April 9, 2014

Demokrasi Hati




Kukira masa tenang itu hanya ada di pemilu. Tapi ternyata itu juga ada di antara aku dan kamu.  Entah masa tenang, entah masa suram, atau batas mati. Tapi, masa yang kita lalui ini benar menggambarkan sebuah ketenangan. Tanpa gejolak emosi, tanpa sms yang menghantam bertubi-tubi, tanpa keresahan dan kecemburuan hati. Mengingat itu semua, ada kalanya menyakitkan, namun kadang pula kurindukan.  

Aku tak tahu lagi apakah kerinduan masih menjadi lambang cinta. Seperti yang pernah terungkap sebelum-sebelumnya.  Bisa jadi rindu ini hanya sebuah lambang sisa, dari guritan-guritan kenangan luka lalu kita.  Aku pun tak tahu lagi apa fungsi dari jatuh hati, bila tak bermuara pada saling memiliki. 

Mencintai dikala sunyi ternyata lebih menentramkan, meski di sana rasa rindu akan terasa lebih kelam. Hmm....bahkan aku tak sadar ketika mengetik kata ‘mencintai’. Apa itu pertanda? atau itu cermin? atau sekadar permainan kata-kata?

Kadang semua kesemuan dan teka-teki itu berhimpun dan mengukuhkan, betapa aku sudah kehilangan kuasa atas diriku sendiri.  Aku tak lagi bisa mendeteksi jawaban-jawaban murni diri sendiri. Mungkin karena masalah-masalah itu sudah mencampuri. Masalah? Apa kita bermasalah? Entahlah.... aku pun tak bisa mengurai ataupun mengingatnya! Kita bermasalah, namun kita tak ada masalah!

Sudahlah! Seluruh rentetan kata ini cuma rasa penasaran, aku hanya ingin bertanya, di pesta demokrasi hari ini, kamu pilih warna apa

Karna jauh sebelum pesta demokrasi, kita sudah sama-sama sadar, soal hati haruslah demokrasi!

No comments:

Post a Comment

Perkara Makan dan Saudaranya

Makan adalah perkara rumit dalam hidup saya. Ini tak semudah seperti yang digambarkan orang-orang yang berkata bahwa itu hanya soal ...