September 15, 2014

Tanah Lapang




Aku merindukan sebuah tanah lapang. Letaknya sekitar 50 meter dari rumahku. Dulu, kala sore hari, tanah lapang itu tak pernah sepi.  Anak laki-laki berkumpul untuk sekadar memainkan permainan musiman. Kadang layangan, sepedaan, voli, bola kasti tapi lebih sering sepak bola. Bila kemarau, debu bertebaran membalut tubuh mereka yang basah akibat keringat. Musim hujan bukanlah pemberhentian, malah serasa kebanjiran anugerah, merek tetap bergerak, berlari menggiring bola di tanah yang tak begitu luas namun juga tak sempit itu. 


Seusai mengaji, kami para remaja perempuan acapkali memperhatikan permainan yang sedang berlangsung.  Apalagi bila salah seorang pujaan hati ada di sana.  Melihatnya berlari menggiring bola tanpa takut debu, air dalam peluh keringat yang mengucur deras adalah definisi ‘maco’ kala itu. Begitulah cara anak remaja perempuan semacam kami membunuh rindu.  Cinta tak pernah terungkap, cinta tersimpan aman dan malu dalam balutan rindu yang kami urai satu per satu, sore demi sore. 


Menjelang perayaan pitulasan, tanah lapang itu tak pernah sepi pengunjung. Berbagai arena lomba dan permainan sambung menyambung kembali membuatnya hidup dan semarak. Hari minggu tepat sebelum tanggal 17, anak-anak kecil akan berkumpul tanpa instruksi dan memenuhi seluruh permukaan lapangan.  Mereka memasang wajah sumringah dan siap menerima tantangan lomba yang akan dilontarkan oleh pihak remaja.  Terkadang, remaja kalah sigap. Rapat belum dibentuk, lomba belum di susun, tapi peserta sudah berjubel mengantri dengan tidak sabarnya.  Karenanya, terciptalah lomba dadakan yang belum terpikir- entah apa dan darimana hadiah yang akan disuguhkan nantinya. 


Tanah lapang yang kini kurindu itu terdiri dari 2 bagian, separuhnya adalah wajah lapangan basket dengan ring reyot, berkarat, beralaskan lantai cor-coran semen warna putih yang mulai memudar serta retak di semua bagian dan sebuah lapangan voli beralaskan tanah dengan rumput liar yang tumbuh di sekeliling dan beberapa di antaranya tumbuh di bagian tengah. Dulu, sesekali kami- yang tinggal di sekitar- mengadakan kerja bakti mencabuti rumput-rumput liar itu.  Jati dirinya sebagai tanah lapang masih terlihat kuat. Kini, tanah itu terlihat seperti lahan kosong nan senyap.  Tak ada lagi tanda-tanda napas kehidupan dan harga diri dari sebidang tanah lapang yang dulu kami unggul-unggulkan pun memudar. Hanya ada rumput liar yang semakin hari semakin tumbuh meninggi dan tak keruan arahnya.


Sore sepulang kerja, aku sering menoleh untuk melihatnya, dan tanah itu masih saja sepi.  Tak ada lagi anak-anak bermain bola maupun sepeda. Anak-anak yang dulu kulihat memang sudah tumbuh dewasa dengan kepadatan aktivitas masing-masing. Tak mungkin mereka masih berkotor-kotoran dengan debu dan rela basah oleh air hujan hanya untuk bermain sepak bola.  Sekarang sudah ada persewaan lapangan futsal, anak laki-laki tak perlu risau lagi dengan ubalan debu dan guyuran air hujan yang membuat mereka semakin kotor dalam kucuran keringat.


Seharusnya anak kecil tak pernah habis.  Bila satu generasi tumbuh dewasa maka akan digantikan generasi berikutnya. Seharusnya tanah lapang itu masih hidup di kala sore. Menjadi tempat peraduan akan kepenatan belajar selepas sekolah.  Di tanah lapang itu, hidup sebuah keceriaan anak yang hanya berfikir tentang bagaimana cara mereka memenangkan permainan di satu sore. Di tanah lapang itu, ada sebuah semangat yang ingin terus diulang secara berkesinambungan dari satu sore ke sore berikutnya. Di tanah lapang itu, tumbuh harapan para gadis akan rindu yang melunak dan cinta sebagai amunisi yang cukup untuk menyelesaikan PR matematika. Dan di tanah lapang itu, sebuah napas hidup dan kisah kasih antara sebidang tanah dengan orang-orang yang tinggal di sekitarnya terukir. 


Kini semua orang enggan menjamahnya.  Tak ada lagi anak- anak bermain bola selama 3 jam sebelum adzan maghrib berkumandang. Hanya sesekali langkah kaki seseorang terlihat sekadar lewat untuk menjangkau daerah setelahnya.  Anak masa kini tidak pernah berhenti bermain bola, sebenarnya mereka bertemu dalam sebuah dunia digital untuk melampiaskan kepenatan. Para gadis tetap memantau pujaan hati mereka dengan stalking di akun media sosial sang pujaan hati. Tak ada yang berubah, mereka hanya berpindah dan meninggalkan tanah lapang.  


Emm..., aku hanya bercerita tentang rinduku kepada sebuah tanah lapang. Tanah lapang di dekat rumah yang menyimpan banyak kenangan.

No comments:

Post a Comment

Hidup Dengan Sedikit Benda

Baru-baru ini saya menyadari bahwa saya terlalu banyak mencemaskan benda-benda yang saya miliki. Terlebih benda yang benar-benar saya...