February 23, 2015

Antara Saya dan Wanita Syar'i

   
Sumber : Doc.pribadi



Wajahnya ceria, mulus tanpa make up. Tutur katanya halus, geraknya sederhana tidak berlebihan, tatapan matanya meneduhkan.  Wanita itu menyapa saya yang hendak masuk menemui salah seorang rekannya.  Di sisi kanan kiri terlihat beberapa wanita dengan penampilan serupa.  

“Permisi Mbak, eh, Ukhti..” ucap saya ketika melewati beberapa dari mereka. Mereka membalas dengan senyuman yang tulus.

Wanita Syar’i. Darimana sebutan itu? sungguh dari saya pribadi (di luar entah sudah ada orang yang menyematkan sebutan serupa atau belum). Alasannya simple, mereka memakai gamis Syar’i (begitu pedagang pasar sering menyebutnya,) pakaian panjang dan longgar dengan bahan tebal dan jilbab panjang menutupi dada bahkan hingga perut dan pantat.

Setiap kali saya menjumpai wanita syar’i, refleks saya selalu melirik sekilas penampilan saya sendiri. Celana jeans ketat, jilbab paris tanpa ciput, pakaian hampir ngepres dengan badan. Tiba-tiba saya bisa merasa malu sendiri berhadapan dengan mereka. Malu itu pun refleks di luar prediksi. 



Seperti hastag yang sering saya gunakan di instagram, bahwa saya adalah seorang #hijabers (Wanita yang memakai hijab). Namun saya adalah seorang hijabers kasual pada umumnya. Memakai baju dan celana seperti biasa dibubuhi jilbab untuk menutupi kepala.  Masih antusias update trend model jilbab terbaru dan mengunduh tutorial jilbab di youtube. Membeli gamis-gamis model anyar yang unik dan lucu-lucu ditambah lagi mengoleksi bros serta asesoris yang bisa dimenterengkan ketika saya menghadiri pernikahan seseorang. Dan paling kentara, saya sangat suka memakai make up meski minimalis ketika kerja dan kondangan.

Memang hijabers kasual (hijabers secara penampilan) jumlahnya masih jauh lebih banyak ketimbang wanita syar’i tadi.  Entah mengapa saya selalu merasa mereka berada di atas saya dan lebih baik daripada saya.  Tentunya saya membahas penampilan -di luar soal menyoal tingkat keimanan-  mereka yang tidak mungkin saya tahu pun saya pantau samban harinya.

Bila beradu argumen saya akan berkata, tidak semua hijabers mampu dan siap memakai jilbab dan berpakaian ala syar’i seperti itu. Dengan pandangan seperti itu secara tidak langsung saya mengiyakan adanya tingkatan berjilbab. Dan memang, menurut pemikiran saya tingkatan itu memang benar adanya (secara penampilan dan pemakaian.) Sekali lagi, ini di luar keimanan di mana hanya Tuhan yang bisa menyematkan ukuran pasnya).

Dan lagi-lagi bila bertemu dengan mereka, saya secara refleks merasa sungkan. Meski tidak ada kewajiban yang memaksa saya untuk seperti mereka. Lambat laun saya berfikir, apakah benar itu rasa sungkan, ataukah iri? Iri karena mereka terlihat teduh tanpa make up, iri karena mereka terlihat sederhana dan nyaman tanpa jilbab yang dineko-neko-kan, iri karena hidup mereka terlihat damai dan tidak dicemaskan oleh penampilan, iri karena mereka terasa begitu santun dan menentramkan. 

Ya, begitu santun dan menentramkan. Saya sampai menitihkan airmata ketika mendengar dua kata itu. Orang mana tua mana, teman mana bahkan pria mana yang tidak terpesona dengan wanita yang santun dan menentramkan. Menentramkan tak hanya di dunia namun juga akhirat tentunya. Bila saya sebagai wanita saja merasa teduh bagaimana dengan pria?

Lalu pikiran liar saya mengait-ngaitkan dengan yang lebih jauh. Apa pasangan saya esok akan nyaman dan tentram dengan saya? Apa jujur di dalam hatinya ia lebih berharap memiliki wanita syar’i? Apa ia bisa mengalihkan pandangannya ketika kelak kami berpapasan dengan wanita seperti itu? 

Mungkin iman saya belum mencukupi, nalar saya belum mampu menjangkar. Tapi yang jelas, ada keirian yang tidak mampu saya kendalikan. Setiadaknya tulisan ini mengingatkan saya untuk terus berupaya menjadi sebaik-baiknya wanita. Meski saya belum mampu berpenampilan secara syar’i. Baiklah, setidaknya saya bisa mengurangi pemakaian jeans ketat, kaos ketat dan mengganti dengan yang lebih longgar namun tetap modis dan masih tetap bermake up ria (Meski pakaian ketat pun tidak membuat saya seksi.) 

Terima kasih sudah mau berbagi :)


1 comment:

Hidup Dengan Sedikit Benda

Baru-baru ini saya menyadari bahwa saya terlalu banyak mencemaskan benda-benda yang saya miliki. Terlebih benda yang benar-benar saya...