November 10, 2014

Jakarta



Yang pertama kali terlintas dalam benak saya ketika mendengar kata Jakarta tentulah, macet, banjir, padat , bising dan segala kengerian yang sering dikumandangkan oleh media berita nasional.  Memang bayangan lebih sering menakutkan ketimbang kenyataan. Mungkin begitu pula yang terjadi pada saya, paranoid dengan Jakarta padahal belum pernah menjamah kembali  semenjak berpuluh – puluh tahun silam.

Nama Jakarta kembali terasa dekat dengan telinga ketika salah seorang teman saya yang bernama Viki berulang kali meluncurkan kata tersebut dari kedua bibirnya. Viki adalah seorang wanita (nggak nyangka, kan?) yang menggemari klub bola Persija alias jakmania. Sesuai warna andalan orange, ia pun gemar mengoleksi baju dengan warna orange.  Bahkan ia menghabiskan sebagian besar gajinya untuk membeli kaos Persija dan membeli tiket ke Jakarta guna menyaksikan langsung pertandingannya.  Tak berhenti di situ, Viki juga kerap memacari beberapa pemain cadangan dan suporter-suporter Persija. Entah karena apa namun mungkin itulah alasan utama mengapa ia amat menggemari kota asal Macan Kemayoran tersebut.  

Sering berlalu-lalang dengan segala judul Jakarta, mengharuskan ia untuk menggemari segala sesuatu berbau Jakarta. Bahkan Viki pernah berikrar bahwa ia akan menetap dan menikahi orang Jakarta.

“Apa enaknya tinggal di Jakarta Vik? Sana itu kan macet banjir pulak,” kata saya menanggapi.

Tentu Viki yang sedang kasmaran dengan Jakarta tidak menggubris kata-kata saya. Dari sekian banyak kota kenapa harus Jakarta? Pikir saya. Prinsip Viki tentu bertolak belakang dengan prinsip saya yaitu ‘bersedia bertempat tinggal di mana saja asalkan bukan JAKARTA’. Itu simple banget kan? Permintaan saya nggak neko-neko, Kan?
 
Tapi semua berubah ketika saya punya pacar yang tidak saya tahu di mana tinggalnya (suer kala itu saya benar tidak tahu ia bermukim di mana) Lhoh kok bisa kenal Re? Iya, teman lama, ya gitu deh ceritanya. Lagian itu karena si Mimil yang gagal mencari tahu segala sesuatu tentang gebetan saya itu (Lhoh kok nyalahin Mimil?!) Berisik! Suka-suka saya!

“Mil, Lu mantan Pimred masa nyari tahu tentang si Mas....(teeett, sensor) itu aja nggak bisa?!

“Yee..lu juga mantan Pimred kaleee, coba cari sendiri kalau bisa!Lagian naksir orang nggak modal informasi banget sih Lu!” balasnya pedas tanpa dosa.

Dan hal yang paling saya sesalkan adalah menceritakan segala perasaan saya ke Mimil. Walhasil, si Mimil yang gemar berceloteh itu bercerita kepada suami tercintanya soal perasaan saya. Dan yang paling paling membuat saya enggan menceritakaannya di sini adalah bagian... emmm...ceritain nggak ya? Oke jadi ceritanya begini, Suami Mimil ternyata kenal dekat dengan gebetan saya!

“AAAAAAAArrrrgggggg.....!!!! Tolong pohon cabeee aku mau gantung diriiiii....!” teriak saya begitu telfon saya tersambung ke Milmil. Tanpa dosa Mimil terdengar menahan tawa parahnya. 
Tanpa ampun saya kirim seluruh kata cemas, umpatan, bingung ke Milmil. Ia masih mencoba menjawab tapi gagal karena menahan tawa yang sedari tadi siap meledak.

“Siapa Mil?” suara pria di balik tawanya. Owh damn! Itu suaminya (yang baru saja tahu segala sesuatu tentang saya - yang lagi kasmaran sama temennya- dan itu gara-gara Mimil). 

“Jadi suamimu baca bbm-an kita?” tanyaku kemudian.

“Enggak, udah tak hapus kok,” balas Mimil menghindar.

“Bohong!”

“Beneran!”

“Bohooonnggg...!” kembali suara teriakan saya beradu tangis (saking malunya) dan Mimil kembali terkekeh menahan tawa berat.

Yah begitulah cerita yang tak patut diceritakan tapi saya ceritakan. Akhirnya, dari suami Mimil saya tahu beberapa hal tentang gebetan saya kecuali dia tinggal di mana!

Kembali ke Jakarta. Lalu waktu kami sudah sepakat hidup bersama (eh, maksudnya pacaran) saya dengan tanpa malu tanya “Mas tinggal di mana si?” à (Kamu pernah bayangin seorang pacar tanya ke pacarnya tinggalnya di mana nggak sih? Nah, sekarang bayangin aja!)

“......bla..bla...di Jakarta,” balasnya. What? Dari sekian banyak kota di Indonesia, Jogja, Makasar, Manado, Palembang, Bali, Surabaya, kenapa dia harus bilang ‘JAKARTA’ coba?! Owh, saya berasa kena karma! 

Pilihan saya cuma dua, saya jangan nikah sama ini orang, atau saya ubah mindset dari anti Jakarta jadi Jakarta lover. Sayangnya pilihannya cuma 2 itu. Karena ia menawari dengan baik hati apakah saya mau tinggal di Jakarta bersamanya kelak saya pun jadi luluh, hiks (aslinya adalah karena kesengsem tingkat Dewa). Masa’ iya saya harus merelakan orang yang saya sayangi demi keegoisan semata? (Duh, bahasanya...)

Begitulah cerita asal muasal mengapa saya jadi respect dengan Jakarta. Jadi jangan heran bila menemukan status-status saya yang berbau ‘I Love Jakarta’ atau ‘ Jakarta, tunggu saya!’ atau yang paling lebay masang lirik lagu Sheila on 7 yang ‘Ku Tunggu di Jakarta’. Jangan heran juga kalau akhir-akhir ini saya sering ngintip harga-harga tiket kereta dan pesawat ke Jakarta.Owh, ternyata cinta tak cuma merubah tai kucing rasa cokelat, tapi juga mengubah kota Jakarta yang banjir dan macet menjadi jalanan yang lengang dan indah di mata saya. Suka sama orangnya bisa membuat kita demen juga sama Kota tempat tinggalnya ya ternyata. Siapa tahu setelah ini saya kepikiran bikin novel judulnya ‘Ada Rindu di Jakarta’ ah lebay ah! Artikel ini versi galaunya menjadi ‘Ketika Cinta Merubah Wajah Jakarta’.

No comments:

Post a Comment

Review Novel To Kill A Mocking Bird

Doc. irerosana Perlu waktu yang tidak sebentar bagi Amerika untuk mendewasakan diri, menerima bahwa warna kulit bukanlah sesuatu ya...