November 22, 2013

Ada [Hati] di Solo



Perjalanan terindah bukanlah yang terjauh, bukan pula yang termahal,
Perjalanan terindah adalah, ketika kita mampu menemukan sebuah hati di tempat yang sedang kita jelajahi  
~ Ire Rosana~


Tanggal merah adalah syurganya para pekerja.  Sebuah waktu ‘keramat’ yang oleh kebanyakan orang digunakan untuk menjelajahi rencana yang telah disusun jauh-jauh hari. Dan rencana kami, ingin mengisi waktu ‘keramat’ tersebut di sebuah kota kecil bernama, Solo.

1 Sura 1435 H......
“Cieee...cieeee...yang mau kencan ke Solo....”suara kakak mengagetkan saya yang tengah sibuk berdandan.
“Bukan kencan Mbaaaak....!Sama temeeennn...!” kata saya kesal.
“E..cieee...kencan nih yeee....,” godanya lagi.
“Iiih...bukan kencan!” saya tambah kesal.
“Kencan!”
“Bukan!”
“Kencan! Kencan! Kencan!”
“Bukan!bukan! bukaaaannn....!” tolak saya histeris.
Kakak saya terpingkal-pingkal mendapati muka saya kesal.  Tiba-tiba dia mendekatkan wajahnya ke wajah saya. Suaranya berubah lirih dan mistis,
“Hati-hati, ini su..ro...naa..n lho....,” Suaranya membuat bulu kuduk saya berdiri.
“Ga’ takut weeeek....!” kata saya sembari menjulurkan lidah.

Kakak ipar saya memang sedikit usil.  Dia baru akan berhenti menjahili saya ketika saya sudah terlihat kesal, marah, malu dan terjerat dalam pusaran rencana usilnya.
Memang masih banyak warga yang percaya mitos mengenai 1 Suro. Konon katanya bahaya pergi-pergi atau berkunjung ke tempat wisata pada tanggal 1 Suro, akan terjadi malapetaka. Padahal menurut saya, tidak ada yang mistis di tanggal tersebut, tahun baru islam justru tanggal baik, penuh berkah. Dan saya mengawali perjalanan hari itu dengan ‘Bismillah....’
Hari itu cerah, jalanan ramah, tidak begitu ramai pun tidak begitu sepi.  Itu pertama kalinya saya dan teman saya ke Solo, berdua saja dengan motor. 
Lalu lintas terlihat mulai padat, tanda kami sudah dekat dengan kota tujuan. Butuh 2 jam untuk sampai di Solo. Pertama, kami mulai menelusuri jalan utama Solo, jalan Slamet Riyadi.
Mata saya tak hentinya menoleh ke kanan kiri. Ada yang menarik di sana.  Sudut-sudut nyentrik terlihat  di sepanjang jalan utama Slamet Riyadi. Sebuah bentuk kecil dari perhatian kota Solo terhadap warisan leluhur.  Rupanya kota ini menghargai dan peduli terhadap budaya. Terlihat beberapa papan nama toko yang ditulis dengan huruf Jawa.  Ada juga tokoh-tokoh perwayangan yang terpampang besar di tembok depan sebuah mall, atau 2 topeng besar yang terpampang di pojok trotar. Kota solo mencoba membentuk karakter dengan membubuhkan unsur-unsur budaya di setiap sudut.
Sumber : Doc. Pribadi

Beruntung kami menggunakan motor dan saya duduk di belakang, jadi teman saya tidak melihat raut muka saya yang sedari tadi cengar-cengir sambil memotret jalanan.  Habisnya lucu dan unik melihat tokoh perwayangan di tempel di depan mall, bukan di gedung budaya lho, ini di ‘mall’. 
Jalan mulai rapat oleh kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang. Perhatian saya tersita pada sosok unik yang mondar-mandir di Jl. Slamet Riyadi. Tak hanya satu, lama-lama jumlahnya semakin banyak. Rupanya mereka adalah tukang parkir. Uniknya, mereka semua berseragam lurik. Bercelana hitam lengkap dengan blankon hitam. Ternyata upaya pemberian seragam lurik tersebut bermakna tertentu. Baju lurik mengisyaratkan keramahan, tujuannya agar para juru parkir tidak arogan dan tetap menjunjung tinggi keramahan yang sejauh ini masih menjadi ciri khas kota Solo. Blankon hitam itu sendiri berfilosofi menep, jadi orang yang memakai akan berpikiran menep atau tenang.  Hihi..lucu dan unik ya?!
Kami sengaja menggunakan google sebagai pemandu wisata kami.  Rupanya google benar seorang pemandu wisata yang baik. Kami bisa menemukan penjelasan-penjelasan dari website maupun blog para traveler yang pernah mengunjungi Solo sebelumnya. Hal tersebut sangat berperan dalam menjelaskan apa yang tengah kita lihat ketika itu dan sekaligus membunuh rasa penasaran.
Tak terasa waktu Dhuhur memanggil kami untuk menghentikan perjalanan. Sigap teman saya mengambil belokan untuk menemukan sebuah masjid agar kami bisa segera salat. 
Sumber : Doc. Pribadi
Mudah bagi kami menemukan masjid, tanpa sengaja yang kami temukan adalah masjid Al Wustho Mangkunegaran. Bangunannya yang nyentrik menarik perhatian kami untuk berbelok. Teman saya bergegas menuju area wudhu sedang saya masih asyik memperhatikan dan sesekali memotret bangunan dengan arsitekturnya yang khas. 
 
Sumber : Doc. Pribadi

Sumber : Doc. Pribadi

Awal ketika kami berhenti saya sedikit kesusahan menemukan nama masjid tersebut, kalau masjid-masjid pada umumnya namanya tertera jelas pada papan nama, kali ini saya tidak bisa menemukannya. Tulisan yang terpajang pada depan masjid semua berbentuk kaligrafi arab, baru kemudian setelah saya masuk lebih dalam, saya menemukan prasasti yang menyebutkan nama masjid tersebut.  Rupanya masjid Mangkunegaran sudah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah. Luas keseluruhannya kurang lebih 4200 m². 
Sumber : Doc. Pribadi
Semakin penasaran, saya melangkah ke arah selatan, di sana terdapat bangunan kecil berbentuk bundar.  Namanya Maligin. Konon katanya maligin dulunya sering digunakan untuk tempat sunatan/khitanan.  Bentuknya cukup unik dan indah, hanya saja saya mengernyit ketika mencoba membayangkan aktivitas khitan di Maligin. Hiii..., saya mencoba memotong imajinasi agar tidak semakin larut.
Sumber : Doc. Pribadi
Selain langit-langitnya yang unik dan tempat salat utama, masjid Mangkunegaran mempunyai markis dengan panjang 5 x 5 meter dengan hiasan kaligrafi arab. Tulisan-tulisan arab tersebut menarik perhatian saya untuk mencoba membacanya, walaupun akhirnya saya gagal. 
Sumber : Doc. Pribadi

Di sebelah utara masjid terdapat kantor pengurus masjid. Selain kantor, tempat tersebut juga berfungsi sebagai perpustakaan umat.  Ukuranya kurang lebih 9 x 6 meter. 
Di depan kantor pengurus terdapat sebuah menara dengan tinggi 25 meter dan diameter 2 meter.  Dari menara itulah suara adzan berkumandang ke area sekitar.  
“Mau sewa mukena Mbak?” suara seorang nenek mengagetkan saya.
Mboten Bu, (Tidak Bu)” jawab saya.
“Ooo sampun salat nggih? ( Oooo, sudah salat ya?)” tanyanya lagi.
“Kebetulan lagi mboten salat, (Kebetulan sedang tidak salat)” Jawab saya sembari duduk kurang lebih 4 meter dari tempat si nenek menggelar persewaan mukenanya.
Sumber : Doc. Pribadi
Teman saya sudah selesai salat. Sepertinya kami masih malas beranjak, masih ingin rehat dan menikmati ketenangan di masjid itu.  Tiba-tiba si nenek bercerita lantang karena jarak kami lumayan jauh.
Kula mpun disik-disikan manggon mriki Mbak.  Nek mboten cepet-cepet nggeh kenggonan kancane,(Saya sudah cepet-cepetan bertempat di sini Mbak.  Kalau tidak cepat-cepat ya ditempati teman)” si nenek bersuara dari tempat duduknya.  Rupanya beliau ingin mengajak saya mengobrol.
Wonten sekawan masjid Mbak, mriki seng setunggal, (Ada 4 masjid Mbak, di sini salah satunya)” si nenek melanjutkan ceritanya.  Saya tersenyum sembari menyimak apa yang beliau ceritakan dari jauh. Si nenek bercerita semakin jauh, beliau bercerita mengenai imam masjid Mangkunegaran, juga mengenai keakraban MU dan Muhammadiyah di daerah tersebut.
Saya melihat seorang ibu yang juga pengunjung tengah beristirahat di emperan masjid tak jauh dari tempat si nenek berdekam.  Ibu tersebut memberi saya kode, membuat garis miring di depan dahinya dengan jari telunjuk, ‘gila’. Saya hanya tersenyum, menurut saya si nenek tidak gila. Dia hanya mencoba memberi keramahan pada pengunjung dengan cerita mengenai masjid yang kala itu saya tapaki. Lihat, betapa gembiranya si nenek ketika saya mau menoleh untuk sekadar mendengar beliau bercerita sembari memberikan feedback positif dengan sedikit-sedikit menanggapi. 
Hari kian siang, kami pun berencana melanjutkan perjalanan agar tidak kesorean. Sewaktu saya mengulurkan uang parkir, si penjaga yang masih muda mengarahkan saya untuk memasukkannya langsung ke dalam kota amal.
Karena buta dengan kota Solo, saya pun pasrah kemanapun teman saya membawa saya pergi.  Sekalipun dia mau menculik saya, 100% saya jamin berhasil,hehehe.
“Kemana nih, Re?” sesekali dia bertanya. 
“Haduh, kemana ya mas, terserah kamu, aku ikut aja deh,” jawab saya sekenanya, pasrah.
Sebenarnya saya kasihan sama dia karena semalam masih kerja lembur, belum lagi besok harus masuk kerja lagi, pasti lelah.  Entah apa yang bisa saya lakukan untuk menyenangkannya, sekadar terima kasih karena sudah menyediakan waktunya untuk saya. 
Tiba-tiba saya menangkap kegembiraan dari suaranya ketika di depan kami telah berdiri gagah gerbang menuju keraton. Alhamdulillah, ndak nyasar, hehe.
Sumber : Doc. Pribadi

Rupanya kota Solo benar-benar ramah.  Seramah kelancaran kami menemukan tujuan tanpa radar.  Kota ini seolah tak ingin memperumit pun menyesatkan pengunjungnya. Jalur selanjutnya seperti air, tinggal diikuti maka kami akan sampai pada muara pertama yaitu, parkiran keraton. 
Sumber : Doc. Pribadi

Hari itu keraton kasunanan nampak ramai.  Banyak turis lokal berkunjung dan bergantian mencoba mengabadikan bukti kedatangan mereka dengan berfoto bersama.  Kebetulan kami pas parkir di dekat kompleks alun-alun lor/utara.  Bila terus berjalan, nantinya akan menemukan kompleks-kompleks berikutnya yang berjumlah 6 kompleks.  Setelah alun-alun lor/utara, kemudian Kompleks Sasana Sumewa,
Kompleks Sitihinggil Lor/Utara,
Kompleks Kamandungan Lor/Utara,
Kompleks Sri Manganti,
Kompleks Kedhaton,
Kompleks Kamagangan,
Kompleks Srimanganti Kidul/Selatan  dan Kemandungan Kidul/Selatan,
serta Kompleks Sitihinggil Kidul dan Alun-alun Kidul.
 
Sumber : Doc. Pribadi
“Re, berhenti di situ deh,” rupanya saya mau dipotret, duh, malu sebenarnya.
“Ehmm...keliatan kurang seksi...” kata saya sedih melihat hasil jepretannya.
Teman saya hanya tersenyum, semoga bukan senyum iba.
Sumber : Doc. Pribadi
Entah mengapa saya selalu tertarik dengan langit-langit pada bangunan Solo, menurut saya unik sekaligus menjadi ciri khas dari suatu daerah. Bila kita jeli, beda daerah, beda pula cara orang mengaktualisasi langit-langit. 
Sumber : Doc. Pribad

Sumber : Doc. Pribadi

Tentu kami tak ingin kehilangan momen mengabadikan ‘langit-langit’ Solo sebelum kami beralih untuk mengisi perut yang mulai mendengangkan lagu keroncong Bengawan Solo. Bila lagu bengawan Solo berdendang di perut saya, maka berarti lagu Stasiun balapan milik Didi Kempot berdendang di perut teman saya, hahaha....
Tiba-tiba mata saya tertuju pada keramaian di area sebelah, 
Sumber : Doc. Pribadi

“Mas, ini pasar Klewer ya?” tebak saya.
“Iya,” jawabnya.
“Tau dari mana?” kala itu kami hanya menemukan nama usang berhuruf Jawa saja dan tidak menemukan arti plat nama tersebut dalam bahasa Indonesia.
“Saya bisa baca aksara Jawa lho, itu bacanya ‘Klewer’,” jawabnya dengan percaya diri.
“Ah masa’ sih, ga’ percaya” saya menjulurkan lidah bermaksud menggoda.
Kami terus berjalan sebelum pada akhirnya menemukan plat dengan bahasa Indonesia, terbaca Pasar Klewer terpampang megah di atap bangunan pasar. Baru deh saya percaya, hehe. Owh ini rupanya pasar yang tersohor dan menjadi buah bibir di antara teman-teman saya?  
Sumber : Doc. Pribadi

Sumber : Doc. Pribadi

Bagi para penggila batik murah dan pecinta shopping murah pasti kenal dengan pasar klewer.  Tak ayal beberapa teman saya yang mempunyai bisnis online pun mengambil stock barang dari tempat ini. Kata mereka, di sini harus berani menawar supaya dapat harga paling minim.  Untuk resheller bisa membeli dengan cara partai besar sehingga harga benar-benar bisa ditekan seminim mungkin.
Pasar Klewer siang itu ramai. Buggh..terdengar dentuman orang tengah menurunkan lusinan batik dari mobil box.  Di pelipir jalan terlihat para pedagang oleh-oleh menggelar dagangannya. 
Sumber : Doc. Pribadi
Jalanan di sekitarnya penuh dilalui orang, kendaraan bermotor dan becak.  Becak di solo cukup unik, pada bagian sisinya berbentuk seperti kupu-kupu, beda dengan becak Semarang dan Jogja yang ke dua sisinya melengkung biasa. 
Akhirnya kami menuntaskan rasa lapar di sebuah area makan lesehan di dekat pasar Klewer. Selesai makan siang, kami menuju ke masjid Agung keraton Surakarta. Namanya juga Agung/ageng, pastinya besar. Cukup untuk menampung banyak jemaat.  Masjid ini ramai benar pengunjungnya, mungkin letaknya yang strategis dekat dengan tempat wisata, jadi selain salat, pengunjung bisa beristirahat/ leyeh-leyeh di serambi masjid.  
Sumber : Doc Pribadi

Sebelum masuk masjid terdapat gapura besar bernama gapura paduraksa.  Warna dan arsitekturnya mengingatkan saya pada beberapa tempat di dunia, tepatnya di India dan di perancis (rada jauh beda sih,he).  Tapi lucu dan unik.  Di sebelah kanan terdapat menara tinggi, fungsinya sama seperti menara masjid Mangkunegaran pusat suara adzan.  

Sumber : Doc. Pribadi

Sumber : Doc. Pribadi

“Mas, di sepanjang jalan itu keren banget lho kalo’ buat foto-foto,” kata saya sembari menunjuk area jalan di balik gapura utama.
“Di sebelah mana? Yang itu?” kata dia memastikan.
“He em, bagus untuk foto ala model-model gitu, dandan pake’ gamis,” maksud hati saya mau bilang ‘prewedding’ tapi feeling saya bilang jangan, ntar salah tangkep lagi dia.
Serambi masjid memiliki langit-langit berwarna biru, simbol kedamaian, mungkin itu kali alasan orang nyaman berada di bawahnya (pikir saya). 
Sumber : Doc. Pribadi

Tapi saya perhatikan, baik di keraton, masjid Agung, dan beberapa bangunan yang saya temui didominasi warna biru. Perhatikan hasil jepretan saya berikut ;
Sumber : Doc. Pribadi

Sumber : Doc. Pirbadi

Sumber : Doc. Pribadi
Nah, bagi pecinta warna biru pasti suka kolaborasi warna kesukaan mereka membalut bangunan-bangunan bersejarah.  Kesannya menjadi ada keunikan dalam kedamaian.  Sebuah kolaborasi eksotis, bukan? Hihihi....
Waktu sudah merapat menuju sore.  Kami memutuskan kembali ke kota kami karna takut kemalaman.  Sebelum pulang, sesuai musim, kami dimandikan terlebih dahulu oleh hujan Solo.  Setidaknya, kami tidak sempat menginap tapi sempat mencicipi air dan mandi di tengah jalan, hahaha.  Namun, air yang mengalir tak membawa larut kisah perjalanan pertama kami ke Solo. Pribadi untuk saya, akan menjadi kenangan manis sepanjang sejarah hidup, hmm...senyum-senyum.
Sumber : Doc. Pribadi
Di perjalanan pulang, saya sempat memejamkan mata, berdoa agar waktu berhenti sejenak, tapi gagal,hehehehe.  Karna waktu tak mungkin berhenti, untuk mematri kenangan hari itu, saya rangkai kembali dalam imajinasi potongan-potongan kejadian saat berada di Solo. Tiba-tiba saya tertawa geli mengingat pembicaraan dengan nenek persewaan mukena, begini katanya;
Iku sopo? Adek nopo Calon? (Itu siapa? Adek atau calon?)” si nenek bertanya menunjuk laki-laki yang duduk setengah meter dari saya.
Mboten ko’ Bu, rencang...(Bukan kok Bu, teman...)” saya perhatikan teman saya sepertinya tidak mendengar.
Ojo ngomong konco! Wes...kene! tak suwunke marang gusti Allah ben diparingi restu! (Jangan bilang teman, Udah sini, Saya mintakan ke Allah biar direstui!)” kata nenek lantang. Saya mlongo.
Diamini Mbak!” perintah dia selanjutnya.  Begitu tegasnya si nenek berkata, refleks saya bilang,
“Eh iya, Amin!” ups! Kenapa saya ikuti perintah si nenek?
Saya menoleh ke teman saya, sepertinya dia tidak mendengar. Tapi, kenapa rasanya ada sesuatu yang terjadi di hati saya. Si nenek rupanya membantu saya menjelaskan sebuah perasaan yang selama ini terpendam, tidak saya sadari dan cenderung saya hindari. Hmm....dan sepertinya saya butuh berdamai dengan perasaan itu.
Perjalanan pulang dengan penuh isi, baik di otak maupun di hati. Tangan saya terkadang harus mencengkeram kuat jaket orang di depan saya karena sepertinya dia kurang bisa membedakan mana sepeda motor dan mana jetcoster. Tapi, wuuuuuhuuu.....sebuah perasaan lega hadir di antara pacuan adrenalin. Alhamdulillah, jetcoster tiba tepat waktu dan selamat sampai tujuan, hehehehe.
Sebenarnya saya sudah menemukan kesan terindah tentang Solo sedari pertama kali kaki saya berpijak di tanah Solo, tepatnya di Masjid Mangkunegaran dan bertemu si nenek. Buat saya solo tidak hanya menghadirkan keramahan orang dan kota, tapi solo memiliki sebuah hati yang ternyata berhasil menuntun hati yang lain untuk bisa mengenali dirinya sendiri.
Semoga bisa ke Solo lagi untuk waktu yang lebih lama. Dengan siapa?? Wallahu 'alam..! eh, tapi saya berharap dengan orang yang sama, hehehe. Semoga!


Hati adalah mahkota manusia, bila kita punya sebuah hati, itu artinya kita punya segalanya.
~Ire Rosana Ullail~

No comments:

Post a Comment

Review Novel To Kill A Mocking Bird

Doc. irerosana Perlu waktu yang tidak sebentar bagi Amerika untuk mendewasakan diri, menerima bahwa warna kulit bukanlah sesuatu ya...