April 29, 2015

Anomali Penarik Sampah




Tengah hari di bulan juni tak pernah mau bersahabat. Raut pengendara motor semakin tertekuk mendapati hitungan lampu merah masih diangka 54. Di trotoar, beberapa orang karyawan pabrik terlihat gelisah dan serempak menutupi wajah masing-masing dengan tangan. Beberapa lainnya mengumpat, menyesali keputusan keluar dari ruang kerja yang nyaman dan sejuk. Raut mereka kusut, keringat mengucur dari pelipis, ketiak dan punggung. Panas terik telah berhasil mengubah aura wajah dan emosional seseorang.

 Dari arah selatan, segerombolan gadis berpakaian kerja terlihat melangkah ke luar gerbang salah satu dealer mobil ternama. Langkah mereka seperti diburu ketika melewati gerobakku yang sedari beberapa hari lalu masih terparkir di gang sebelah dealer. Ada yang berusaha menahan napas dan seolah tak mencium bau apa-apa, ada yang tak segan-segan menutup hidung dengan 2 tangan disertai bermacam umpatan, “Ugh!”, “Arrggh!” dan ada juga yang terlihat sekuat tenaga menahan muntah.

Aku tak heran, awal pertama aku mendorong gerobak itu pun begitu. Telur busuk bercampur dengan sambal kacang yang sudah basi, aroma susu basi, sayuran sisa, kaleng sarden, bungkus sate, botol minuman berenergi, pembalut wanita, tulang belulang ikan yang sudah mengendap berhari-hari komplit dengan lalat, dan segala macam sampah yang tak lain adalah dari mereka sendiri. Segala bau dan barang itu beradu menghasilkan aroma bacin, amis yang membuat orang susah menahan muntah. Awalnya aku butuh kain atau masker bekas untuk menutup penciumanku. Namun lambat laun, bau-bau itu dengan sendirinya akrab melewati bulu-bulu hidungku. 

Kubiarkan orang-orang memandang jijik gerobak usang itu. Sungguh benar tak usah heran, pemandangan seperti itu sudah kunikmati hampir belasan tahun lamanya. Lebih tepatnya, 11 tahun 5 bulan, jika aku tak salah hitung. Manusia-manusia penghasil sampah tapi anti sampah. Beuhhh! Munafik!

Pekerjaanku itu bermula dari kematian Kang Kelik, orang yang merawatku sejak kecil dan - yang kutahu - sebagai satu-satunya keluargaku. Sebelumnya aku tak pernah menyentuh sampah, lagi pula Kang Kelik lebih suka melihatku pergi ke Taman Belajar Mandiri milik Bu Etik dibanding harus bergelut dengan tumpukan bau. Kang kelik bilang,” kelak aku akan menjadi orang”. Mungkin Ia pikir aku ini monyet yang belum bisa menghasilkan apa-apa dan hanya bisa berteriak menadah makan ketika lapar. Tapi biarlah, bagaimanapun ia kerap membawa bingkisan berisi nasi dan paha ayam yang masih utuh. Katanya, sisa dari restoran cepat saji dekat perbatasan.

Lalu, Kang kelik pergi selama-lamanya. Seorang putra pengacara terpandang milik kota ini telah menabrakkan sedan merahnya ke tubuh kurus kering itu. Kata orang, Ia terpental 15 meter dengan darah melambah-lambah dan mati di tempat. Umurku saat itu baru 8 tahun.

Semenjak itulah aku menjadi tukang sampah untuk menyambung hidup. Awalnya kupikir aku hanya butuh makan dan tak butuh Kang Kelik, tapi sesekali aku pernah benar merindukannya.
Oh ya, orang biasa memanggilku Popo. Kulitku yang gosong mengingatkan mereka dengan tokoh Mr. Popo di serial kartun Dragon Ballz. Sebenarnya nama asliku Bagus. Bukan aku sedang memuji, tapi memang namaku benar Bagus, BE-A-GE-US. Entah dari mana nama itu, yang jelas hanya Kang Kelik selalu memanggilku Bagus, dan hingga dia mati aku lupa menanyakan siapa gerangangan yang memberikan nama itu. Aku bahkan belum tahu asal usulku sebenarnya. Rencana, aku akan tanya ketika umurku menginjak 9 tahun, tapi Kang Kelik lebih dulu mati. Tau begitu aku akan mengubah rencanaku.

Kupikir, pekerjaanku itu akan segera berakhir. Bulan lalu Bang Jo - pemilik warung Bakso Kondang- menawariku pekerjaan. Itu hal yang sudah lama aku impi-impikan. Warung Kondang tenar di antara kami, para pekerja kasar. Biarpun sekadar warung namun -yang kudengar dari beberapa orang- pendapatannya mencapati 5-6 juta rupiah per hari. Karyawannya berjumlah 15, gaji mereka bekisar antara 25 ribu hingga 50 ribu rupiah per hari, tergantung ramai atau sepi. 

Sudah girang bukan kepalang aku kala itu. Mimpi untuk menjauhi sampah dan mendapat gawean yang lebih layak sudah di depan mata. Setidaknya aku tak lagi bergelut dengan bau. Setelahnya, akan kuberanikan diri untuk menyapa Yian -anak penjaga pasar- secara langsung. Selama ini Aku tak pernah membiarkan Yian mengenal tubuhku yang kotor dan bau. Dan kelak, saat Yian sudah menjadi Istriku, akan kuceritakan semua. Aku yakin, Dia pasti mau mengerti.

Belum genap seminggu aku bermimpi, pasar di mana warung itu berdiri sudah habis dilahap api. Bang Jo yang kala itu berlari panik hendak menyelamatkan harta bendanya mati tertimpa kayu panas sehari setelah bermalam di rumah sakit. 

Peristiwa itu tak hanya mematikan aktivitas warga, menelan senyum pedagang ikan yang tiap hari menyumbang sampah dengan bau paling menyengat, namun juga meruntuhkan kebahagiaan Yian. Tentu bukan karena kehilangan harta maupun dagangan, senyumnya lenyap seiring ayahnya yang sering menghilang dan mabuk-mabukan.

Kudengar beberapa warga sering membicarakan ayahnya, bahkan aku sendiri memang pernah - tanpa sengaja - mendengarnya. 

“Aaahhh kasus seperti ini sudah lagu lama, ini pasti setting-an!” Pekik pria bertubuh gembul sebelum tangannya sigap menyomot tahu petis di warung Bu Tun.

“Kemana lagi si Parjo, si tukang jaga itu?! Kenapa bisa sampai habis dagangan kita di makan api?!” Tambah pria lain di sebelahnya.

“Jangan-jangan sekongkol dia sama orang-orang atas! BAHH!” umpat pria ke tiga.

“Hush! Kalau ngomong jangan sembarangan, nanti bisa jadi fitnah, ora elok!” sergah Bu Tun.
Suasana menjadi hening. Mereka saling pandang. Sepaham dalam diam.

Beruntung ini telinga bukan milik calon mertuaku itu. Atau mungkin telinga orang tua itu sudah lebih dulu mendengar ocehan-ocehan semacam, hingga ia tak berani lagi menemui orang.

Aku tahu pasar itu memang benar sengaja dibakar, karena aku melihatnya.  Sehari sebelum kejadian, ketika riuh pasar berangsur sepi oleh tenggelamnya matahari, aku melihat sesosok pria berjaket gelap membawa jerigen dan menaruhnya tepat di depan kios Pak Rusman, sang ketua Himpunan Pedagang pasar.  

Pagi setelahnya Pak Rusman kelihatan gusar. Yang kudengar dari orang, sudah 3 hari ini Pak Rusman bertanya ke kios-kios sebelahnya terkait jerigen berisi bensin yang ada di depan kiosnya.  Namun, nihil. Tak seorang pun mengaku sebagai si-empunya.

Kini Pak Rusman yang malang itu harus menginap di Rumah sakit karena jantungnya yang lemah.  Kabar dari orang yang menengok, ia masih suka gelisah sembari sesekali menitihkan air mata bila mengingat kobaran api yang merenggut pendapatan ratusan orang di malam naas itu.  Ia menyalahkan dirinya karena tak mengindahkan teror misterius berupa sms dan jerigen bensin yang ia terima hari-hari sebelumnya. 

Lalu calon mertuaku?  Si tua itu tengah meneguk Congyang murahan di belakang Sekolah Dasar. Wajahnya lusuh, semangatnya surut. Kiprahnya sebagai penjaga pasar runtuh. Aksi heroik menangkap basah pencuri yang berniat membobol kios elektronik sebulan sebelumnya pun tak lagi berarti.  Tak cukup untuk menebus seluruh kerugian atas kobaran api itu.  Pula tak bisa menghentikan bisikan orang-orang yang membuat panas telinganya.

Dan Yian? dia akan menangis saat Bapaknya pulang dalam keadaan sempoyongan. Sudah baik setengah tahun ini Bapaknya tak pernah lagi kumpul dengan komplotan Gundul dan kawan-kawannya. Ia juga tak lagi pulang dalam keadaan mabuk seperti tahun-tahun sebelumnya. Wajar bila hati Yian semakin tersayat melihat Bapaknya kembali mabuk-mabukan. 

Aku, aku bisa merasakan sayatan itu.  Aku bisa merasakan perihnya setiap air mata yang ia jatuhkan. Dan hanya aku yang tahu, bukan orang lain. Seperti halnya hanya aku yang tahu dan melihat dihari terakhir orang itu menaruh jerigen. Aku paham betul rupanya, namun aku tidak kenal pun melihat sebelumnya.

Selama ini orang hanya menganggapku bagian dari sampah, tapi mereka tak tahu, sebenarnya akulah yang tahu semuanya.  

Jangan menganggapku pengecut karena menyimpan rahasia ini sendirian.  Aku tak sepengecut itu! Aku sudah berusaha memberi tahu Pak Rusman tapi dia tak mau mendengarku.

“Ha he ha he! Apa?! Minta makan!?” Pekiknya kala itu.

Aku menggeleng, masih berusaha bersuara sebisaku. Tanganku berusaha membuat bentuk orang, lalu bentuk kotak kemudian telapakku mengepal dan mempraktekkan adegan menjinjing dan menaruh. Pak Rusman tak paham dan justru semakin terusik. Ia mengeluarkan satu lembar sepuluh ribuan dan mengusirku. Aku berusaha kembali namun Pak Rusman semakin gencar mengusir. 

“Dasar bisu!!” umpatnya. Aku pun menyerah.

Di hari yang sama, malam selepas Isya’, orang-orang berteriak sembari berlarian menuju pasar. 

“Kebakaran...!! Pasar kebakaran.....!!” terdengar suara teriakan semakin riuh. Aku melempar sendal jepit rusak yang rencananya akan kuperbaiki dengan kawat dan ikut berlari menuju pasar tanpa alas kaki.

Melihat kobaran api merah sedang melahap bangunan pasar, aku ikut panik. Kubenamkan diri di tengah orang-orang yang berlarian untuk mengamankan dagangan. Aku membantu seorang Ibu yang tergopoh kesulitan mengangkut kardus berisi sembako. Sudah hampir 30 menit berlalu, Damkar belum juga muncul. Warga sekitar berlarian membawa air sebisa mereka dan melemparkannya ke beberapa titik.  

Tak kukenal lagi mana pemilik mana penolong dan mana penjarah, semua beradu cepat mengambil barang-barang yang masih bisa diselamatkan.  Ketika hendak masuk kembali, seseorang sengaja menubrukku hingga aku terkulai. Kepalaku membentur tepian lantai. Kurasakan pusing dan nyeri dibagian dada. Aku berusaha bangkit namun kembali jatuh sesaat setelah sebuah benda tumpul melibas tengkukku. Aku terkapar. Tak sadarkan diri.  Masih kurasa kesadaran terakhirku ketika panas menjalar ke seluruh tubuhku. 5 detik sebelum aku benar-benar tak pernah lagi sadar, kulihat api menyala disekujur tubuhku.

Tak ada yang tahu cerita sebenarnya. Cerita ini kutitipkan kepada kalian sebelum rohku benar-benar pergi tanpa menyimpan ingatan.

April 14, 2015

Review Novel : Ayahku (Bukan) Pembohong.



 
Sumber : tulismenulis.com



Bila kamu calon ayah, pelajaran pertama apa yang akan kau hadiahkan kepada anakmu kelak? Bila kamu seorang ayah, pelajaran pertama apa yang sudah kamu ajarkan kepada anakmu?

Saya percaya mengajarkan kearifan melalui dongeng atau cerita akan lebih mengena di hati seorang anak ketimbang memarahi dan menghukum untuk tidak boleh melakukan sesuatu dalam batas waktu tertentu. Beruntung semasa kecil saya hidup di zaman  di mana internet, sosial media belum lahir dan hiburan hanya sebatas dari televisi milik orang berpendapatan lebih. Di masa itu, kebersamaan menjadi salah satu pembunuh sepi. Bapak dengan pengetahuannya yang minim sering mendongeng sebagai pengantar tidur. Detail ceritanya masih saya ingat sampai sekarang, tentu ada pengaruh nilai pembelajaran yang masih melekat secara kuat dalam diri saya.

Seorang Tere Liye melalui novel ‘Ayahku (Bukan) Pembohong’ ingin menampilkan sebuah cerita tentang seorang ayah yang mendidik anaknya melalui cerita-cerita petualangan yang pernah ia alami. Awalnya kita akan mengategorikan cerita-cerita tersebut ke dalam kelas dongeng dengan terciumnya beberapa ke-absurb-an seperti : Ayahnya mengenal baik kapten salah satu team bola terbaik di Eropa, Ayahnya pernah mengunjungi suku pengendali angin, suku yang bisa menerbangkan diri dengan layang-layang dan ayahnya pernah memakan apel emas yang hanya berbuah setiap satu tahun sekali. Sampai pada titik akhir cerita terungkaplah kenyataan dari cerita-cerita ayahnya selama itu.

Anak sang ayah yang bernama Dam, tumbuh dan melalui fase-fase remajanya dengan berbekal kearifan dan semangat dari cerita-cerita dari sang ayah. Bagaimana ia menghadapi bullying dari temannya yang bernama Jarjit, bagaimana ia memotivasi dirinya menjadi juara renang nasional, hingga tanpa ia sadari, cerita-cerita itulah yang membentuk karakter Dam yang ramah, ringan tangan, ceria, pantang menyerah, bersemangat sampai ia dewasa.

“Bukankah Ayah pernah bercerita bahwa Suku penguasa angin bisa bersabar walau beratus tahun dizalimi musuh-musuh mereka? Suku itu paham, terkadang cara membalas terbaik justru dengan tidak membalas.”

“Penjajah itu tidak tahu kekuatan bersabar. Kekuatan ini bahkan lebih besar dibandingkan peledak berhulu nuklir. Alam semeseta selalu bersama orang-orang yang sabar.”

Segalanya terlihat baik-baik saja, hingga pada suatu ketika ia dihadapkan dengan masa dewasa yang penuh dengan logika dan tanda tanya. Lagi, ketika Ibunya harus mengembuskan napas terakhir, Dam yang dalam keadaan duka menuduh sang Ibu hidup dalam ketidakbahagiaan. Ayahnya terlalu hidup dalam kesederhanaan tanpa pernah sekalipun menyenangkan Ibunya dengan memberikan hidup yang layak atau sekadar memberikan sesuatu. Meski seisi kota menganggap ayah Dam sebagai satu-satunya orang yang jujur dan sederhana, namun Dam dewasa menganggap ayahnya seorang yang penuh kebohongan dengan cerita-cerita absurbnya.

Apakah benar Ibu Dam tidak pernah bahagia selama hidup bersama ayahnya dan apakah cerita-cerita sang ayah itu nyata atau hanya fiksi belaka? Rasanya kurang tepat bila saya memberitahukan akhir ceritanya. Saya bisa memberi tahu, tapi dengan itu pembaca tidak akan tahu betapa nikmat susunan kalimat dari seorang Tere Liye.

“ Dan kau tahu, Dam, hukum itu sejatinya adalah akal sehat, bukan debat kusir, bukan pintar bicara...”

Temukan makna kebahagiaan sejati, kearifan, hakekat keadilan dari cerita keluarga kecil Dam. Saya yang selama ini kurang berkenan melirik novel-novel Tere Liye jadi tertarik untuk membaca judul-judul lainnya.

Akhirul kata, para pembaca yang budiman dapat pesan dari Tere Liye :

Untuk membuat hati kita lapang dan dalam, tidak cukup dengan membaca novel, membaca buku-buku, mendengar petuah, nasihat, atau ceramah. Para sufi dan orang-orang berbahagia di dunia harus bekerja keras, membangun benteng, menjauh dari dunia, melatih hati siang dan malam. Hidup sederhana, apa adanya, adalah jalan tercepat untuk melatih hati di tengah riuh rendah kehidupan hari ini. Percayalah, memiliki hati yang lapang dan dalam adalah konkret dan menyenangkan, ketika kita bisa berdiri dengan seluruh kebahagiaan hidup, menatap kesibukan di sekitar dan melewati hari-hari berjalan, bersama keluarga tercinta.

April 5, 2015

Review Novel : Semusim dan Semusim Lagi




Kuberitahu : rasa iba dari orang lain adalah bahan bakar paling ampuh untuk membuatmu cepat mati.” p. 211

Banyak cara pandang yang menyenangkan -bagi kaum yang menyebut dirinya unik- yang bisa digali dari novel ini. Setelah sekian lama menelusuri novel demi novel, kembali saya bisa merasakan lagi bagaimana indahnya berlama-lama dengan sebuah novel. Yang saya ingat, terakhir saya menelusuri kata demi kata dan menikmati alur cerita adalah dari Gelombang. 

Novel yang menyenangkan bisa menghadirkan suasana ‘enggan berakhir’, jangan sampai bertemu ujung halaman. Ternyata ada lo penulis yang bisa mendeskripsikan kegiatan-kegiatan kecil seperti berhayal, dan membuat secangkir kopi menjadi kegiatan yang menyenangkan.  

Ketika membacanya saya lupa bahwa novel itu adalah karya dari orang Indonesia karena terasa seperti novel terjemahan luar.  Mungkin juga karena pemilihan adegan dan nama tokoh yang cenderung kebarat-baratan sehingga mengecoh pembaca. Hingga pada titik ketika penulis menyertakan istilah ‘kopi mandailing’, ‘bidah’, ‘PKI’ dan beberapa band lawas Indonesia, saya tersadar kembali bahwa setting novel ini masih di dalam negeri.

Terkhusus untuk saya, ada perasaan bahagia ketika bisa membacanya namun juga kecewa. Kecewa karena saya hanya meminjamnya dari perpustakaan dan bukan membeli dan tak bisa menaruhnya di ruang baca pribadi. Karena awal ketika saya pinjam, saya pun tak menyangka akan begitu menyukainya. 

Dari novel ini saya jadi kepikiran betapa seluruh ide di dunia ini tidak ada yang klise, tergantung bagaimana cara penulis menceritakannya. Sederhana pun bisa jadi indah ketika diolah oleh seorang Andina Dwifatma.

Harusnya itu sudah bisa ditebak hanya dengan melihat endorsement dari seorang Seno Gumira Aji Darma dan Sitor Situmorang di halaman belakang buku yang  saya kira awalnya itu hanya sematan belaka.  Dan lagi, harusnya saya membaca stiker yang menempel di depan buku yang bertuliskan ‘Pemenang Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2012’. Itu pun tak begitu saya perhatikan. Layaknya Saman yang memenangkan sayembara tersebut tahun 1998 –dan merupakan salah satu novel favorit saya- kepuasan itu pun terulang kembali.

I really want this novel in my private library and wanna take it everywhere I go but unfortunately can’t. So, I just wanna recommend u to read this and feel how this novel works in you.

No more words but thanks :)

April 4, 2015

What Freedom Means to You?



Hal kedua yang paling kubenci selain menghadiri pernikahan adalah mengikuti meeting. Seperti halnya 3 jam sudah kulalui di sini. Duduk di ruang ber AC dengan wangi kental lavender - yang pasti berasal dari pengharum ruangan yang masih baru- sembari menyaksikan rekan-rekanmu berdiskusi, lebih tepatnya berdebat. 

Kau tahu, kehidupan waktumu terbunuh secara sia-sia atas nama meeting. Sebenarnya yang mereka lalukan hanyalah duduk dengan diawali upacara kecil, lalu membahas akar suatu masalah untuk sampai kepada suatu solusi. Masalahnya, solusi itu ibarat harta karun di kutub utara dan orang-orang ini memulai perjalanannya dari Asia Tenggara. Aku sanksi harta itu akan berhasil ditemukan kurang dari setengah hari jika melihat situasi sekarang (jadwal meeting seharusnya tidak lebih dari 2 jam).

“Ayolah, mikir lagi! Mr. George nggak akan suka dengan ide kampungan itu! Parasailing, Terjun bebas, itu klise! Itu sudah banyak dipakai iklan rokok!” Albert mulai kehilangan kendali.

Lebih untuk Albert hanya mengacak-acak rambut kepalanya sendiri. Kali ini dokumen-dokumen meeting kami selamat.

“Seorang anak yang menunggu waktu bel pulang sekolah, mengetuk-ngetuk pensil ke buku,” ucap Soya.

“Kau pikir sedang membuat video klip baby one more time?!” teriak Albert sembari memegangi tempurung kepala yang ia pikir bisa saja lepas secara tiba-tiba.

“Kaum marjinal yang terbebas dari.. hutang? Feel...freee....” Kevin kembali mencoba.

“Norak! Kampungan!” Albert seketika berdiri lalu mulai melakukan aksi kebanyakan orang kebingungan, mondar mandir. “Produk ini high class, jangan pakai frame kampungan gitu dong!” Albert sedikit memberi tekanan pada kata kampungan.

Beberapa kali Albert melirik jam di tangannya.  Sepertinya ia mulai menyadari bahwa  meeting seharusnya sudah menghasilkan keputusan. Mukanya terlihat semakin kusut dan cemas. Dalam kondisi seperti itu tak mungkin ia mampu mencetak ide-ide briliant seperti sebelum-sebelumnya.

“Bert, semua pakam yang kamu minta sudah kita coba sematkan, tapi nggak ada yang cocok sama kamu. Kita sudah mencoba keluar dari ide-ide pada umumnya, lho.” Terdengar nada kesal pada ucapan Soya.

Dan seperti itu yang terus terulang tanpa penghujung. Albert dengan kekolotannya, Soya dan Kevin dengan ide yang...yah sedikit ada benarnya kata Albert, kampungan. Fadli diam, aku diam. Ku pikir Fadli diam bukan karena muak, mungkin ia tengah membayangkan Monica Belluci tanpa busana. Jika dikorelasikan dengan tema kebebasan, Fadli mungkin akan menggambarkannya sebagai adegan party dalam sebuah kamar hotel VIP dengan busana bebas, bebas tanpa busana. Dan lihat, makhluk itu sedang senyum-senyum sendiri dengan tatapan kosong.

Sedang aku? Bagaimana aku bisa memberikan ide soal kebebasan, sedang kebebasanku sendiri tengah ditawan dalam ruangan ini? Dan..oke, sepertinya aku harus melarikan diri dari situasi membosankan ini.

“Nis? Mau kemana?” Panggilan Albert seketika menghentikan langkahku. Aku menoleh.
  
“Projectku masih banyak yang pending. Nanti hasilnya share aja ya,” ucapku sembari meneruskan langkah.

“Kamu pikir project kali ini nggak penting?!” Suara Albert mulai meninggi dan jujur membuatku enggan meneruskan langkah.

Aku menghela napas kesal.

“Albert..... bagiku kebebasan itu omong kosong!” Aku meneruskan melangkah ke luar ruangan tanpa menoleh sedikitpun. Wangi lavender semakin menyusut, artinya aku sudah terbebas dari ruangan itu.

“Kebebasan itu omong kosong! Yeah, kebebasan itu omong kosong!” Itulah kata terakhir yang sempat kudengar dari mulut Albert. Dia mengucapkannya seperti sudah mendarat di kutub utara dan menemukan harta karun lebih dari yang tertera di surat wasiat.

Menurutku begitu. Kebebasan itu tidak benar-benar ada. Kebebasan itu bersekat. Seperti kolong dan dipan, menjadi satu tanpa unsur kesengajaan. Bagi sebagian orang, kebebasan itu bebas dari ikatan pernikahan, tapi bagi sebagian yang lain pernikahan itu justru membebaskan diri dari larangan-larangan. Tidak boleh mencium, tidak boleh memegang, tidak boleh ini dan itu. Karena itulah kebebasan tidak pernah benar-benar ada. Kebebasan ada ketika tidak meninggalkan batasan atas kebebasan yang lain. Jadi itu hanya omong kosong!

Seperti kalian tahu. Iklan kami itu sekarang booming dan diputar setiap 1 jam sekali selama 3 bulan berturut-turut di hampir setiap stasiun televisi di negeri ini. Aku sendiri yang menjadi pemeran utamanya. Aku menuruti permintaan Albert karena kupikir itu cara termudah untuk bilang ke seluruh negeri bahwa kebebasan itu hanyalah omong kosong. Dan aku benar-benar puas.

 So, what freedom means to you?

*Dengan jujur dan polos bahwa inspirasinya dapat dari iklan provider.

Hidup Dengan Sedikit Benda

Baru-baru ini saya menyadari bahwa saya terlalu banyak mencemaskan benda-benda yang saya miliki. Terlebih benda yang benar-benar saya...