November 9, 2013

Cafe Remang


Orang lebih suka menyebut tempat ini, cafe remang.

Di sini, aku mencuri pandang ke seorang wanita bermata biru.  Di matanya ada binar penuh harap.  Aku menganggap dia wanitaku, meski dia tidak merasa.  Sayang, harapan itu tertuju pada laki-laki di hadapannya.  Srigala penghancur hati wanita. Aku sering mencium aroma adegan yang sama di tempat ini.  

Kita lihat, dalam 10 hitungan, srigala itu akan pergi meninggalkan wanitaku seorang diri. Dan benar, srigala pergi.  Mata biru wanitaku berubah sendu, butiran air keluar dari ke duanya. Ingin aku merengkuh dan menghangatkan bibirnya yang ranum. Sayang, aku hanyalah kopi yang tinggal ampas di tangan lembutnya. 

2 comments:

  1. ihhhh kereeeennn! ternyata kopiiiii... bahhhh! pernah nulis juga (tapi cerpen) dengan twisted ending rada mirip ini, tentang cangkir kopi yang menjadi saksi bisu tapi gak di-publish di blog karena diikutkan dalam 1 lomba nulis dan menang. :D

    ReplyDelete
  2. Eh, kalo' menang lomba cerpen gitu setelahnya boleh share ga'? share dong, jadi pengen baca :D

    ReplyDelete

Perkara Makan dan Saudaranya

Makan adalah perkara rumit dalam hidup saya. Ini tak semudah seperti yang digambarkan orang-orang yang berkata bahwa itu hanya soal ...