October 18, 2013

Duh Mas!





Duh mas!  tetiba aku ingin menikahimu! Membeli rumah di daerah yang tak begitu terpelosok pula tak lenyap oleh hingar bingar kota.

Duh mas! hasrat itu tetiba muncul, entah karena melihat si sri yang berhasil membangun rumahnya kokoh dengan bantuan mertua, atau melihat Dirman yang tengah berbahagia karna baru saja mendapati putra pertama.

Duh mas! tetiba aku benar-benar ingin menikahimu, membuat nyawa baru dan menamainya radar langit lan bumi. Bila pria sebut dia radar dan bila putri sebut dia langit. Ini bukan murni rencanaku, ini karena Putri membuat prosa berisi nama anak, meliuk-liukkan kata-kata dan menari-narikannya. mereka melet-melet menyeretku masuk ke dalamnya, bila aku menolak mereka balas menghina!

Duh mas! sungguh aku ingin menikahimu , saat ini juga, detik ini juga. Hasrat itu menggebu seperti halnya aku rela membunuh semua mimpiku untukmu! setan apa yang bergelayut di otakku! Tetiba seluruh isi bumi menghasutku untuk menikahimu! 

Duh mas! Biarkan aku membelai tanah dengan ke dua tanganku, dan keringatku menetes layaknya kucuran air hujan yg tiada henti membelai bumi demi rumah dan buah hati impian kita.

Duh mas! Tetiba aku benar ingin menikahimu! coba bilang, kira-kira siapa nama anak kita kelak?

Ujar sang perawan cinta!

No comments:

Post a Comment

Perkara Makan dan Saudaranya

Makan adalah perkara rumit dalam hidup saya. Ini tak semudah seperti yang digambarkan orang-orang yang berkata bahwa itu hanya soal ...