December 5, 2015

Review : 1Q84




@irerosana



“Violence does not always take physical form, and not all wounds gush blood.”
Haruki Murakami, 1Q84


Tiba-tiba saya ingin terlahir dan tumbuh di Jepang demi bisa merasakan kekuatan kata-kata 1Q84 melalui bahasa Ibu.

Takdir membawa saya mengenal Haruki Murakami untuk pertama kali melalui novel ini.  Setelahnya, saya mencoba memahami Murakami melalui karakter-karakter yang ia bangun. Aomame seorang wanita 30 tahun, berpayudara kecil, pelatih fitnes merangkap pembunuh, minim kawan dan suka berpetualang seks, Kawana Tengo yang juga hidup sendirian, mengajar matematika di bimbel yang diam-diam lihai menulis sastra. Tak seorang pun mengira mereka terkait satu sama lain. Semakin tinggi nomor jilid yang dibaca semakin kentara betapa kuat ikatan di antara keduanya -selain dari sama-sama memiliki masa lalu yang amat menyakitkan dan sama-sama penyendiri.

Murakami membuka 1Q84 dengan amat manja. Menjadikan kehidupan Aomame yang sepi sebagai sesuatu yang diingini orang kebanyakan, dan bagaimana Tengo terlibat dalam konspirasi sastra bersama salah seorang editor dengan menjadi penulis bayangan yang membawanya terlempar ke dalam dunia paralel. Di awal semua terasa sebagai sebuah suguhan cerita yang menyenangkan. Semakin dalam, aroma magis lamat-lamat tercium bersamaan dengan teka-teki yang membutuhkan pencarian jawaban pada halaman setelahnya. Pembaca enggan berhenti, tak rela menunda untuk membeli, dan bersedia menelusuri kota demi kota untuk mendapat jilid lain yang tersisa.

Kemungkinan besar ia bukan seorang yang membosankan. Terlihat dari caranya menggambarkan sesuatu, berbeda dan bergairah. Semua bagian dibangun tegas, cepat dan tanpa ampun kecuali caranya mendiskripsikan karakter. Setiap karakter digambarkan teramat detail dan berulang, bagaimana bentuk tubuh dan payudara Aomame, bentuk bibir menjijikkan dengan kepala aneh ala Ushikawa dan pertumbuhan Tengo dengan ingatan masa balitanya tentang seorang wanita –yang ia yakini adalah Ibunya- tengah diisap puting susunya oleh seorang pria muda –yang ia yakini adalah bukan ayahnya. Kedua tokoh utama sama-sama menggilai seks, Aomame yang hobi menjajal seks dengan orang yang tak ia kenal untuk menghilangkan stress pasca membunuh, dan Kawana Tengo yang selalu berhubungan seks setiap jum’at dengan pacar lebih tuanya –yang juga adalah istri orang lain.

Berusaha menggugah rasa penasaran pembaca, Murakami menghadirkan tokoh misterius Fukada Eriko, penulis berusia 17 tahun, pengidap disleksia, bertubuh ramping, bermuka menyenangkan dan berkali-kali dikatakan Tengo mempunyai buah dada yang bagus. Fuka Eri adalah rekan konspirasi Tengo dalam membuat novel Kepompong Udara, novel yang berhasil memenangkan sayembara menulis dan menjadi best seller dalam jangka waktu yang cukup lama. Sejauh itu, semua terlihat baik dan menyenangkan sebelum mengetahui bahwa novel tersebut menyeret Aomame dan Tengo ke dalam dunia paralel yang amat merepotkan.

Kepompong Udara dalam 1Q84 sekaligus membuktikan kepiawaian Murakami dalam berimajinasi. Saya sempat tercenung mendengar cerita seorang gadis kecil yang tinggal di suatu komunitas di pegunungan, diberi tugas untuk menjaga kambing buta. Suatu ketika kambing itu mati dan si gadis kecil mendapat hukuman, dikurung bersama bangkai kambing yang mati. Pada malam harinya, mulut kambing yang mati tiba-tiba ternganga, bercahaya dan keluarlah sekolompok orang kecil (orang dengan ukuran mini). Mereka lalu membuat kepompong udara dan si gadis kecil terhenyak ketika mendapati dirinyalah yang terdapat dalam kepompong udara tersebut. Makin jauh, saya semakin menyadari bahwa cerita tadi bukanlah sekadar pemanis tambahan, tapi menempati salah satu part inti 1Q84 secara keseluruhan. Jauh dari itu, saya sadar bahwa Murakami sedari awal rupanya telah benar-benar menyiapkan detail dari karyanya, mulai dari kerangka, point-point inti hingga ending dan bukan asal membuat cerita sembari jalan. Yah, penulis profesional memang seharusnya melakukan itu!

Murakami memastikan betul struktur cerita dan detail yang ia buat terpatri dalam benak pembaca, sehingga ketika ia mulai bercerita adegan lebih lanjut, tak seorang pun berkilah, tidak siap. Ia banyak melakukan repetisi inti cerita -meski melalui sudut pandang banyak karakter- sehingga pembaca dibuat kelebihan mengerti. Setiap kata yang ia pilih penuh       makna, tak ada pemanis atau ‘yang tidak perlu’, semua berperan dan memiliki jatah bagian. Keseluruhan cerita ia bungkus dengan paket anti rasa bosan.

Murakami mengusung aliran sastra realisme magis yang dipopulerkan pertama kali oleh Franz Kafka -seorang sastrawan abad 20 yang juga dianut oleh si pembuat buku kontroversial The Satanic Verses, Salman Rushdie.

Bagaimana cara Murakami merambah dunia literasi memang membuat iri banyak orang. Kala itu, ia tengah menikmati sebuah pertandingan baseball. Melihat Hilton –pemain Amerika memukul double secara cepat, saat itulah ia merasa bisa menulis novel. Malamnya, ia mulai menulis dan beberapa bulan kemudian lahirlah Hear the Wind Sing, novel pertamanya yang berhasil memenangkan juara pertama di salah satu kontes literatur di Jepang. Sesimple itu!

Sebelumnya belum pernah menulis sama sekali. Sekali lagi saya tekankan bahwa ia belum pernah menulis S A M A S E K A L I. How damn it! Ia menghabiskan waktunya untuk mengelola bisnis club jazz, menikmati lagu-lagu klasik –yang kemudian banyakpula ia pakai untuk memperkuat adegan dalam karya-karyanya.

Pasca kemunculan Hear the Wind Sing, karya setelahnya selalu menempati urutan teratas tangga buku sastra Jepang, hal itulah yang membuat iri banyak penulis. Hear The Wind Sing menjadi tonggak awal kesadaran Murakami terhadap dunia literasi. Mungkin dari sanalah ia menyadari potensi besar yang ada di dalam dirinya sebagaimana ia merasa perlu mempertanggungjawabkannya di hadapan khalayak sastra.


“Good style happens in one of two ways: the writer either has an inborn talent or is willing to work herself to death to get it.”
Haruki Murakami, 1Q84

October 11, 2015

Mengira-ira Sedimen Senja



irero.doc


Terkadang saya membaca habis satu buah novel hanya karena penasaran dengan judulnya. Pertimbangan lain bisa jadi karena tahu betul karakter tulisan si penulis, meski yang seperti itu hanya sekian persen. Jumlah umur tak sebanding dengan jumlah karya tulis yang telah terbit, pengetahuan masih terbatas, mau tak mau kita acapkali menggunakan aji ‘kira-kira’ ketika memilih satu buku untuk dibeli. Beberapa bahan pertimbangan lain yang digunakan seperti ; penerbit, resensi, endorsement, serta review dari pembaca sebelumnya memiliki pengaruh cukup besar. Di luar itu, upaya team pemasaran dalam mengemas dan menerapkan strategi marketing cukup memberi input positif untuk dipilihnya suatu karya. Sayangnya, alasan saya membeli novel ini adalah karena kebetulan mendapat harga yang sangat miring di samping nama S.N Ratmana yang menarik untuk dikenal lebih jauh.

Saya kurang tertarik membahas isi pasca membaca habis novel ini. saya hanya ingin sedikit mengira-ira. Mungkin naskah novel ini sudah ditulis cukup lama, lalu diendapkan oleh S.N Ratmana, kemudian oleh editor di gubah bagian depannya (lead) sehingga memiliki daya hisap pembaca untuk terus membuka halaman berikutnya. Kemungkinan yang lain, novel ini memang baru ditulis namun menggunakan setting masa lalu sesuai dengan gaya penulisan pada masa-masa angkatan S.N Ratmana. Judulnya bisa jadi kombinasi antara inti cerita dengan sedikit bumbu daya jual. 

Pendek kata, novel ini memiliki paragraf pembuka yang menarik.

September 28, 2015

Review Novel Kambing dan Hujan


irero.doc 



Memiliki cita-cita menerbitkan buku sendiri sedikit membuat kita lebih berhati-hati dalam bersikap dan bertutur. Terlebih bila buku tersebut akan dipasarkan ke masyarakat umum. Pandai-pandailah membawa diri, begitu kiranya. Adakalanya hal tersebut membenturkan niat untuk mengkritisi karya orang lain. Seorang senior bilang, seorang kritikus sastra pandai sekali menguliti karya hingga sampai ketulang-tulangnya. Beberapa penulis bergidik karenanya. Padahal, belum tentu mereka bisa membuat karya yang lebih baik atau sekadar serupa.

Akibat cita-cita itu, muncul keengganan untuk mengkritik secara gamblang dan blak-blakan. Seorang pembaca yang sekaligus berprofesi sebagai penulis cenderung mempersepsikan diri sebagai si pembuat objek yang dikritik. Walhasil, kehati-hatian muncul, ranah ‘aman’ pun dimainkan. Berbeda dengan pembaca murni, mereka lebih mempersepsikan diri layaknya konsumen yang subjektif sehingga lebih apa adanya dalam memberi tanggapan.

Pemahaman saya mengenai kebebasan (dalam hal ini ‘kritik’) masih sama, semu semata. Dalam kehidupan manapun, batas akan tetap dimainkan sebagaimana fungsinya. Ada kalanya ingin berkomentar pasca melahab habis satu buah buku dengan ‘semau-maunya saya’. Sehat rasanya jiwa andai kata bisa berkata kepada dunia “novel ini jelek, nggak nyaman dibaca!”.

Tapi biarlah, mulut orang-orang lebih berhati-hati dengan adanya tantangan balik, apakah kita bisa membuat lebih baik? Begitulah kira-kira bangunan rasa pra me-review novel ini.

Kambing dan Hujan, saya ketahui berada diurutan pertama alias pemenang sayembara menulis novel DKJ 2014. Ingatan saya langsung mengarah ke ‘Saman’ yang memenangkan sayembara serupa di tahun 1998. Novel karya Ayu Utami tersebut sukses membuat orang berhenti bernapas sejenak karena takjub. Kalau saya pribadi sangat mengagumi pikiran liar Ayu Utami dan gaya bahasa yang digunakan. Saman, membuat saya jatuh cinta pada bacaan pertama dan memasukkan nama Ayu Utami ke dalam list  teratas pengarang ‘wajib beli’.

Saman secara tidak langsung menjadi standar pembanding saya dengan novel-novel pemenang DKJ yang lain. Sejauh ini, sudah 3 novel pemenang DKJ yang berhasil saya rampungkan. Novel ‘Semusim dan Semusim Lagi’ kembali berhasil mencuri hati dengan konsep gaya penulisan lebih modern. Untuk kedua kalinya saya berkata lagi, suka sekali dengan novel karya Andina Dwifatma ini. Lalu ada lagi novel ‘Persiden’ namun terhenti di tengah halaman karena banyak istilah Minang yang membuat kepala nyut-nyutan. Dan ‘Kambing dan Hujan menjadi novel ke 3 yang berhasil saya rampungkan.

Menilik Mahfud Ikhwan sebagai lulusan jurusan sastra UGM, agaknya cukup sulit meragukan novel tersebut dari segi tata bahasa. Runut, teratur, tertib dan sangat renyah untuk dinikmati, begitu kiranya. Prediksi saya, kemenangan ‘Kambing dan Hujan’ tak jauh karena kejelian dan keberanian Mahfud Ikhwan mengangkat ketegangan organisasi islam yaitu ketika awal mula Muhammadiyah mulai muncul yang seolah menandingi NU. Momen ketegangan tersebut terangkum dalam balutan kisah cinta Fauzia dan Mif.

Novel yang mengkritisi suatu persoalan tertentu memang lebih cenderung dilirik. Namun sebagai penulis, kritis asal kritis bisa berdampak negatif bagi dirinya sendiri. Berani mengangkat kasus sensitif saja itu tidak cukup, karenanya penulis harus memiliki dasar dan riset yang kuat guna menangkal dan menghadapi pelik permasalahan yang kemungkinan ditimbulkan. Hal itu tentu untuk mengamankan posisi diri sendiri dan menghindari sebutan waton njeplak tanpa dasar yang kuat.

Mahfud Ikhwan menjadi salah seorang kritis yang jeli dalam mengemas dan menyampaikan pergesekan yang ia hadirkan dalam novelnya. Selain kisah kasih Fauzia dan Mif, ia juga menetralisir permasalahan dengan menghadirkan perseturuan dua orang sahabat lama antara Moek dari kubu NU dan Is dari kubu Muhammadiyah. Keduanya tak lain adalah ayah dari Fauzia dan Mif sendiri.

Cerita berawal dari dua orang muda yang saling menjatuhkan hati dan pilihan hidup untuk bersama, yaitu Fauzia dan Mif. Apalah dikata, kisah cinta mereka mewarisi gaya sinetron yang terhalang restu dari orang tua. Usut diusut, yang awalnya mereka mengira restu tersebut terhalang dari perbedaan pandangan soal organisasi islam, lebih jauh justru mereka menemukan suatu fakta bahwa ayah mereka dulunya adalah sahabat karib. Hal-hal yang menjauhkan keduanya itulah yang menarik dan terkupas banyak dalam novel ini.

Dua sahabat karib kecil Moek yang berasal dari keluarga yang cukup berada dan Is yang tergolong kekurangan, semakin merenggang seiring perbedaan paham organisasi islam yang mereka anut masing-masing. Belum lagi kisah cinta segitiga antara Moek, Is dan Yatun -yang kini menjadi istri Moek alias Ibu dari Fauzia-. Keengganan untuk saling tegur sapa semakin menguat di antara keduanya. Mereka saling berlomba membangun benteng image dengan definisi salah dan benar menurut masing-masing.

Mahfud Ikhwan dalam novel ini memaksimalkan setting flashback orde baru yang begitu sensitif dan masa kini -di mana pergesekan antara kedua organisasi islam sudah tidak begitu dipersoalkan. Kisruh mengenai perselisihan PKI dengan pondok pesantren pun tak luput dibubuhkan Mahfud Ikhwan untuk memperdalam konflik.

Meski dikemas dengan rapi dan hati-hati, namun ada bagian yang cukup mengusik. Yaitu ketika Fauzia menerima surat-surat antara Moek dan Is dari Bapaknya. Tidak diceritakan bagaimana surat dari Moek (Bapak Fauzia) masih berada di tangan Moek sedangkan surat tersebut sudah memperoleh balasan dari Is. Di lain sisi, hubungan Moek dan Is merenggang, dan tidak memungkinkan adanya interaksi lanjutan seperti meminta kembali surat yang sudah dikirim.Bagaimana Moek bisa memperoleh kembali surat yang ia tulis sementara persahabatan mereka tengah koma?

Mungkinkah saya meluputkan satu bagian tertentu yang menjernihkan kejanggalan dari saya? Bagi yang pernah membaca dan lebih tahu bolehlah saya diluruskan.

Di luar satu hal itu, dengan tema yang cukup jeli saya merasa novel ini layak memenuhi peringkat pertama pemenang sayembara DKJ 2014 meski belum mampu menggeser Saman dari hati saya. Seolah menekankan pada sejarah perkembangan islam di suatu daerah dan era tertentu, Mahfud Ikhwan mengakhirinya dengan indah dan damai,  tanpa ada pihak yang terlalu dibela pun dirugikan. Masing-masing tokoh dari dua pihak terasa seperti dibubuhi pesan alasan dan tujuan mengapa begini dan mengapa begitu. Penulis sepertinya sangat memahami pelik di antara ke dua belah pihak, mengapa pihak ini melakukan ini dan mengapa pihak yang lain menanggapinya begitu. Banyak pula pesan moral, nasihat, atittude yang baik yang bisa kita petik. Misal seperti, niat baik saja belum tentu cukup bagi sebagian kalangan. Niat yang baik harus dibarengi dengan cara yang baik. Menyajikan teh untuk seseorang itu termasuk niat baik, namun bila caranya dengan dilempar maka leburlah muatan kebaikannya.

Endorsment dari tokoh perwakilan ke dua belah pihak baik NU dan Muhammadiyah, di mata saya cukup memberi tanda bahwa novel ini telah lulus sensor dari kemungkinan timbulnya persengketaan di hari kemudian. Meski dalam endorsment tersebut keduanya cenderung menanggapi secara wajar dan aman-aman saja. Rupanya perbedaan itu seperti rahasia umum, semua orang mengetahui namun ‘tak perlulah’ diperdebatkan lebih jauh.

Bagian paling menggelitik adalah ketika Moek dan Is terjebak dalam suatu suasana di mana harus saling bertegur sapa kembali setelah saling mendiamkan selama berpuluh tahun. Mereka terlihat seperti dua remaja yang sedang marahan, masih saling menyayangi namun gengsi untuk memulai lebih dulu. Dialog yang dibangun Mahfud mampu membuat saya senyum-senyum sendiri membayangankan kecanggungan di antara Moek dan Is.

Aku dan kamu bagai Kambing dan hujan yang menolak untuk saling bersentuhan. Begitu kiranya Mahfud Ikhwan menggambarkan ketegangan di antara Moek dan Is.

Di masa ini kisah cinta NU dan Muhammadiyah tentu bukan hal yang perlu dibesar-besarkan. Begitu pula seharusnya dengan kisah Fauzia dan Mif. Namun kisah masa lalu ayah mereka tidak bisa begitu saja diabaikan. Bagaimana keduanya berdamai dengan keadaan dan perbedaan, adalah bagian paling menarik secara keseluruhan.

Apalah arti saya kemukakan akhir kisah cinta mereka bila cerita demi cerita yang dibangun dalam setiap bab sayang untuk sekadar didengar dari sebuah ulasan.




                                                                                                               

September 4, 2015

Tentang Pernikahan dan Lelaki yang Saya Nikahi


150815





20 hari yang lalu, tepatnya sabtu, 15 Agustus 2015, menambah panjang daftar tanggal penting yang harus saya hafal dalam hidup saya. Bergeser kurang lebih setengah jam dari jadwal awal yaitu pukul 9 pagi, saya menikahi seseorang yang setahun terakhir ini hampir tak pernah absen menggelayuti kepala saya. Mungkin anda paham betul yang mana orangnya -setelah beberapa kali saya kerap menyiratkan sosoknya ke dalam beberapa tulisan yang saya buat. Atau justru anda salah seorang karibnya? Itu semua tidaklah penting melebihi pentingnya status baru saya sebagai ‘istri’? *smile*


Beberapa kali, ia -lelaki yang sudah saya nikahi- memanggil dengan istilah ‘istriku’, dan beberapa kali itu pulalah saya merasa aneh. Satu kata itu rupanya cukup menghadirkan sensasi canggung dan ragu. Apa benar saya seorang ‘istri’? Bahkan terkadang saya menjadi kerap mengulang-ulang kata tersebut dan menjadikannya hambar makna. Pernahkah anda merasa bahwa beberapa kata yang dieksploitasi kegunaannya secara berulang-ulang akan menyamarkan makna dari kata itu sendiri? Itulah yang saya rasakan. Sekali saya berpikir kata ’istri’ masih menghasilkan makna yaitu seorang wanita milik lelaki yang bernama suami. Makin ke sana tiba-tiba saya kehilangan makna dari kata istri. Apa itu istri? Makanan apa itu? apakah itu semacam provider internet? Ataukah sebutan lain untuk es teh? –Dari hal tersebut saya simpulkan, janganlah suka mengulang-ulang kata jika tak mau kehilangan maknanya!

Dan, mengenai lelaki yang saya nikahi itu. Ngomong-ngomong, saya lebih suka berkata ‘menikahi’ ketimbang ‘dinikahi’. ‘Menikahi’ lebih terasa aktif dan berkesan sungguh-sungguh ( atas kehendak pribadi), sedang ‘dinikahi’ lebih terkesan pasif dan banyak kata ‘jangan-jangan’ yang berada di belakangnya. Jangan-jangan mau karena terpaksa atau jangan-jangan cuma pura-pura, atau jangan-jangan jangan-jangan yang lain. Bila si lelaki yang saya nikahi itu juga memilih kata menikahi, maka biarlah kami saling menikahi dan tak ada yang dinikahi.

Lalu lupakan soal istilah!

Lelaki itu, sebelum saya nikahi, terlihat unyu dan lucu. Petimbangan utamanya tentulah dari pola pikir. Namun setelah menikah, saya jadi tahu bahwa dia tidak lucu tapi lucuuuuuuuu sekali. Bahkan saya tak tahu bagaimana cara mengungkapkan kelucuan yang berlebihan selain menambahkan huruf ‘u’ di bagian belakang. Saking lucunya, sampai bisa membuat saya cekikikan sepanjang hari, pagi – siang- sore - malam hingga dini hari lagi. Kalau kata dia, sayalah yang lucu. Tapi dari kacamata saya, dialah yang lucu.  Oke, sekalipun saya melucu tentulah karena objek (baca: dia) siap menerima kelucuan, bukan?

Dan hentikan soal lucu-lucuan dan kembali ke soal pernikahan.

Menikah itu bukan perkara mudah, Teman. Mau bikin kata-kata saja harus ditimbang-timbang dulu, apakah ini tergolong pembeberan dapur perusahaan? Semacam kehidupan pribadi yang tak selayaknya dipublikasi ataukah masih dalam ranah ‘aman’. Menikah juga tak semudah dolan-dolan layaknya jaman masih perawan, setiap langkah dari kaki ini, ada ijin dan pertanggung-jawaban.

Tapi menikah itu indah, Teman. Bila kau niati sebagai ibadah.*smile lagi*

Sebelum tanggal yang saya sebutkan di awal tadi, banyak orang memberi nasihat A, B, C dst dengan cerita yang kebanyakan justru menimbulkan keraguan dan ketakutan untuk menghadapi pernikahan. Mulai dari premarried syndrom sampai kesulitan-kesulitan yang siap menghadang di kemudian hari. Kabar baiknya, saya -dan lelaki yang saya nikahi itu- cukup mengingat bahwa tidak ada peristiwa besar seperti bom Hiroshima dan Nagasaki yang berhasil menggoyakan hubungan kami. Kami rukun-rukun saja, serukun para warga dan tetangga. 

Kadang saya sendiri menghujaninya dengan berbagai pertanyaan seperti ;

“Mas, sudah kena PMS belum?”, “Mas ndak marah karena apa gitu?”, “Mbok marah to, Mas!”, “Mas, kita kok nggak pernah marahan ya!?” dan aneka rupa bentuk kalimat tanya paranoid yang lain. Saya dihantui takut, kalau-kalau hubungan kami tidak normal. Saking takutnya, sampai-sampai saya sering maksa dia marah, minta pura-pura marahan atau apa saja yang berkemungkinan menimbulkan gejolak dalam suatu hubungan. Untung diuntung, itu semua tak pernah benar-benar ia lakukan. Ia menanggapi dengan santai dan mungkin sedikit mikir “ini calon istriku stress kali, ya?!”

Rupanya selain lucu dia juga kelebihan bijak. Misal bijak itu digambarkan seperti pop ice dalam  gelas, berarti isinya sudah meluber ke mana-mana, saking bijaknya.  Kalau sabar tak perlu dinyatakan, karena orang yang tahan bersama saya selama 1 bulan itu sudah bisa dikategorikan sebagai orang sabar.

Apabila malaikat bertanya mengapa saya mau menikahinya? Maka akan saya jawab, “Mal, Tuhan yang menakdirkan saya dengan dia.” Itu jawaban mudah, anak SMA pun bisa.

“Tapi Mal, bila kau tanya, mengapa saya tidak berontak ketika Tuhan menetapkan saya harus menikah dengan dia, maka akan kujawab, karena semua itu sudah kehendak Tuhan.” Ah, nggak asik!Lagi-lagi jawaban yang aman-aman saja!

Baiklah, mungkin saya bisa sedikit menetralisir kekecewaan malaikat dengan pernyataan begini, saya merasa bersyukur dengan apa yang telah Tuhan pilih untuk saya. Dan ketika itu terjadi, saya melihat banyak kelebihan yang dimiliki pasangan saya dan karenanya saya merasa nyaman dan bahagia.

Dari itu saya belajar mengerti bahwa untuk merasa nyaman, diperlukan rasa syukur, dan awal dari semua itu adalah penerimaan, keikhlasan. Di luar itu semua, pertama kali saya memutuskan untuk mau menikah dengan lelaki itu adalah karena saya tahu benar bahwa dia sempurna untuk saya dan saya yakin dia bisa menyempurnakan saya dengan caranya.

Waktu berjalan sampai dengan detik tengah malam ini dan saya merasa aman-aman saja. Entah yang dikatakan orang-orang tentang cobaan itu benar atau tidak, atau mungkin belum waktunya cobaan kami datang, yang jelas saya mengerti satu hal, menakuti sesuatu yang belum terjadi adalah suatu kesia-siaan. Itu yang dinamakan membuang-buang waktu. Bisa jadi semua akan baik-baik saja sampai akhir, atau bisa jadi juga malapetaka benar hadir di hari kemudian. Apapun itu, yang sebaiknya saya tekankan pada diri saya adalah sesuatu yang harusnya terjadi pasti akan terjadi, jadi lebih baik menghadapi dari pada menakuti. Setidaknya aura positif thinking akan membantu meringankan ketimbang perasaan takut dan was-was yang cenderung mengeruhkan keadaan.

Mungkin cobaan itu sudah menanti. Bisa jadi ia keluar besok dini hari pukul 5 pagi atau lusa nanti atau 10 tahun lagi. Apapun itu, sejauh saya bersama lelaki itu, saya merasa cukup kuat untuk menghadapi. Selebihnya, saya merasa sudah melampaui satu tahap besar dalam hidup saya dengan memilih orang yang tepat.

Dia sempurna untuk saya. Bukan berarti tak ada secuil pun kekurangan, hanya saja saya lebih memilih untuk mengabaikan.

Terima kasih untuk cerita hari ini. Itung-itung mempertemukan kembali jemari dengan tuts keyboard. Anggaplah ini sebagai setitik rasa bahagia yang ingin saya bagi. Terima kasih untuk teman-teman yang kemarin hadir di acara kecil kami. Terima kasih atas doa, dukungan dan kenangan yang tak akan bisa kami ganti. Tak ada kesyahduan melebihi doa ikhlas untuk seseorang.  Sekali lagi, beribu kali lagi, terima kasih.



July 6, 2015

Tentang Teman Pena, Surat-surat dan Seperangkat Ingatan Lalu

doc pribadi


Inilah akibat memfollow akun-akun milik orang yang tulisannya kita sukai. Beberapa postingan mereka kerap menggelitik otak dan memunculkan kegelisahan-kegelisahan baru yang memaksa untuk segera dituliskan.

Saya penganut keyakinan bahwa membiarkan ide berjejalan di otak sama halnya dengan menahan hasrat ingin kencing. Itu sungguh tidak enak dan menyakitkan. Karenanya saya harus meneruskan pertanyaan dari Agusnoor yang ia posting di akun IG miliknya. “Siapakah yang hari ini masih suka berkirim surat?” tanyanya dengan gambar sebuah amplop surat beserta kertas (tentu yang dimaksud bukan surat tagihan listrik, kreditan, promosi, iklan dan lain sebagainya.)

Ingatan saya langsung mengarah kepada sebuah kardus sandal yang dulu saya simpan di kolong almari pakaian. Buru-buru saya angkat papan tebal yang menutupinya lalu mengeluarkan kardus beserta seluruh isinya. Ada tumpukan surat-surat lawas, beberapa kartu ucapan ulang tahun, ucapan hari raya dan diary-diary kecil. Saya pun tak ingat detail isi masing-masing karena mereka sudah hampir saya lupakan lebih dari 10 tahun yang lalu (lebih tepatnya saya sengaja lupakan agar kelak bila saya ingat atau menemukannya kembali saya akan merasa bahagia karena memperoleh hiburan yang tak bisa dibeli di belahan dunia manapun).

Dari sana saya mulai ingat betul siapa saja orang-orang yang dulu sering berkabar dengan saya. Seorang teman sekalas waktu SMP dan seorang teman yang harus pindah dan meneruskan sekolahnya di sebuah pesantren di Jawa Timur. Yang pertama lucu memang, saya berkirim surat melalui pos dengan seorang teman sekelas. Kalau setiap hari bertemu mengapa harus berkirim surat via pos? Saya pun lupa alasannya, mungkin kami merasa lebih keren kalau ada Pak Pos datang ke rumah mengantar surat sekalipun surat itu berasal dari seseorang yang jaraknya hanya 1-2 km dari rumahmu.

Belum saya baca kembali apa isinya tapi ada beberapa yang masih saya ingat, seperti teman saya berkata mengapa bahasa saya kaku sekali di surat, lalu ia menyarankan untuk menggunakan bahasa santai dan yang dianggap sedikit ‘gaul’ –pada masa itu. Ha, mungkin saya canggung dan belum berbiasa harus berkabar via pos.

Teman saya itu kerap sekali memakai kertas lucu-lucu penuh warna untuk menulis surat, lalu saya bertanya darimana ia mendapat kertas dengan gambar kue-kue lucu di bagian tepinya. Kemudian dia menjelaskan kalau kertas-kertas itu ia buat sendiri dari komputer miliknya. Ia memilih-milih gambar lucu, menaruhnya di bagian tepi lalu mencetak dengan printer yang ia miliki. Tentu saya tak bisa mempraktikannya, jangankan punya komputer, pada masa itu, mengoperasikannya saja saya masih gagap. Tapi ia memberi tawaran yang baik, besoknya ia berjanji akan memberi saya beberapa kertas bergambar buatannya. Cukup aneh bukan, ia memberi kertas surat yang akan saya gunakan untuk menulis surat untuknya.

Lalu teman pena saya yang ke dua, tak lain adalah tetangga sendiri. Meskipun bertetanggaan, namun kami gemar sekali bertukar surat –tanpa pos tentunya. Lalu ketika dia harus pindah ke pesantren, barulah kami benar-benar menjadi teman pena. Di pesantren, dia hanya menggunakan 2 bahasa, Inggris dan Arab. Karena takut tertinggal kemampuan, saya memintanya untuk menulis dalam bahasa Inggris saja, itung-itung membantu saya belajar, pikir saya kala itu. Dan benar, dia sering kali menggunakan bahasa inggris. Dia bercerita meski perkembangan bahasa sangat diutamakan di tempat itu namun penggunaan media elektronik sangat dibatasi.

Suatu ketika dalam suratnya dia meminta saya untuk mengajarinya mengoperasikan handphone -nanti ketika dia sudah kembali ke rumah. Aneh sekali, di sana diajarkan banyak bahasa manca negara, mengoperasionalkan komputer tapi tidak dengan handphone. Jadi, sewaktu anak-anak di kampung saya sedang bereuforia mengirim pesan kepada orang yang mereka suka, si teman saya itu sama sekali tidak tahu bagaimana caranya mengirim pesan. Waktu itu saya pun belum memiliki handphone. Barang itu hanya terjamah oleh kalangan tertentu. Teman pena saya itu kebetulan berasal dari keluarga yang cukup berada, dia punya tapi tidak tahu cara memakainya, kebalikan dengan saya.

Semenjak masa kecil saya sudah diberi gambaran dua kehidupan yang berbeda. Bagaimana teman saya mengenyam pendidikan dengan culture agama yang kuat dan saya yang menghujaninya dengan cerita-cerita duniawi dari kehidupan sehari-hari saya.

Itu sepenggal cerita dari masa lalu bersama teman pena. Beranjak SMA saya sudah tidak pernah lagi berkabar via surat. Saat itu hp sudah mulai merebak dan anak yang berkirim surat mulai mendapat lirikan aneh dari anak-anak yang lain. Jangan ditanya bagaimana sekarang saya berkomunikasi dengan mereka, fb, twitter, instagram, waa, line, bbm, blog, path dan sejenisnya berebut untuk saling digunakan.

Mudah, dan cepat alat komunikasi sekarang. Tapi, tetap ada rasa yang berbeda ketika saya menerima pesan bbm dibanding dengan ketika Pak Pos datang untuk menyerahkan sepucuk surat dari salah seorang teman pena. Walau begitu -kata pasangan saya, segala hal dan kemudahan tetap perlu disyukuri. Setidaknya saya bersyukur pernah hidup di jaman di mana berkirim pesan tidak semudah membalikkan tangan. Dari sana saya belajar, bahwa segala sesuatu yang dikerjakan dengan susah payah dan perlu proses panjang itu hasilnya akan lebih manis, berkesan dan dalam.

Demikian jawaban saya untuk Agusnoor. Ngomong-ngomong, dia penulis yang baik sekali, beberapa bulan lalu dia mengijinkan saya untuk mengutip puisi miliknya ke dalam undangan pernikahan saya. Hari ini dia merespon dan merepost postingan IG saya terkait teman pena. Ingin sekali saya bertukar sapa dan berbagi cerita dengannya.


#pensilramadan


Hidup Dengan Sedikit Benda

Baru-baru ini saya menyadari bahwa saya terlalu banyak mencemaskan benda-benda yang saya miliki. Terlebih benda yang benar-benar saya...