June 24, 2014

“Ay.....Menurutmu Cinta Itu Apa?”



 
Langit sudah gelap ketika sepeda motorku memasukki gang sempit menuju tempat yang kusebut, rumah. Aku datang dengan sejuta rindu.  Pada Ayah dan Ibu, pada rumah, halaman, tanah, udara dan.... kamu, Joan.

Kamu yang sudah menunggu kedatanganku.  Aaah.. sudah berapa lama kau duduk di situ? Jika sejam yang lalu, maka aku ingin datang satu jam sebelumnya. Bukan aku tak ingin menghargai tamuku, tapi aku terlalu lelah dengan perjalanan dengan pikiran yang tak pernah berhenti berputar-putar. 

Terlanjur dan hatiku pun sedikit luluh mengingat sms mu yang selalu datang berkali-kali tanpa pernah sedikit pun kubaca. Bukan aku tak mau, kala itu aku benar sibuk! Deru suara sms yang kau kirim seolah tak mengerti betapa aku tidak sedang butuh pesan basa-basimu. “Lagi apa?”, “sudah makan?” atau “Udah tidur?”.  Pesan semacam itu tak mampu mencuri perhatianku dari kesibukan.

Antara sedih dan syukur Hpku hilang minggu lalu. Sejak itu hidupku jadi lebih tenang. Sengaja tak ku aktifkan kembali nomer pemberianmu itu. Aku merasa lebih tentram dan tenang tanpa dering sms dan telephon. Rasanya hidupku, sempurna..

Dan kini kau hanya terpaku, di sebelahku yang sungguh setengah mati menahan kantuk dan lelah. Sepuluh menit...lima belas menit aku menahan mulutku untuk tidak mengusirmu.

“Ay...menurutmu cinta itu apa?” kau bertanya lirih. Cinta? Kau menungguku berjam-jam, menahan kantuk serta lelahku hanya untuk bertanya apa itu ‘cinta’?

“Huuuffftt...” Helaan napas kesal yang tak mampu aku tahan. Aku berharap kau tak mendengarnya.

“Nggak tau!” jawabku singkat. Nada kesal sedikit sulit kutepis.  Aku nggak tau Joan, please jangan ganggu aku sekarang. Aku cape’, seharian bekerja  di lapangan, banyak hal yang tak kau tahu di luar sana. Aku melihat biru langit, hingar bingar pasar, tawa dan rengekan anak-anak kecil di gerbang sekolah, pemuda-pemudi bengis di sepanjang trotoar,banyak. Kamu nggak bakal ngerti! Aku cape’ please...

Andai semua itu mampu meluncur dari kedua bibirku. Mungkin ini semua akan berakhir. Kau meminta maaf karena datang di waktu yang tidak tepat, dan aku akan berpura untuk tidak bermaksud seperti itu. Lalu kau pulang dan aku bisa merebah di kasur tuaku. Akan kukunci kamarku agar Ibu tak menggangguku dan memaksaku untuk makan malam, lalu memijat-mijat betisku sembari memintaku bercerita mengenai petualangan-petualanganku. 

Dan itu semua tak akan pernah terjadi selama kau masih di sini.

Beri aku waktu. Satu hari, eh, dua hari untuk meluruhkan seluruh kesalku.  Saat itu aku mungkin sudah mandi dan wangi lalu berdandan cantik dengan rok panjang dan jilbab warna terang seperti permintaanmu.  Bukankah saat itu semua terlihat lebih indah? Tak bisakah kau menunggu hingga hari itu.  Bukan hembusan napas kasar yang akan kusuguhkan.  Bukan pula keheningan semacam ini. Aku berjanji Joan, bila kau pulang malam ini dan menemuiku 2 hari lagi, aku akan kembali menjadi Ayni mu yang dulu. Ceria, cerewet dan senang “ngelendot” manja di kedua lenganmu. Tapi sekarang pergilah..

“Sepertinya kamu harus istirahat Ay,” kau menoleh dan tersenyum manis ke arahku.

“Hmm....kembalilah 2 hari lagi Jo..” kuberanikan diri untuk mengukir batas sembari tersenyum semanis mungkin.

Kau tak menjawab. Tapi rekahan senyum dari ke dua bibirmu tak pernah surut. Kau memegang jemariku, lalu mengecupnya. Mengusap-usap lembut pipiku lalu beringsut pergi.

Suara derum motormu semakin menjauh. Aku terpaku dengan dideru rasa tak keruan antara senang karena sebentar lagi aku bertemu dengan kasur rasa bersalah karena tlah memaksamu pergi.

“Ay,” suara Ibu membuatku menoleh.

“Ibu tak dengar kamu datang.” Buru-buru kucium punggung tangannya.

“Iya, Ay datang sudah dari tadi Bu, ngobrol bentar sama Joan..,” balasku sembari memunguti tas ransel yang tergeletak di lantai.

“Joan..?!” suara Ibu tak kuhiraukan. Rasa kantuk dan lelah membelai-belaiku untuk segera menuju kamar, meninggalkan Ibu dengan muka penuh keheranan sendirian di teras.

 Tok..tok... suara ketukan di pintu kamarku. Ah Ibu, aku capek Bu! Tak kuhiraukan ketukannya.

“Kau baik-baik saja, Ay?” masih kudengar sayup-sayup suara Ibu, lalu mengecil, jauh dan semakin jauh. Aku sudah terlelap di alam mimpi.

“Kau baik-baik saja kan, Nak..?”

“Ibu Mengerti perasaanmu. Kita harus ikhlaskan Joan Nak...?!

“Ay...kau tak ingin ke tujuh harinya Joan?”

“Ay...?!”

“Kenapa kamu tak pernah membalas sms atau pun mengangkat telefon Ibu..!?!?”




No comments:

Post a Comment

Review Novel To Kill A Mocking Bird

Doc. irerosana Perlu waktu yang tidak sebentar bagi Amerika untuk mendewasakan diri, menerima bahwa warna kulit bukanlah sesuatu ya...