October 28, 2013

Satu Tambah Satu




 Orang bodohpun tahu berapa jumlahnya. ‘Satu tambah satu’ mutlak ‘dua’. Puluhan tahun silam aku memaksanya tetap menjadi sama dengan ‘satu’. ‘Satu ditambah satu’ harus menjadi ‘satu’! Kataku. Aku bukan orang matematika, pun tak tahu sejarah angka. Aku miskin pengetahuan tentang bagaimana angka pertama kali muncul, mengapa di sebut ‘satu’? mengapa berbentuk lonjong dan tipis menyerupai tiang listrik atau lebih sering mirip sapu lidi? Siapa yang pertama kali menciptakan dan mendeklarasikannya? Guru matematikaku pun tidak pernah membahas soal itu. mungkin bagi mereka itu tidak penting, pula tak berkonstribusi pada nilai matematika murid. Namun, guru sejarah pastilah menyadari bahwa filosofi itu perlu. Semua berakar dari sejarah, dan akan berakhir menjadi sejarah.
 
Angka satu itu kutemukan pada diriku puluhan tahun silam. Lalu, kembali aku menemukanya pada dirimu beberapa tahun setelahnya. Berkali-kali kuutak-utik hasilnya tetap sama! ‘Satu ditambah satu’ itu sama dengan ‘dua’. Aku paksakan mencari cara lain, rumus lain. Aku putar-putar, aku andai-andai hasilnya tetap sama = 2. Saat itu hatiku pilu. Memberontak pada keadaan, pada diri sendiri. Mengapa aku harus berangka ‘satu’? Dan mengapa kaupun demikian? Aku berimajinasi merubah diri menjadi ‘nol’, atau kau yang berubah menjadi ‘nol’.  Tapi wanita lebih pantas menyandang ‘nol’. Itulah mengapa kita tidak bisa menjadi ‘satu’. Sekuat apapun kita berusaha, hasilnya akan menjadi ‘2’. Tidak pernah bisa ber’satu’.

Sejak saat itu aku tak pernah lagi bermain angka. Tapi, kali ini lagi-lagi aku bermain prakiraan seperti dulu, kali ini bukan angka, tapi kartu. 

Derap cemas membalutiku. Kupejamkan mata, menarik nafas. Buka! Dan munculah Raja Emperor. Kata Emperor mengingatkanku pada salah satu tokoh kartun Dragon Balz yang dulu kutoton setiap minggu tanpa absen. Berarti seperti raja hijau dan menjijikkan itu? apa benar separah itu? kubaca penjelasan, Ego tinggi, haus kekuasaan, ambisius, melakukan apa saja demi keinginan. Terlihat santai dan tenang, bertarget tinggi, supel, loyal, decision maker, pemimpin, pengambil resiko. Saya menarik nafas! Hampir setiap kata yang kubaca terasa panas.

Perjalanan belum berakhir, satu lagi. Setelah detail masuk, mataku kembali terpejam, menarik nafas, dan Emperor. Sama. Sekejap aku kecewa. 

Kartu yang sama apa bisa berarti angka yang sama? Heeiiii...., ini permainan kartu bukan angka, kata setan kanan. Iya tapi hasilnya sama apa bedanya dengan kasus satu ditambah satu, kata si kiri. Aku bingung mendengar, keduanya bertengkar berusaha mendominasiku. Kuabaikan ke dua setan. Aku sendiri yang harus putuskan. Kejadian bodoh dulu tidak boleh terulang. Mencoba mengganti ‘satu’ menjadi ‘nol’ maupun meneruskannya meski sudah tahu hasilnya ‘dua’ bukan ‘satu’. Tapi ketika aku berusaha objektif, yang tergambar adalah kekecewaan. Sama berarti cukup, sama itu berarti tidak bisa melengkapi. Dan itu artinya berarti.......’dua’. Tidak bisa bersatu. Tidak mungkin bersatu.

Huufffttt....aku menghela nafas. Kali ini aku dihantui ‘satu’, ’dua’, ’emperor’, ’egois’, ’ambisius’ semua berputar-putar menimbulkan guratan-guratan cahaya yang menyilaukan mataku, pusing. 

Rasanya seperti ingin mengelak. Tapi bila demikian, itu berarti sama halnya dengan kebodohanku dulu membiarkan ‘satu tambah satu’ berjalan, berharap waktu akan mengubahnya menjadi ‘satu’, bukan ‘dua’.  

Logikaku kalah. Harusnya semua berakhir. Tapi selalu saja rasa melemahkan logika. Jadi saat itu kuputuskan, aku satu langkah di belakangmu. Ini hanya soal garis. Bila tidak bisa dibuat horizontal, maka kita buat vertikal. Asal sela jemariku tak lagi kosong.

No comments:

Post a Comment

Perkara Makan dan Saudaranya

Makan adalah perkara rumit dalam hidup saya. Ini tak semudah seperti yang digambarkan orang-orang yang berkata bahwa itu hanya soal ...