November 24, 2014

2 Menit




Lorong itu penuh orang namun lengang. Semua orang berkostum sama, hem putih dengan celana hitam, rok hitam, dasi hitam, dan sepatu hitam. Masing-masing dari mereka sibuk dengan diri sendiri, membuka-buka berkas, menelusuri halaman demi halaman, memejamkan mata berdoa atau sedang mondar-mandir tanpa bersuara. 

Di sebuah sudut seorang pemuda berjongkok dengan sebuah foto di tangan. Serius, pemuda itu tenggelam kepada sosok wanita yang ada di foto. Dia sedang gelisah, sama seperti beberapa pemuda lain yang juga sibuk dengan diri sendiri. Dia mencoba mencari ketenangan dengan interaksi tanpa suara dengan foto itu. Perlahan dia membaliknya, jemarinya lihai menelusuri huruf demi huruf yang tersusun. Rasa tegang dan buncahan semangat telah membakar si pemuda. Selama 2 menit dia kembali membayangkan kebersamaanya dengan si wanita. Hanya 2 menit, dan itu cukup untuk membakar api semangatnya.

“Kreeek...,” suara pintu terbuka. Sosok pemuda dengan kostum sepadan keluar dari ruangan. Semua mata tertuju pada pemuda itu. Pemuda tersebut hanya diam, menarik nafas lalu mengarahkan pandang ke sekeliling, menatap balik orang-orang yang tengah menatapnya. Perlahan seburit senyum terlukis di wajah si pemuda, “Yes, berhasil!” sontak semua orang yang tegang berubah mimik gembira,memeluk, berucap selamat kepada si pemuda. 

Selama 2 menit mereka mulai melerai masing-masing diri, si pemuda memanggil pemuda lain yang sedari tadi memegangi foto, “Juna, giliran kamu sekarang,” ucapnya seraya memanggutkan kepala.  Juna memandang foto sekali lagi, baru kemudian mantap untuk memasukkannya ke dalam saku kemeja, dan memasuki ruangan.

Di dalam ruangan, Juna berdiri di hadapan 3 orang intelektual yang kesemuanya  tengah menatap tajam dan siap membabat habis. mereka menunggu Juna mengeluarkan kata-kata. Juna memantapkan hati yakin baru kemudian mengeluarkan suara. 

“Selamat Pagi, saya Arjuna Wicaksana pada hari ini ingin mempresentasikan hasil akhir Tugas saya sebagai mahasiswa jurusan Ilmu Pemasaran yang berjudul “Analisis Experential Marketing terhadap loyalitas pelanggan pada.........”

Sudah setengah jam Juna bertarung mati matian, menggerakkan mental dan melibas seluruh sanggahan dari penguji. Sesekali sebuah pertanyaan melayang tanpa pandang bulu mematikan naluri logikanya, menggoyahkan benteng pengetahuan yang sudah ia susun.  Bila sedang di titik rendah, Juna akan memberi dirinya jeda sejenak, 2 menit untuk mengingat Lilia, dan itu cukup untuk kembali menggerakkan otaknya yang mulai dibekukan oleh sanggahan si penguji. 

Akhirnya pintu ruang panas itu pun terbuka. Juna keluar, kali ini dia langsung sumringah, tersenyum. Tanpa ragu dan bertanya semua teman-temannya memeluknya mengucapkan selamat. Juna tidak bisa berlama-lama dalam euforia itu, dia berlari meninggalkan teman-temannya. Dia tak peduli dengan orang-orang yang dilaluinya menatap aneh. Dia sedang tergesa-gesa. Dia berlari menuju stasiun masih dengan kostum ujiannya.

Di stasiun, dia menatap cepat ke arah sekitar, mencari sesosok wanita bernama Lilia. Dia berlari ke arah kanan namun tidak ditemukannya, dia berbalik ke kiri tapi, nihil. Nafasnya masih memburu, pandangannya tak berhenti mencari hingga sebuah suara dari belakang menghentikannya.

“Juna.....” panggil wanita itu lirih. Juna berbalik, dan menemukan sosok wanita yang selama ini hanya bisa dia pandangi lewat foto. Seorang wanita yang hadir di setiap detik dalam hidupnya, wanita yang selalu membangkitkannya dalam setiap keterpurukan, wanita yang menjadi semangatnya dikala menyerah. 

2 menit mereka saling pandang dan terdiam, memendam sebuah buncahan rasa yang selama 2 menit masih bisa mereka kendalikan.

Juna tak kuasa menahan haru, dengan terburu dipeluknya Lilia dengan erat, seerat–eratnya seolah dia ingin memberi pelajaran kepada wanita itu betapa setahun mereka terpisah seperti seratus tahun bagi Juna, dia ingin membalas dendam dengan pelukan eratnya dan membuktikan betapa Lilia telah kejam memingit dirinya selama setahun demi skripsi. Dan pelukan Juna semakin erat, dia masih ingin membalaskan dendamnya karena selama setahun mereka tak boleh bersua.

Lilia menyadari keharuan yang Juna bangun, Lilia merasakan buncahan rasa yang telah Juna transformasikan untuknya. Mereka menangis menahan haru satu sama lain, kali ini 2 menit rasanya tidak cukup untuk menggantikan kehadiran Lilia selama setahun. Juna membiarkan 2 menit itu berlalu semakin jauh, dan jauh.

Dalam euforia pelukan, dia melirik dan membalik foto di tangannya,

Setahun lagi , aku tunggu kamu di stasiun, dan ingat, harus bawa skripsi utuh J  –Lilia-“.
Juna tersenyum setelah membacanya untuk kesekian ribu kali, 

“Thanks ya...thanks buat supportnya...” Juna berbisik lirih di telinga Lilia. Lilia mengangguk haru dalam pelukan.

[Note : Flash fiction 2 Menit adalah Flash Fiction pertama saya tanpa latihan dan  pernah diikutsertakan dalam sayembara Flash Fiction dengan tema 'Rindu Tanpa Kata Rindu' tahun 2013 dan kalah (cuma masuk 40 besar). Kala itu belum paham betul apa itu FF dan apa saja unsur-unsur dasarnya :p ]

3 comments:

  1. Baru tau ada jenis fiksi yang namanya Flash Fiction.

    Masih harus belajar lagi nih :)

    Bagus kok ceritanya

    ReplyDelete
  2. Thanks Ron :)
    Flash Fiction lebih pendek dari cerpen dan identik dengan kejutan di ujung cerita, dan cerita di atas ujungnya kurang nuik.

    ReplyDelete
  3. Menarik fiksinya... terus berkarya :) thanks buat fiksinya

    Salam kenal penulis ulung

    ReplyDelete

Perkara Makan dan Saudaranya

Makan adalah perkara rumit dalam hidup saya. Ini tak semudah seperti yang digambarkan orang-orang yang berkata bahwa itu hanya soal ...