April 29, 2015

Anomali Penarik Sampah




Tengah hari di bulan juni tak pernah mau bersahabat. Raut pengendara motor semakin tertekuk mendapati hitungan lampu merah masih diangka 54. Di trotoar, beberapa orang karyawan pabrik terlihat gelisah dan serempak menutupi wajah masing-masing dengan tangan. Beberapa lainnya mengumpat, menyesali keputusan keluar dari ruang kerja yang nyaman dan sejuk. Raut mereka kusut, keringat mengucur dari pelipis, ketiak dan punggung. Panas terik telah berhasil mengubah aura wajah dan emosional seseorang.

 Dari arah selatan, segerombolan gadis berpakaian kerja terlihat melangkah ke luar gerbang salah satu dealer mobil ternama. Langkah mereka seperti diburu ketika melewati gerobakku yang sedari beberapa hari lalu masih terparkir di gang sebelah dealer. Ada yang berusaha menahan napas dan seolah tak mencium bau apa-apa, ada yang tak segan-segan menutup hidung dengan 2 tangan disertai bermacam umpatan, “Ugh!”, “Arrggh!” dan ada juga yang terlihat sekuat tenaga menahan muntah.

Aku tak heran, awal pertama aku mendorong gerobak itu pun begitu. Telur busuk bercampur dengan sambal kacang yang sudah basi, aroma susu basi, sayuran sisa, kaleng sarden, bungkus sate, botol minuman berenergi, pembalut wanita, tulang belulang ikan yang sudah mengendap berhari-hari komplit dengan lalat, dan segala macam sampah yang tak lain adalah dari mereka sendiri. Segala bau dan barang itu beradu menghasilkan aroma bacin, amis yang membuat orang susah menahan muntah. Awalnya aku butuh kain atau masker bekas untuk menutup penciumanku. Namun lambat laun, bau-bau itu dengan sendirinya akrab melewati bulu-bulu hidungku. 

Kubiarkan orang-orang memandang jijik gerobak usang itu. Sungguh benar tak usah heran, pemandangan seperti itu sudah kunikmati hampir belasan tahun lamanya. Lebih tepatnya, 11 tahun 5 bulan, jika aku tak salah hitung. Manusia-manusia penghasil sampah tapi anti sampah. Beuhhh! Munafik!

Pekerjaanku itu bermula dari kematian Kang Kelik, orang yang merawatku sejak kecil dan - yang kutahu - sebagai satu-satunya keluargaku. Sebelumnya aku tak pernah menyentuh sampah, lagi pula Kang Kelik lebih suka melihatku pergi ke Taman Belajar Mandiri milik Bu Etik dibanding harus bergelut dengan tumpukan bau. Kang kelik bilang,” kelak aku akan menjadi orang”. Mungkin Ia pikir aku ini monyet yang belum bisa menghasilkan apa-apa dan hanya bisa berteriak menadah makan ketika lapar. Tapi biarlah, bagaimanapun ia kerap membawa bingkisan berisi nasi dan paha ayam yang masih utuh. Katanya, sisa dari restoran cepat saji dekat perbatasan.

Lalu, Kang kelik pergi selama-lamanya. Seorang putra pengacara terpandang milik kota ini telah menabrakkan sedan merahnya ke tubuh kurus kering itu. Kata orang, Ia terpental 15 meter dengan darah melambah-lambah dan mati di tempat. Umurku saat itu baru 8 tahun.

Semenjak itulah aku menjadi tukang sampah untuk menyambung hidup. Awalnya kupikir aku hanya butuh makan dan tak butuh Kang Kelik, tapi sesekali aku pernah benar merindukannya.
Oh ya, orang biasa memanggilku Popo. Kulitku yang gosong mengingatkan mereka dengan tokoh Mr. Popo di serial kartun Dragon Ballz. Sebenarnya nama asliku Bagus. Bukan aku sedang memuji, tapi memang namaku benar Bagus, BE-A-GE-US. Entah dari mana nama itu, yang jelas hanya Kang Kelik selalu memanggilku Bagus, dan hingga dia mati aku lupa menanyakan siapa gerangangan yang memberikan nama itu. Aku bahkan belum tahu asal usulku sebenarnya. Rencana, aku akan tanya ketika umurku menginjak 9 tahun, tapi Kang Kelik lebih dulu mati. Tau begitu aku akan mengubah rencanaku.

Kupikir, pekerjaanku itu akan segera berakhir. Bulan lalu Bang Jo - pemilik warung Bakso Kondang- menawariku pekerjaan. Itu hal yang sudah lama aku impi-impikan. Warung Kondang tenar di antara kami, para pekerja kasar. Biarpun sekadar warung namun -yang kudengar dari beberapa orang- pendapatannya mencapati 5-6 juta rupiah per hari. Karyawannya berjumlah 15, gaji mereka bekisar antara 25 ribu hingga 50 ribu rupiah per hari, tergantung ramai atau sepi. 

Sudah girang bukan kepalang aku kala itu. Mimpi untuk menjauhi sampah dan mendapat gawean yang lebih layak sudah di depan mata. Setidaknya aku tak lagi bergelut dengan bau. Setelahnya, akan kuberanikan diri untuk menyapa Yian -anak penjaga pasar- secara langsung. Selama ini Aku tak pernah membiarkan Yian mengenal tubuhku yang kotor dan bau. Dan kelak, saat Yian sudah menjadi Istriku, akan kuceritakan semua. Aku yakin, Dia pasti mau mengerti.

Belum genap seminggu aku bermimpi, pasar di mana warung itu berdiri sudah habis dilahap api. Bang Jo yang kala itu berlari panik hendak menyelamatkan harta bendanya mati tertimpa kayu panas sehari setelah bermalam di rumah sakit. 

Peristiwa itu tak hanya mematikan aktivitas warga, menelan senyum pedagang ikan yang tiap hari menyumbang sampah dengan bau paling menyengat, namun juga meruntuhkan kebahagiaan Yian. Tentu bukan karena kehilangan harta maupun dagangan, senyumnya lenyap seiring ayahnya yang sering menghilang dan mabuk-mabukan.

Kudengar beberapa warga sering membicarakan ayahnya, bahkan aku sendiri memang pernah - tanpa sengaja - mendengarnya. 

“Aaahhh kasus seperti ini sudah lagu lama, ini pasti setting-an!” Pekik pria bertubuh gembul sebelum tangannya sigap menyomot tahu petis di warung Bu Tun.

“Kemana lagi si Parjo, si tukang jaga itu?! Kenapa bisa sampai habis dagangan kita di makan api?!” Tambah pria lain di sebelahnya.

“Jangan-jangan sekongkol dia sama orang-orang atas! BAHH!” umpat pria ke tiga.

“Hush! Kalau ngomong jangan sembarangan, nanti bisa jadi fitnah, ora elok!” sergah Bu Tun.
Suasana menjadi hening. Mereka saling pandang. Sepaham dalam diam.

Beruntung ini telinga bukan milik calon mertuaku itu. Atau mungkin telinga orang tua itu sudah lebih dulu mendengar ocehan-ocehan semacam, hingga ia tak berani lagi menemui orang.

Aku tahu pasar itu memang benar sengaja dibakar, karena aku melihatnya.  Sehari sebelum kejadian, ketika riuh pasar berangsur sepi oleh tenggelamnya matahari, aku melihat sesosok pria berjaket gelap membawa jerigen dan menaruhnya tepat di depan kios Pak Rusman, sang ketua Himpunan Pedagang pasar.  

Pagi setelahnya Pak Rusman kelihatan gusar. Yang kudengar dari orang, sudah 3 hari ini Pak Rusman bertanya ke kios-kios sebelahnya terkait jerigen berisi bensin yang ada di depan kiosnya.  Namun, nihil. Tak seorang pun mengaku sebagai si-empunya.

Kini Pak Rusman yang malang itu harus menginap di Rumah sakit karena jantungnya yang lemah.  Kabar dari orang yang menengok, ia masih suka gelisah sembari sesekali menitihkan air mata bila mengingat kobaran api yang merenggut pendapatan ratusan orang di malam naas itu.  Ia menyalahkan dirinya karena tak mengindahkan teror misterius berupa sms dan jerigen bensin yang ia terima hari-hari sebelumnya. 

Lalu calon mertuaku?  Si tua itu tengah meneguk Congyang murahan di belakang Sekolah Dasar. Wajahnya lusuh, semangatnya surut. Kiprahnya sebagai penjaga pasar runtuh. Aksi heroik menangkap basah pencuri yang berniat membobol kios elektronik sebulan sebelumnya pun tak lagi berarti.  Tak cukup untuk menebus seluruh kerugian atas kobaran api itu.  Pula tak bisa menghentikan bisikan orang-orang yang membuat panas telinganya.

Dan Yian? dia akan menangis saat Bapaknya pulang dalam keadaan sempoyongan. Sudah baik setengah tahun ini Bapaknya tak pernah lagi kumpul dengan komplotan Gundul dan kawan-kawannya. Ia juga tak lagi pulang dalam keadaan mabuk seperti tahun-tahun sebelumnya. Wajar bila hati Yian semakin tersayat melihat Bapaknya kembali mabuk-mabukan. 

Aku, aku bisa merasakan sayatan itu.  Aku bisa merasakan perihnya setiap air mata yang ia jatuhkan. Dan hanya aku yang tahu, bukan orang lain. Seperti halnya hanya aku yang tahu dan melihat dihari terakhir orang itu menaruh jerigen. Aku paham betul rupanya, namun aku tidak kenal pun melihat sebelumnya.

Selama ini orang hanya menganggapku bagian dari sampah, tapi mereka tak tahu, sebenarnya akulah yang tahu semuanya.  

Jangan menganggapku pengecut karena menyimpan rahasia ini sendirian.  Aku tak sepengecut itu! Aku sudah berusaha memberi tahu Pak Rusman tapi dia tak mau mendengarku.

“Ha he ha he! Apa?! Minta makan!?” Pekiknya kala itu.

Aku menggeleng, masih berusaha bersuara sebisaku. Tanganku berusaha membuat bentuk orang, lalu bentuk kotak kemudian telapakku mengepal dan mempraktekkan adegan menjinjing dan menaruh. Pak Rusman tak paham dan justru semakin terusik. Ia mengeluarkan satu lembar sepuluh ribuan dan mengusirku. Aku berusaha kembali namun Pak Rusman semakin gencar mengusir. 

“Dasar bisu!!” umpatnya. Aku pun menyerah.

Di hari yang sama, malam selepas Isya’, orang-orang berteriak sembari berlarian menuju pasar. 

“Kebakaran...!! Pasar kebakaran.....!!” terdengar suara teriakan semakin riuh. Aku melempar sendal jepit rusak yang rencananya akan kuperbaiki dengan kawat dan ikut berlari menuju pasar tanpa alas kaki.

Melihat kobaran api merah sedang melahap bangunan pasar, aku ikut panik. Kubenamkan diri di tengah orang-orang yang berlarian untuk mengamankan dagangan. Aku membantu seorang Ibu yang tergopoh kesulitan mengangkut kardus berisi sembako. Sudah hampir 30 menit berlalu, Damkar belum juga muncul. Warga sekitar berlarian membawa air sebisa mereka dan melemparkannya ke beberapa titik.  

Tak kukenal lagi mana pemilik mana penolong dan mana penjarah, semua beradu cepat mengambil barang-barang yang masih bisa diselamatkan.  Ketika hendak masuk kembali, seseorang sengaja menubrukku hingga aku terkulai. Kepalaku membentur tepian lantai. Kurasakan pusing dan nyeri dibagian dada. Aku berusaha bangkit namun kembali jatuh sesaat setelah sebuah benda tumpul melibas tengkukku. Aku terkapar. Tak sadarkan diri.  Masih kurasa kesadaran terakhirku ketika panas menjalar ke seluruh tubuhku. 5 detik sebelum aku benar-benar tak pernah lagi sadar, kulihat api menyala disekujur tubuhku.

Tak ada yang tahu cerita sebenarnya. Cerita ini kutitipkan kepada kalian sebelum rohku benar-benar pergi tanpa menyimpan ingatan.

No comments:

Post a Comment

Review Novel To Kill A Mocking Bird

Doc. irerosana Perlu waktu yang tidak sebentar bagi Amerika untuk mendewasakan diri, menerima bahwa warna kulit bukanlah sesuatu ya...