September 22, 2014

Jodoh





Irero's doc

Kata Mario Teguh, jodoh adalah cerminan diri kita. Orang baik akan berjodoh dengan orang baik, pun sebaliknya.  Bila ditelan mentah, maka timbul berbagai pertanyaan dalam benak orang-orang, lalu mengapa si A yang bertabiat buruk berjodoh dengan si B yang sangat baik Pak? Begitulah komentar orang di bawah status MT. 

Entah mengapa saya merasa ucapan Pak MT lebih banyak menggiring manusia untuk menjadi lebih baik, melebihi ketepatan makna dari kata-kata itu sendiri. Dengan berkata jodoh adalah cermin maka orang akan berlomba-lomba menjadi baik karena setiap orang ingin jodoh yang baik, bahkan terbaik. Itu hanya satu misal, banyak singgungan hal lain dari MT yang tujuannya adalah membentuk manusia menjadi lebih baik, dan bukan uraian konkret atas kenyataan yang benar terjadi. 

Apa saya tengah mengatakan Pak MT berbohong untuk kebaikan? Tidak juga. Bila ditelaah lebih jauh, hakikat makna jodoh adalah benar cermin diri namun perlu perenungan tambahan untuk menguraikan makna tersebut secara lebih mendalam.

Ini kali ke dua saya bahas soal jodoh.  Yang pertama adalah beberapa waktu lalu, ketika saya mengawang-awang  dan menerka-nerka kira-kira siapa jodoh saya. Lalu sekarang kata tanya berubah menjadi, apakah benar dia jodoh saya? Kemungkinan nanti yang ke tiga akan saya tulis pasca menikah.  Dan itulah jawaban kebenaran kenyataan dan hasil perkiraan dari 2 artikel sebelumnya.

Saya tidak melihat cermin kesamaan ketika dihadapkan dengan orang yang tengah dekat dengan saya.  Hanya saja saya menyadari memang ada cermin keseimbangan di antara kami.  Apa yang tidak ada padanya, ada pada diri saya, pun sebaliknya. Jadi apa benar jodoh itu kelengkapan? Saling melengkapi? Benar, bila itu berada pada ranah persepsi.

Sejauh ini, tolok ukur jodoh adalah pernikahan. Kepada siapa kita menikah, dialah jodoh dari Tuhan.  Lalu wanita beramai-ramai menyeret pasangan mereka ke pelaminan demi membuktikan kebenaran akan jodohnya. Walaupun  maksud sebenarnya tak sesempit itu. Sayangnya konsep semacam itu abstrak dan hanya dikaui oleh wanita. Pria lebih logis dalam urusan mengurai kata jodoh. Sepertinya juga, pria lebih suka membahas bagaimana seorang wanita menapaki suatu hubungan ketimbang menanggapi pertanyaan apakah ia jodoh saya.

Baru saja saya baca novel Sabtu Bersama Bapak milik Aditya Mulya. Di sana saya menemukan part di mana saya cukup terhenyak. Dikatakan bahwa intinya pasangan yang baik itu bukan menutupi kekurangan. Menutupi kekurangan kita adalah bukan beban pasangan kita. Itu tanggung jawab masing-masing individu. Menjadi kuat adalah bukan beban pasangan kita, itu kewajiban masing-masing individu untuk menguatkan dirinya sendiri dan membuat mereka menjadi lebih baik.  Memilih pasangan yang sama-sama kuat untuk bisa saling menguatkan adalah terbaik. Mendengar itu kita seperti kelimpahan power yak? Rasanya ingin kuat untuk diri sendiri dan untuk pasangan juga nantinya. Sudut pandang yang menarik.  

Karena penulisnya pria, secara tidak langsung banyak sudut pandang seorang pria menyoal membina hubungan dan bagaimana peranan mereka dalam keluarga. Secara tidak langsung pula saya jadi mempelajari bagaimana seorang pria berpikir. Seperti konsep menikah. Kaum hawa akan cenderung mendesak untuk dipinang dengan kata andalan “Aku siap melarat asalkan kita bersama,” kata ratapan yang penuh paksaan. Sebagai wanita, saya mengurai kata itu menjadi lebih jelas di mana ada ketakutan akan kehilangan, keinginan untuk lega, dan emosional rasa yang kurang bisa dikendalikan.

Di sisi lain kaum pria akan mencoba menjawab bijak dengan berkata “Lelaki yang baik tak akan membiarkan wanitanya melarat,” secara sudut pandang pria adalah bermaksud untuk menguatkan diri terlebih dahulu dari segi finansial, bagi mereka nikah tak cukup hanya bermodalkan cinta. Secara logis, pemenuhan akan kebutuhan bukanlah fana dan butuh bukti konkret terlebih dulu baru seorang pria percaya diri melamar sang pujaan hati.  

Bagi sebagian wanita, jawaban semacam itu adalah bentuk pelarian dan ketakutan si pria. Tapi yang benar terjadi adalah wanita lebih menggunakan hati sedangkan pria lebih kepada logika. Sayangnya di dunia ini hanya ada 2 jenis kelamin, ya mereka, pria dan wanita. Kita kaum wanita pada umumnya akan mengiyakan alasan wanita, dan pria pun akan mendukung alasan pria.  Lah, apa perlu kita panggil (maaf) waria untuk memutuskannya? 

Sebenarnya tidak sekaku itu juga, setidaknya melalui pembahasan 2 sudut pandang, si wanita menjadi mengerti dan memahami jalan pikiran pria dan bukan semata-mata menyalahkan dan menuduhnya memberi harapan palsu. Pria juga jadi lebih mengerti bagaimana takutnya seorang wanita akan kehilangan pria yang ia cintai di samping perasaan khawatir akan masa depan yang tak jelas. Dengan saling memposisikan diri, setidaknya akan berpengaruh pada pemikiran dan tindakan masing-masing. 

Jadi siapakah sebenarnya jodoh itu? benarkah ia hanya sebatas sudut pandang? Atau mungkin jodoh adalah suatu kondisi kecocokan semata? Terkadang orang terlena mencari-cari arti dan makna jodoh ketimbang memberi perhatian dan mengusahakan yang terbaik untuk untuk pasangan yang sudah ada di hadapan mereka. Bilanglah seperti ini pada pasanganmu “Entah kau jodohku, entah bukan, yang jelas aku menyayangimu dan akan selalu mengupayakan yang terbaik untukmu.” Sepertinya begitu lebih baik.

4 comments:

Review Novel To Kill A Mocking Bird

Doc. irerosana Perlu waktu yang tidak sebentar bagi Amerika untuk mendewasakan diri, menerima bahwa warna kulit bukanlah sesuatu ya...