April 4, 2015

What Freedom Means to You?



Hal kedua yang paling kubenci selain menghadiri pernikahan adalah mengikuti meeting. Seperti halnya 3 jam sudah kulalui di sini. Duduk di ruang ber AC dengan wangi kental lavender - yang pasti berasal dari pengharum ruangan yang masih baru- sembari menyaksikan rekan-rekanmu berdiskusi, lebih tepatnya berdebat. 

Kau tahu, kehidupan waktumu terbunuh secara sia-sia atas nama meeting. Sebenarnya yang mereka lalukan hanyalah duduk dengan diawali upacara kecil, lalu membahas akar suatu masalah untuk sampai kepada suatu solusi. Masalahnya, solusi itu ibarat harta karun di kutub utara dan orang-orang ini memulai perjalanannya dari Asia Tenggara. Aku sanksi harta itu akan berhasil ditemukan kurang dari setengah hari jika melihat situasi sekarang (jadwal meeting seharusnya tidak lebih dari 2 jam).

“Ayolah, mikir lagi! Mr. George nggak akan suka dengan ide kampungan itu! Parasailing, Terjun bebas, itu klise! Itu sudah banyak dipakai iklan rokok!” Albert mulai kehilangan kendali.

Lebih untuk Albert hanya mengacak-acak rambut kepalanya sendiri. Kali ini dokumen-dokumen meeting kami selamat.

“Seorang anak yang menunggu waktu bel pulang sekolah, mengetuk-ngetuk pensil ke buku,” ucap Soya.

“Kau pikir sedang membuat video klip baby one more time?!” teriak Albert sembari memegangi tempurung kepala yang ia pikir bisa saja lepas secara tiba-tiba.

“Kaum marjinal yang terbebas dari.. hutang? Feel...freee....” Kevin kembali mencoba.

“Norak! Kampungan!” Albert seketika berdiri lalu mulai melakukan aksi kebanyakan orang kebingungan, mondar mandir. “Produk ini high class, jangan pakai frame kampungan gitu dong!” Albert sedikit memberi tekanan pada kata kampungan.

Beberapa kali Albert melirik jam di tangannya.  Sepertinya ia mulai menyadari bahwa  meeting seharusnya sudah menghasilkan keputusan. Mukanya terlihat semakin kusut dan cemas. Dalam kondisi seperti itu tak mungkin ia mampu mencetak ide-ide briliant seperti sebelum-sebelumnya.

“Bert, semua pakam yang kamu minta sudah kita coba sematkan, tapi nggak ada yang cocok sama kamu. Kita sudah mencoba keluar dari ide-ide pada umumnya, lho.” Terdengar nada kesal pada ucapan Soya.

Dan seperti itu yang terus terulang tanpa penghujung. Albert dengan kekolotannya, Soya dan Kevin dengan ide yang...yah sedikit ada benarnya kata Albert, kampungan. Fadli diam, aku diam. Ku pikir Fadli diam bukan karena muak, mungkin ia tengah membayangkan Monica Belluci tanpa busana. Jika dikorelasikan dengan tema kebebasan, Fadli mungkin akan menggambarkannya sebagai adegan party dalam sebuah kamar hotel VIP dengan busana bebas, bebas tanpa busana. Dan lihat, makhluk itu sedang senyum-senyum sendiri dengan tatapan kosong.

Sedang aku? Bagaimana aku bisa memberikan ide soal kebebasan, sedang kebebasanku sendiri tengah ditawan dalam ruangan ini? Dan..oke, sepertinya aku harus melarikan diri dari situasi membosankan ini.

“Nis? Mau kemana?” Panggilan Albert seketika menghentikan langkahku. Aku menoleh.
  
“Projectku masih banyak yang pending. Nanti hasilnya share aja ya,” ucapku sembari meneruskan langkah.

“Kamu pikir project kali ini nggak penting?!” Suara Albert mulai meninggi dan jujur membuatku enggan meneruskan langkah.

Aku menghela napas kesal.

“Albert..... bagiku kebebasan itu omong kosong!” Aku meneruskan melangkah ke luar ruangan tanpa menoleh sedikitpun. Wangi lavender semakin menyusut, artinya aku sudah terbebas dari ruangan itu.

“Kebebasan itu omong kosong! Yeah, kebebasan itu omong kosong!” Itulah kata terakhir yang sempat kudengar dari mulut Albert. Dia mengucapkannya seperti sudah mendarat di kutub utara dan menemukan harta karun lebih dari yang tertera di surat wasiat.

Menurutku begitu. Kebebasan itu tidak benar-benar ada. Kebebasan itu bersekat. Seperti kolong dan dipan, menjadi satu tanpa unsur kesengajaan. Bagi sebagian orang, kebebasan itu bebas dari ikatan pernikahan, tapi bagi sebagian yang lain pernikahan itu justru membebaskan diri dari larangan-larangan. Tidak boleh mencium, tidak boleh memegang, tidak boleh ini dan itu. Karena itulah kebebasan tidak pernah benar-benar ada. Kebebasan ada ketika tidak meninggalkan batasan atas kebebasan yang lain. Jadi itu hanya omong kosong!

Seperti kalian tahu. Iklan kami itu sekarang booming dan diputar setiap 1 jam sekali selama 3 bulan berturut-turut di hampir setiap stasiun televisi di negeri ini. Aku sendiri yang menjadi pemeran utamanya. Aku menuruti permintaan Albert karena kupikir itu cara termudah untuk bilang ke seluruh negeri bahwa kebebasan itu hanyalah omong kosong. Dan aku benar-benar puas.

 So, what freedom means to you?

*Dengan jujur dan polos bahwa inspirasinya dapat dari iklan provider.

No comments:

Post a Comment

Review Novel To Kill A Mocking Bird

Doc. irerosana Perlu waktu yang tidak sebentar bagi Amerika untuk mendewasakan diri, menerima bahwa warna kulit bukanlah sesuatu ya...