buka tutup rapat, buat konsep, buat undangan sinoman, memandu acara. Sewaktu saya alihkan ke adek-adek ‘De’ kalian harus latihan buka rapat, kan sebentar lagi saya juga menikah, kalau tidak latihan dari sekarang kapan lagi?’ jawab mereka enteng doank ‘Emang mb mau menikah, bohong, mana calonnya ngga’ ada’ Jlep, kejem banget itu kata-kata.

Dan yang paling aneh adalah, mau acara hajatan siapapun, tetangga ,saudara yang diperbincangkan di area belakang adalah bukan siempunya hajatan tapi malah membahas pernikahan saya, haduh. Contoh kemarin di desa ‘Nanti pernikahannya Mb pasti se desa ke sana semua', :O busyet!’ ‘Ntar snacknya dari sini aja,’ ‘ ini shootingnya dari kita aja mb’ haduh haduh tolong yang nikah siapa ya? ‘He maaf semua sepertinya saya nikah ijab qobul aja’ biar ga’ pada ribut gitu. ‘Lho....jangan dong..bla..bla...’ oke.... baiklah...stop! Pernah lho sampai saya bilang begini ‘saya itu tidak masalah adek saya nikah duluan Bu ya, yang bermasalah itu biasanya omongan orang-orang itu....’ semoga si ibu tidak tersinggung.

Jodoh itu siapa dan kapan? Itu urusan Allah. Tapi saat Allah menganugerahkan perasaan cinta, saya berusaha menerima, menjaga dan memaksimalkan dengan baik, urusan ternyata dia jodoh saya kelak, itu bonus. Dan saya sangat senang bila mengartikan jodoh dengan konsep tulang rusuk. Yang mana bila wanita benar diciptakan dari tulang rusuk pria artinya wanita itu melindungi organ-organ vital jodohnya, sehingga ada keterikatan batin. Bentuknya pun sudah diatur sedemikian rupa diambil dari tulang rusuk yang sedikit tingkat kebengkoanya itu adalah salah satu bentuk ke Maha Tahuan Allah kalau kelemahan kaum lelaki yang sangat sulit apabila diamanahi untuk meluruskan bagian yang paling bengkok. Pula mengapa tidak diambil dari rangka kepala agar tidak melebihi laki-laki maupun dari tulang kaki agar tidak direndahkan oleh kaum lelaki, tapi dari tulang rusuk di dada untuk melindungi dan dilindungi. Konsep itu benar-benar indah.

Jadi jodoh itu sudah ada, kita hanya perlu berusaha. Tapi kalaupun sudah berusaha belum diberi juga, itu artinya kita masih dipercaya Allah untuk memimpin diri sendiri, untuk membahagiakan orang sekitar. Bahagia ketika single itu bukan berarti tidak mau menikah, dan tidak membuat diri terpuruk itu salah satu pilihan. Toh hakekat hidup sebenarnya bukanlah untuk selalu bahagia tapi tetap berusaha bahagia apapun kondisi kita. Nikah (secepatnya) amin!

2 comments:

  1. Bagaimana bila dihadapkan pada pilihan poligami?
    Meskipun itu adalah sesuatu yang halal,
    dan tujuannya pun juga baik adalah supaya
    tidak banyak perawan-perawan cukup umur
    yang galau tadi. How re?

    ReplyDelete
  2. Poligami dihalalkan Al-Qur'an dan apa yang dihalalkan oleh Al-Qur'an tidak bisa diharamkan oleh manusia. So, secara pribadi aku mendukung apa yang dikatakan Al-qur'an asal niatnya memang karena Allah, bukan menyalahgunakan ketetapan Allah. Selain dari soal agama menurutku, poligami bisa dilakukan asal si pria memenuhi banyak kriteria, seperti mampu secara finansial, pandai dan berilmu dan mampu seperti yang tertera di alkitab

    ReplyDelete

Perkara Makan dan Saudaranya

Makan adalah perkara rumit dalam hidup saya. Ini tak semudah seperti yang digambarkan orang-orang yang berkata bahwa itu hanya soal ...