October 12, 2013

Curhat Pencarian Diri Sendiri




Curhat dulu yuk! Secara sekarang ini saya sudah tidak dekat dengan teman-teman, punya dunia sendiri, punya aktivitas independent dan bukan team jadi saya butuh tempat curhat. Beda cerita ketika saya masih kerja di sana itu, tiap ada masalah buka windows, buka net send ketik alamat, lalu chating deh sama rekan-rekan kerja. Curhat pekerjaan, curhat gebetan, dan masalah-masalah lain. Bahkan kalau urgent sekali masalahnya kita tak segan-segan menelfon satu sama lain lewat telfon kantor. Sekarang canggung gitu, walaupun sebenarnya masih bisa pakai whatsup, line, tapi banyak pikiran paranoid, jangan-jangan saya mengganggu, jangan-jangan dia lagi overload, atau jangan-jangan...jangan-jangan...dan jangan deh, mending cari alternatif lain,wee..!

Bagaimana ya Mbak, mas, tante, teteh, siapapun yang baca ini, ternyata hidup itu tidak mudah. Terutama dalam hal mengatasi paranoid yang sering muncul dalam pikiran kita sendiri.  Sebenarnya sih saya tidak ngenes-ngenes amat keadaanya.  Dan saya tau persis akan mengalami sebuah dilema pergulatan jiwa seperti ini, saya masih tahan. Cuma, saya takut ini kondisi tubuh tidak bisa diajak kompromi lagi. 

Jadi saya ini tengah berupaya mencari jati diri tulisan saya. Awal ketika saya memutuskan untuk menggandrungi  tulisan secara lebih dalam ketika itu saya merasa makhluk tuhan paling yakin. Bisa dibayangkan dari sekian ribu orang yang bekerja lempeng-lempeng saja, atau hanya berstatus karyawan-karyawati suatu perusahaan tertentu, saya memiliki cita-cita yang bagi saya mulia yaitu menjadi seorang penulis. Cita-cita yang seperti itu di daerah sini masih jarang, yang ada dulu sewaktu saya masih SD (Sekolah Dasar) bila ditanya soal cita-cita, kebanyakan jawaban dari teman-teman adalah dokter, polisi, presiden, tentara, guru, ya seputar itu itu saja. Seolah-olah cita-cita itu hanya itu saja, dan anehnya kenapa dulu tidak ada guru yang mengarahkan murid-muridnya bahwa cita-cita itu banyak, bukan sebatas presiden, polisi guru, pilot dan dokter,hm.

Coba dulu saya diajar untuk mengenal penyair-penyair terkenal sedari SD, atau wartawan, atau librarian, traveler, motivator,pengamat musik, sejarahwan, editor, dan diiming-imingi kisah-kisah inspiratif yang berkaitan dengan cita-cita tersebut, pasti harapan itu sudah membuncah sedari ketika saya masih SD. Sayang dulu cita-cita yang diterima hanya itu-itu saja, tidak ada pengarahan dan pada akhirnya juga tidak satu cita-citapun teraih di kelas kami. Sampai-sampai suatu reuni saya pernah bilang, “kenapa ya dulu waktu ditanya cita-cita kita menjawab menjadi pilot, presiden, dokter, arsitek, menteri, padahal itu profesi mahal, kenapa dulu tidak ada yang berani melihat kenyataan ‘saya mau jadi karyawan pabrik Pak’, begitu kan jujur,” kata saya.

Yang salah dari sistem pendidikan Indonesia adalah, kita pandai sekali menerapkan teknis-teknis dan penyampaian ilmu pengetahuan tanpa di barengi dengan pemberian jiwa serta nafas untuk ilmu yang didapat. Walhasil, ilmu-ilmu yang diserap murid-murid berjenis ilmu mentah dan hafalan. Banyak hal yang perlu disyukuri dari masa lalu sekolah saya, tapi banyak juga yang saya sesali. Seperti, kenapa saya harus bersekolah lama-lama dan mempelajari atom-atom atau partikel-partikel benda toh sekarang saya tidak pernah menggunakannya. Dan lagi, mengapa saya tidak dibelajari menulis, memberi nafas dalam tulisan sedari saya SD? Konsen pada hal itu selama berpuluh tahun, mungkin saya sudah mahir memainkan kata sekarang. Tapi apa boleh buat, yang terjadi tidak bisa diulang lagi, yang bisa adalah secara perlahan saya berusaha memperbaiki.

Tapi saudara-saudara, ternyata punya cita-cita menjadi penulis bukan akhir dari petualangan dan menang atas keadaan yang monoton. Jadi setelah saya memasuki dunia literasi ternyata saya telah masuk ke dunia baru yang masih luas. Bisa dibayangkan dunia saya dulu dari sekian ribu profesi saya berhasil menaruh hati pada dunia literasi, setelah memilih dan memasukinya ternyata di dalamnya masih ada dunia lagi yang masih luas. Jadi sekarang saya bingung, ada banyak pilihan di hadapan saya. Mau menulis berita, sastra, novel, artikel ilmiah atau yang apa yang mana? Misal saya pilih satu novel, ternyata masih di bagi lagi, novel imaginasi atau novel pengalaman, novel dewasa atau teenlit, novel sastra atau metro pop. Ternyata penulis itu berkategori-kategori, ada yang menceritakan pengalaman contoh halnya The Naked Traveler, jadi materi sudah dia alami dan tinggal di olah, atau novel imajinasi seperti halnya Madre karyanya Dee. Ada juga yang bersifat pengetahuan seperti cara-cara membuat blog, memainkan excel dan trik-trik tertentu. Belum lagi buku atau novel yang disesuaikan kategori pembaca dan target khusus pembaca seperti buku-buku agama. 

Jadi yang awalnya saya mengira setelah ini akan berkonsentarsi pada literasi setelah menyingkirkan dunia marketing, pengajaran, dan enterpreneurship, ternyata masih dibingungkan oleh pencarian genre tulisan. Bagi sebagian orang mungkin tidak perlu diperdebatkan, pasalnya setiap orang punya kemampuan menulis masing-masing, ada yang lancar menulis cerpen, tapi ada juga yang hanya bisa menulis puisi. Ada yang mampu menulis ilmiah, tapi ada juga yang enjoy dengan novel imajinatif, lhah, masalahnya adalah, saya suka semuanya, dan saya tidak tahu mana yang paling saya suka. 

Sebenarnya paling enak menurut saya adalah travel writer. Dia holiday dan mencoba mencari sebuah sisi unik dari suatu tempat dan keadaan dan tinggal menuangkannya dalam bentuk tulisan. Buat saya itu mudah karena kita mengalami sendiri dan materi sudah tersedia, tapi yang susah adalah traveling-nya itu sendiri. Menjadi traveler itu harus siap banting lho, menghadapi keadaan penuh resiko. Dulu  sih  saya merasa kuat dan cuek tapi setelah sekarang benar-benar jadi wanita (lhoh emang dulu apa??) saya merasa menjadi wanita imut, yang sedikit-sedikit paranoid, nanti kalau di jalan digodain cowok-cowok bagaimana? Kalau diperkosa? Kalau dijambret? Aaaarrggghhhh....itu efek perubahan wajah yang berangsur imut, haduh!

Dari segala keruwetan di atas, jadilah saya yang seperti ini. Bingung terombang-ambing, menjajal segalam macam tulisan. Saya sempat kepikiran untuk tetap masuk ke ranah politik tapi melalui sastra karena menurut saya efek manfaatnya lebih besar kalau kita masuk ke ranah politik daripada hanya sekedar menghibur remaja-remaja dengan cerita cinta, betul tidak? 

Bila ada seseorang yang bisa membantu saya, menilai dan mengarahkan mana jati diri tulisan saya itu sangat membantu, karna prediksi saya sendiri sering keliru, pengennya ini ternyata mampu saya itu. saya itu terkadang perlu disadarkan, di geplak biar sadar diri karena sering kebablasan. Saya juga bukan orang yang tahu betul karakteristik saya, aneh kan? Malahan lebih sering disadarkan oleh keadaaan dan orang sekitar. 

Contohnya saja, dulu waktu penjurusan semester akhir, saya ngebet masuk BI (Bisnis Internasional) alesannya sederhana, anak BI terkenal pintar-pintar dan pasti jago bahasa Inggris, dan untuk memasukinya butuh standar IPK yang tinggi, sebut saja BI kelas favorite gitu. Eee...waktu pengumuman hasil ternyata saya masuk ke kelas marketing, padahal bahasa Inggris saya memenuhi syarat dan IPK saya juga tergolong tinggi. Tidak puas dengan hasil keputusan, langsung saya samperin sekretaris jurusan. Saya protes, saya berbicara tanpa henti. Bu Sekretaris hanya mengecek hasil nilai-nilai saya dan menjawab dengan simple,

“Kamu mau tahu kenapa kamu tidak masuk BI dan malah masuk marketing?” tanyanya.

“Iya Bu, kenapa?” balas saya penasaran.

“Bahasa Inggris dan IPK kamu emang memenuhi syarat tapi lihat, semua mata pelajaran marketing kamu tinggi semua, kamu itu cocok dan pandai di marketing, bukan BI. Nilai matkul BI yang lain rendah, sadar tidak kamu, ini coba kamu ke sini tengok sendiri!” kata beliau tegas.

Penasaran saya pun mendekat dan mengamati hasil nilai saya, duh bego-nya saya! Selama ini saya tidak sadar kalau bakat saya itu di marketing, bukan BI. Saya hanya silau status gegara BI adalah favorite semua orang, dan mengesampingkan potensi saya sebenarnya, duh mas!

Nah, saya tidak mau hal itu terulang kembali. Saya tidak mau mengejar sesuatu secara subjektif, atau keinginan egois semata tanpa memperhitungkan kemampuan saya sesungguhnya. Hm..menjadi diri sendiri itu perlu, tapi yang paling penting adalah menggali kemampuan diri sendiri dengan cara lebih dulu mengenali diri sendiri secara lebih jeli, itu! nah itu, itu yang belum saya temukan, anybody can helps?


No comments:

Post a Comment

Perkara Makan dan Saudaranya

Makan adalah perkara rumit dalam hidup saya. Ini tak semudah seperti yang digambarkan orang-orang yang berkata bahwa itu hanya soal ...