28 September 2014

Petualang, Secangkir Kopi dan Obrolan Hangat



Pic By Galihsan


Hampir tengah malam ketika sebuah pesan bbm berisi puisi milik Octavio Paz masuk menyita perhatian. Tertuju bagi seorang wanita yang resah karena harga dirinya tengah terinjak-injak oleh kebaikan seorang kekasih. Puisi tersebut adalah bala bantuan dari seorang teman yang berkata “ini tentang orang yang sedang kasmaran tapi terpisah jarak, mereka dihubungkan oleh pelangi dan kata-kata”. Entah tafsiran si teman benar atau tidak.

The Bridge

Between now and now,
Between I am and you are
The word bridge
                  
Entering it, you enter yourself
The world connect
And closes like a ring

From one bank to another
There is always
A body stretched

From one bank to another
There is always
A body stretched
From one bank to another
There is always
A body stretched
A rainbow
I’ll sleep beneath its arches
Si wanita penerima pesan tersenyum. Rupanya ada hal lain yang ternyata mampu membungahkan hatinya selain suara dan pesan digital dari orang yang selalu dirindukannya.  
Hati kekasih mana yang lebih kuat dari hati kekasih seorang petualang?  Jarak bukan hal berarti hingga perlu diratapi, itu sudah menjadi makanan sehari-hari. Namun si wanita tengah gundah, ia terngiang sebuah ucapan “jarak dan waktu tidak bisa bohong. Jarak bisa dilipat tapi meluangkan waktu belum tentu sempat.” Kali ini ia sedikit geram. Lumpuh oleh jarak yang selama ini telah menguruninya rindu. Hatinya pilu oleh sebab pembalasan dari si kekasih atas ulahnya beberapa waktu lalu.
Hari ini beberapa jam sebelum pagi, seorang petualang- yang tak lain adalah kekasihnya- telah memberinya kejutan buku yang selama ini ia impi-impikan, jumlahnya 5 dan entah ia dapat dari mana karena, setau si wanita, buku-buku itu sudah lenyap dari peredaran. Harusnya ia senang, tapi tak begitu yang terjadi. Bagaimana kekasihnya telah mencuri momen yang harusnya ia menangkan.  Hari ini 27 tahun lalu, kekasihnya terlahir melalui raga mungil untuk melihat dan menghirup udara bumi untuk pertama kali. Betapa ia sungguh benar ingin melipat jarak dan memberi plakat kemenangan atas usaha si petualang bertahan hidup hingga saat ini. Namun keinginannya tiba-tiba musnah karena ulah si kekasih yang telah terlebih dahulu mengirim pesan kejutan itu.
“Kekasihku ,gendheng!” umpat si wanita yang tak mampu menahan kekesalan.
Dia petualang, yang kepada rumah ia katakan akan kembali berpulang.  Setiap jengkal langkah adalah kerinduan bagi ia yang menanti. Hingga tiba waktunya kembali, kekasihnya, si wanita pejuang rindu, akan membuatkan secangkir kopi hitam, pahit dan panas. Seperti permintaan si petualang, pahitnya kopi ia rendam bersama gula aren yang ia dapat dari kota seberang.  Lalu si petualang mulai menyeruput dan mencari keasaman yang telah lama ia rindukan.
Hingga 3 kali cangkirnya terangkat, barulah ia akan mulai bercerita. Tentang Bagaimana ia menempuh jarak dan menakhlukkan waktu, tentang usahannya melawan langkah yang terkadang surut.  Kepada kehadirannya yang tak selalu, si wanita merelakan perhatian dan pendengarannya untuk mencerna setiap cerita satu demi satu.  Biasanya, semasa mereka terpisah, si petualang akan mendengar keluh kesah serta rindu si wanita dari telepon yang panasnya cukup menyengat telinga.  Sesekali ia usap air mata si wanita dengan kabar dan harapan. Kini, selagi bersama dan bisa menatap mata kekasihnya dari jarak satu meter, ia memilih untuk menikmati secangkir kopi panas dengan obrolan hangat.
Ketika sadar kebersamaan itu rupanya masih mengantri di balik pintu kenyataan, Ia merasakan pahit yang teramat merebak ke seluruh bagian tubuhnya. Terlebih ketika hari peringatan kelahiran si petualang tak mampu ia menangkan. Bila harapan konyolnya bisa terkabul, maka ia akan mencubit lengan si petualang hingga membiru.  Mungkin hanya itu yang sanggup meredakan kegeramannya selain dari pelukan yang sejauh ini hanya berujung harapan. Ia akan mengomel hingga hatinya puas dan telinga sang kekasih berangsur panas dan lemas.  Ia akan menangis meronta dengan dalih hasil rindu yang entah sudah berapa lama ia berusaha benam. Barulah tangisannya surut ketika mendapati kekasih di hadapannya hanya tersenyum melihat ulahnya yang begitu jenaka.
Butuh lebih dari setengah jam untuk membuat suasana mereda.  Setelahnya, ia baru bisa menyajikan kopi panas kesukaan kekasihnya. Dan obrolan hangat itu pun kembali terulang.
“Selamat menempuh hidup dengan status usia baru,” ujarnya tepat ketika petualang selesai menghirup aroma pekat kopi hasil racikannya.
“.......”
“Terima kasih sudah bertahan sejauh ini. Mungkin aku terlalu bodoh telah berkali-kali membelikanmu kado yang salah. Kemeja salah ukuran, parfum salah, gambar hancur.... aku merasa tak mengerti apa-apa tentangmu,” lanjut si wanita. Petualang diam. Tangannya menjauhkan bibir cangkir dari bibirnya.
“Mungkin ucapanku ini pun salah, tapi mungkin juga benar. Tapi aku ingin menemanimu, bertahan menikmati aliran rindu. Saat dekat, saat jauh aku akan selalu ada untukmu,” lanjutnya kembali.
Petualang hanya tersenyum.  Ia mengerti kegetiran dari setiap kata yang kekasihnya ucapkan. Tanpa menimpali dan tanpa komentar ia kembali menarik cangkir kopi miliknya, mulai menyeruput dan bercerita tentang kisah-kisah yang memang sudah lama ia siapkan. Sesaat mereka lupa soal kelahiran, hadiah kejutan, dendam, rindu dan jarak.
Di sebuah minggu pagi bersama petualang, secangkir kopi dan obrolan hangat.

Add note :
Cerita spesial untuk @petualangcilik yang hari ini memperingati keberhasilannya bertahan hidup selama 27 tahun demi Tuhan, keluarga, teman-teman dan saya yang belum begitu ia tahu. Terima kasih atas kepercayaan dan kesabaran yang selama ini sungguh sangat menyanjung saya. Terimakasih atas pelajaraannya yang begitu berharga bahwa dendam bisa diredam menjadi sesuatu yang menyenangkan wkakakaka. Malam terlalu malam, pagi terlalu pagi (Payung Teduh) saya butuh mengarungi alam mimpi. Hoaamm... Semoga segala sesuatunya dimudahkan. Amin.




22 September 2014

Jodoh





Irero's doc

Kata Mario Teguh, jodoh adalah cerminan diri kita. Orang baik akan berjodoh dengan orang baik, pun sebaliknya.  Bila ditelan mentah, maka timbul berbagai pertanyaan dalam benak orang-orang, lalu mengapa si A yang bertabiat buruk berjodoh dengan si B yang sangat baik Pak? Begitulah komentar orang di bawah status MT. 

Entah mengapa saya merasa ucapan Pak MT lebih banyak menggiring manusia untuk menjadi lebih baik, melebihi ketepatan makna dari kata-kata itu sendiri. Dengan berkata jodoh adalah cermin maka orang akan berlomba-lomba menjadi baik karena setiap orang ingin jodoh yang baik, bahkan terbaik. Itu hanya satu misal, banyak singgungan hal lain dari MT yang tujuannya adalah membentuk manusia menjadi lebih baik, dan bukan uraian konkret atas kenyataan yang benar terjadi. 

Apa saya tengah mengatakan Pak MT berbohong untuk kebaikan? Tidak juga. Bila ditelaah lebih jauh, hakikat makna jodoh adalah benar cermin diri namun perlu perenungan tambahan untuk menguraikan makna tersebut secara lebih mendalam.

Ini kali ke dua saya bahas soal jodoh.  Yang pertama adalah beberapa waktu lalu, ketika saya mengawang-awang  dan menerka-nerka kira-kira siapa jodoh saya. Lalu sekarang kata tanya berubah menjadi, apakah benar dia jodoh saya? Kemungkinan nanti yang ke tiga akan saya tulis pasca menikah.  Dan itulah jawaban kebenaran kenyataan dan hasil perkiraan dari 2 artikel sebelumnya.

Saya tidak melihat cermin kesamaan ketika dihadapkan dengan orang yang tengah dekat dengan saya.  Hanya saja saya menyadari memang ada cermin keseimbangan di antara kami.  Apa yang tidak ada padanya, ada pada diri saya, pun sebaliknya. Jadi apa benar jodoh itu kelengkapan? Saling melengkapi? Benar, bila itu berada pada ranah persepsi.

Sejauh ini, tolok ukur jodoh adalah pernikahan. Kepada siapa kita menikah, dialah jodoh dari Tuhan.  Lalu wanita beramai-ramai menyeret pasangan mereka ke pelaminan demi membuktikan kebenaran akan jodohnya. Walaupun  maksud sebenarnya tak sesempit itu. Sayangnya konsep semacam itu abstrak dan hanya dikaui oleh wanita. Pria lebih logis dalam urusan mengurai kata jodoh. Sepertinya juga, pria lebih suka membahas bagaimana seorang wanita menapaki suatu hubungan ketimbang menanggapi pertanyaan apakah ia jodoh saya.

Baru saja saya baca novel Sabtu Bersama Bapak milik Aditya Mulya. Di sana saya menemukan part di mana saya cukup terhenyak. Dikatakan bahwa intinya pasangan yang baik itu bukan menutupi kekurangan. Menutupi kekurangan kita adalah bukan beban pasangan kita. Itu tanggung jawab masing-masing individu. Menjadi kuat adalah bukan beban pasangan kita, itu kewajiban masing-masing individu untuk menguatkan dirinya sendiri dan membuat mereka menjadi lebih baik.  Memilih pasangan yang sama-sama kuat untuk bisa saling menguatkan adalah terbaik. Mendengar itu kita seperti kelimpahan power yak? Rasanya ingin kuat untuk diri sendiri dan untuk pasangan juga nantinya. Sudut pandang yang menarik.  

Karena penulisnya pria, secara tidak langsung banyak sudut pandang seorang pria menyoal membina hubungan dan bagaimana peranan mereka dalam keluarga. Secara tidak langsung pula saya jadi mempelajari bagaimana seorang pria berpikir. Seperti konsep menikah. Kaum hawa akan cenderung mendesak untuk dipinang dengan kata andalan “Aku siap melarat asalkan kita bersama,” kata ratapan yang penuh paksaan. Sebagai wanita, saya mengurai kata itu menjadi lebih jelas di mana ada ketakutan akan kehilangan, keinginan untuk lega, dan emosional rasa yang kurang bisa dikendalikan.

Di sisi lain kaum pria akan mencoba menjawab bijak dengan berkata “Lelaki yang baik tak akan membiarkan wanitanya melarat,” secara sudut pandang pria adalah bermaksud untuk menguatkan diri terlebih dahulu dari segi finansial, bagi mereka nikah tak cukup hanya bermodalkan cinta. Secara logis, pemenuhan akan kebutuhan bukanlah fana dan butuh bukti konkret terlebih dulu baru seorang pria percaya diri melamar sang pujaan hati.  

Bagi sebagian wanita, jawaban semacam itu adalah bentuk pelarian dan ketakutan si pria. Tapi yang benar terjadi adalah wanita lebih menggunakan hati sedangkan pria lebih kepada logika. Sayangnya di dunia ini hanya ada 2 jenis kelamin, ya mereka, pria dan wanita. Kita kaum wanita pada umumnya akan mengiyakan alasan wanita, dan pria pun akan mendukung alasan pria.  Lah, apa perlu kita panggil (maaf) waria untuk memutuskannya? 

Sebenarnya tidak sekaku itu juga, setidaknya melalui pembahasan 2 sudut pandang, si wanita menjadi mengerti dan memahami jalan pikiran pria dan bukan semata-mata menyalahkan dan menuduhnya memberi harapan palsu. Pria juga jadi lebih mengerti bagaimana takutnya seorang wanita akan kehilangan pria yang ia cintai di samping perasaan khawatir akan masa depan yang tak jelas. Dengan saling memposisikan diri, setidaknya akan berpengaruh pada pemikiran dan tindakan masing-masing. 

Jadi siapakah sebenarnya jodoh itu? benarkah ia hanya sebatas sudut pandang? Atau mungkin jodoh adalah suatu kondisi kecocokan semata? Terkadang orang terlena mencari-cari arti dan makna jodoh ketimbang memberi perhatian dan mengusahakan yang terbaik untuk untuk pasangan yang sudah ada di hadapan mereka. Bilanglah seperti ini pada pasanganmu “Entah kau jodohku, entah bukan, yang jelas aku menyayangimu dan akan selalu mengupayakan yang terbaik untukmu.” Sepertinya begitu lebih baik.

Insomnia dan Matematika





Apa kau pernah gelisah hingga tak bisa tidur?

Kau terpikir bagaimana kalau orang-orang tengah terjaga, membaca buku, meramu rumus, menulis naskah, bermunajad, membaca al-kitab, sedang dirimu seenaknya merebahkan diri dan bersiap untuk menjejaki alam mimpi?

Apa kau pernah tak bisa tidur karena terpikir, bagaimana bila hal itu menjadi kebiasaan yang hampir membudaya tiap malam dan mereka hanya menyisakan waktu 2 hingga 3 jam untuk tidur pulas?

Lalu kau lagi-lagi terpikir, jika saja itu terjadi selama 1 hari artinya, kau gunakan jatah tidurmu selama 8 jam secara sempurna sedang mereka memanipulasi 5 jamnya.

Lalu pikiranmu semakin panas ketika mengalikan jumlah tersebut ke dalam hitungan mingguan. Didapatilah waktu tidurmu sebanyak 56 jam dan mereka 21 jam. Kalian hampir terpaut 35 jam yang mereka gunakan atas nama masa depan.

Dan kau mulai bertambah gelisah, tertekan dan takut untuk mengalikannya ke dalam 30 hari, 40 hari dan 360 hari. Kau semakin begidik melihat angka tidurmu yang semakin berlipat sedangkan mereka baru bernilai separuhnya.

Lalu kau mulai menyadari perubahan mereka dalam kurun waktu satu tahun sedang kau masih bergelut dengan tidur dan mimpi-mimpi.

Kau tengah resah saat tubuhmu merebah namun pikiranmu berjelajah, tak tentu arah.

Tapi kau patut bersyukur masih bisa resah, ketimbang mereka-mereka yang sama sekali tak menyadari kehadiran 'mereka' dan tak pernah membuatmu bermain matematika.

15 September 2014

Tanah Lapang




Aku merindukan sebuah tanah lapang. Letaknya sekitar 50 meter dari rumahku. Dulu, kala sore hari, tanah lapang itu tak pernah sepi.  Anak laki-laki berkumpul untuk sekadar memainkan permainan musiman. Kadang layangan, sepedaan, voli, bola kasti tapi lebih sering sepak bola. Bila kemarau, debu bertebaran membalut tubuh mereka yang basah akibat keringat. Musim hujan bukanlah pemberhentian, malah serasa kebanjiran anugerah, merek tetap bergerak, berlari menggiring bola di tanah yang tak begitu luas namun juga tak sempit itu. 


Seusai mengaji, kami para remaja perempuan acapkali memperhatikan permainan yang sedang berlangsung.  Apalagi bila salah seorang pujaan hati ada di sana.  Melihatnya berlari menggiring bola tanpa takut debu, air dalam peluh keringat yang mengucur deras adalah definisi ‘maco’ kala itu. Begitulah cara anak remaja perempuan semacam kami membunuh rindu.  Cinta tak pernah terungkap, cinta tersimpan aman dan malu dalam balutan rindu yang kami urai satu per satu, sore demi sore. 


Menjelang perayaan pitulasan, tanah lapang itu tak pernah sepi pengunjung. Berbagai arena lomba dan permainan sambung menyambung kembali membuatnya hidup dan semarak. Hari minggu tepat sebelum tanggal 17, anak-anak kecil akan berkumpul tanpa instruksi dan memenuhi seluruh permukaan lapangan.  Mereka memasang wajah sumringah dan siap menerima tantangan lomba yang akan dilontarkan oleh pihak remaja.  Terkadang, remaja kalah sigap. Rapat belum dibentuk, lomba belum di susun, tapi peserta sudah berjubel mengantri dengan tidak sabarnya.  Karenanya, terciptalah lomba dadakan yang belum terpikir- entah apa dan darimana hadiah yang akan disuguhkan nantinya. 


Tanah lapang yang kini kurindu itu terdiri dari 2 bagian, separuhnya adalah wajah lapangan basket dengan ring reyot, berkarat, beralaskan lantai cor-coran semen warna putih yang mulai memudar serta retak di semua bagian dan sebuah lapangan voli beralaskan tanah dengan rumput liar yang tumbuh di sekeliling dan beberapa di antaranya tumbuh di bagian tengah. Dulu, sesekali kami- yang tinggal di sekitar- mengadakan kerja bakti mencabuti rumput-rumput liar itu.  Jati dirinya sebagai tanah lapang masih terlihat kuat. Kini, tanah itu terlihat seperti lahan kosong nan senyap.  Tak ada lagi tanda-tanda napas kehidupan dan harga diri dari sebidang tanah lapang yang dulu kami unggul-unggulkan pun memudar. Hanya ada rumput liar yang semakin hari semakin tumbuh meninggi dan tak keruan arahnya.


Sore sepulang kerja, aku sering menoleh untuk melihatnya, dan tanah itu masih saja sepi.  Tak ada lagi anak-anak bermain bola maupun sepeda. Anak-anak yang dulu kulihat memang sudah tumbuh dewasa dengan kepadatan aktivitas masing-masing. Tak mungkin mereka masih berkotor-kotoran dengan debu dan rela basah oleh air hujan hanya untuk bermain sepak bola.  Sekarang sudah ada persewaan lapangan futsal, anak laki-laki tak perlu risau lagi dengan ubalan debu dan guyuran air hujan yang membuat mereka semakin kotor dalam kucuran keringat.


Seharusnya anak kecil tak pernah habis.  Bila satu generasi tumbuh dewasa maka akan digantikan generasi berikutnya. Seharusnya tanah lapang itu masih hidup di kala sore. Menjadi tempat peraduan akan kepenatan belajar selepas sekolah.  Di tanah lapang itu, hidup sebuah keceriaan anak yang hanya berfikir tentang bagaimana cara mereka memenangkan permainan di satu sore. Di tanah lapang itu, ada sebuah semangat yang ingin terus diulang secara berkesinambungan dari satu sore ke sore berikutnya. Di tanah lapang itu, tumbuh harapan para gadis akan rindu yang melunak dan cinta sebagai amunisi yang cukup untuk menyelesaikan PR matematika. Dan di tanah lapang itu, sebuah napas hidup dan kisah kasih antara sebidang tanah dengan orang-orang yang tinggal di sekitarnya terukir. 


Kini semua orang enggan menjamahnya.  Tak ada lagi anak- anak bermain bola selama 3 jam sebelum adzan maghrib berkumandang. Hanya sesekali langkah kaki seseorang terlihat sekadar lewat untuk menjangkau daerah setelahnya.  Anak masa kini tidak pernah berhenti bermain bola, sebenarnya mereka bertemu dalam sebuah dunia digital untuk melampiaskan kepenatan. Para gadis tetap memantau pujaan hati mereka dengan stalking di akun media sosial sang pujaan hati. Tak ada yang berubah, mereka hanya berpindah dan meninggalkan tanah lapang.  


Emm..., aku hanya bercerita tentang rinduku kepada sebuah tanah lapang. Tanah lapang di dekat rumah yang menyimpan banyak kenangan.

Review Novel To Kill A Mocking Bird

Doc. irerosana Perlu waktu yang tidak sebentar bagi Amerika untuk mendewasakan diri, menerima bahwa warna kulit bukanlah sesuatu ya...