April 14, 2015

Review Novel : Ayahku (Bukan) Pembohong.



 
Sumber : tulismenulis.com



Bila kamu calon ayah, pelajaran pertama apa yang akan kau hadiahkan kepada anakmu kelak? Bila kamu seorang ayah, pelajaran pertama apa yang sudah kamu ajarkan kepada anakmu?

Saya percaya mengajarkan kearifan melalui dongeng atau cerita akan lebih mengena di hati seorang anak ketimbang memarahi dan menghukum untuk tidak boleh melakukan sesuatu dalam batas waktu tertentu. Beruntung semasa kecil saya hidup di zaman  di mana internet, sosial media belum lahir dan hiburan hanya sebatas dari televisi milik orang berpendapatan lebih. Di masa itu, kebersamaan menjadi salah satu pembunuh sepi. Bapak dengan pengetahuannya yang minim sering mendongeng sebagai pengantar tidur. Detail ceritanya masih saya ingat sampai sekarang, tentu ada pengaruh nilai pembelajaran yang masih melekat secara kuat dalam diri saya.

Seorang Tere Liye melalui novel ‘Ayahku (Bukan) Pembohong’ ingin menampilkan sebuah cerita tentang seorang ayah yang mendidik anaknya melalui cerita-cerita petualangan yang pernah ia alami. Awalnya kita akan mengategorikan cerita-cerita tersebut ke dalam kelas dongeng dengan terciumnya beberapa ke-absurb-an seperti : Ayahnya mengenal baik kapten salah satu team bola terbaik di Eropa, Ayahnya pernah mengunjungi suku pengendali angin, suku yang bisa menerbangkan diri dengan layang-layang dan ayahnya pernah memakan apel emas yang hanya berbuah setiap satu tahun sekali. Sampai pada titik akhir cerita terungkaplah kenyataan dari cerita-cerita ayahnya selama itu.

Anak sang ayah yang bernama Dam, tumbuh dan melalui fase-fase remajanya dengan berbekal kearifan dan semangat dari cerita-cerita dari sang ayah. Bagaimana ia menghadapi bullying dari temannya yang bernama Jarjit, bagaimana ia memotivasi dirinya menjadi juara renang nasional, hingga tanpa ia sadari, cerita-cerita itulah yang membentuk karakter Dam yang ramah, ringan tangan, ceria, pantang menyerah, bersemangat sampai ia dewasa.

“Bukankah Ayah pernah bercerita bahwa Suku penguasa angin bisa bersabar walau beratus tahun dizalimi musuh-musuh mereka? Suku itu paham, terkadang cara membalas terbaik justru dengan tidak membalas.”

“Penjajah itu tidak tahu kekuatan bersabar. Kekuatan ini bahkan lebih besar dibandingkan peledak berhulu nuklir. Alam semeseta selalu bersama orang-orang yang sabar.”

Segalanya terlihat baik-baik saja, hingga pada suatu ketika ia dihadapkan dengan masa dewasa yang penuh dengan logika dan tanda tanya. Lagi, ketika Ibunya harus mengembuskan napas terakhir, Dam yang dalam keadaan duka menuduh sang Ibu hidup dalam ketidakbahagiaan. Ayahnya terlalu hidup dalam kesederhanaan tanpa pernah sekalipun menyenangkan Ibunya dengan memberikan hidup yang layak atau sekadar memberikan sesuatu. Meski seisi kota menganggap ayah Dam sebagai satu-satunya orang yang jujur dan sederhana, namun Dam dewasa menganggap ayahnya seorang yang penuh kebohongan dengan cerita-cerita absurbnya.

Apakah benar Ibu Dam tidak pernah bahagia selama hidup bersama ayahnya dan apakah cerita-cerita sang ayah itu nyata atau hanya fiksi belaka? Rasanya kurang tepat bila saya memberitahukan akhir ceritanya. Saya bisa memberi tahu, tapi dengan itu pembaca tidak akan tahu betapa nikmat susunan kalimat dari seorang Tere Liye.

“ Dan kau tahu, Dam, hukum itu sejatinya adalah akal sehat, bukan debat kusir, bukan pintar bicara...”

Temukan makna kebahagiaan sejati, kearifan, hakekat keadilan dari cerita keluarga kecil Dam. Saya yang selama ini kurang berkenan melirik novel-novel Tere Liye jadi tertarik untuk membaca judul-judul lainnya.

Akhirul kata, para pembaca yang budiman dapat pesan dari Tere Liye :

Untuk membuat hati kita lapang dan dalam, tidak cukup dengan membaca novel, membaca buku-buku, mendengar petuah, nasihat, atau ceramah. Para sufi dan orang-orang berbahagia di dunia harus bekerja keras, membangun benteng, menjauh dari dunia, melatih hati siang dan malam. Hidup sederhana, apa adanya, adalah jalan tercepat untuk melatih hati di tengah riuh rendah kehidupan hari ini. Percayalah, memiliki hati yang lapang dan dalam adalah konkret dan menyenangkan, ketika kita bisa berdiri dengan seluruh kebahagiaan hidup, menatap kesibukan di sekitar dan melewati hari-hari berjalan, bersama keluarga tercinta.

No comments:

Post a Comment

Review Novel To Kill A Mocking Bird

Doc. irerosana Perlu waktu yang tidak sebentar bagi Amerika untuk mendewasakan diri, menerima bahwa warna kulit bukanlah sesuatu ya...