July 6, 2015

Tentang Teman Pena, Surat-surat dan Seperangkat Ingatan Lalu

doc pribadi


Inilah akibat memfollow akun-akun milik orang yang tulisannya kita sukai. Beberapa postingan mereka kerap menggelitik otak dan memunculkan kegelisahan-kegelisahan baru yang memaksa untuk segera dituliskan.

Saya penganut keyakinan bahwa membiarkan ide berjejalan di otak sama halnya dengan menahan hasrat ingin kencing. Itu sungguh tidak enak dan menyakitkan. Karenanya saya harus meneruskan pertanyaan dari Agusnoor yang ia posting di akun IG miliknya. “Siapakah yang hari ini masih suka berkirim surat?” tanyanya dengan gambar sebuah amplop surat beserta kertas (tentu yang dimaksud bukan surat tagihan listrik, kreditan, promosi, iklan dan lain sebagainya.)

Ingatan saya langsung mengarah kepada sebuah kardus sandal yang dulu saya simpan di kolong almari pakaian. Buru-buru saya angkat papan tebal yang menutupinya lalu mengeluarkan kardus beserta seluruh isinya. Ada tumpukan surat-surat lawas, beberapa kartu ucapan ulang tahun, ucapan hari raya dan diary-diary kecil. Saya pun tak ingat detail isi masing-masing karena mereka sudah hampir saya lupakan lebih dari 10 tahun yang lalu (lebih tepatnya saya sengaja lupakan agar kelak bila saya ingat atau menemukannya kembali saya akan merasa bahagia karena memperoleh hiburan yang tak bisa dibeli di belahan dunia manapun).

Dari sana saya mulai ingat betul siapa saja orang-orang yang dulu sering berkabar dengan saya. Seorang teman sekalas waktu SMP dan seorang teman yang harus pindah dan meneruskan sekolahnya di sebuah pesantren di Jawa Timur. Yang pertama lucu memang, saya berkirim surat melalui pos dengan seorang teman sekelas. Kalau setiap hari bertemu mengapa harus berkirim surat via pos? Saya pun lupa alasannya, mungkin kami merasa lebih keren kalau ada Pak Pos datang ke rumah mengantar surat sekalipun surat itu berasal dari seseorang yang jaraknya hanya 1-2 km dari rumahmu.

Belum saya baca kembali apa isinya tapi ada beberapa yang masih saya ingat, seperti teman saya berkata mengapa bahasa saya kaku sekali di surat, lalu ia menyarankan untuk menggunakan bahasa santai dan yang dianggap sedikit ‘gaul’ –pada masa itu. Ha, mungkin saya canggung dan belum berbiasa harus berkabar via pos.

Teman saya itu kerap sekali memakai kertas lucu-lucu penuh warna untuk menulis surat, lalu saya bertanya darimana ia mendapat kertas dengan gambar kue-kue lucu di bagian tepinya. Kemudian dia menjelaskan kalau kertas-kertas itu ia buat sendiri dari komputer miliknya. Ia memilih-milih gambar lucu, menaruhnya di bagian tepi lalu mencetak dengan printer yang ia miliki. Tentu saya tak bisa mempraktikannya, jangankan punya komputer, pada masa itu, mengoperasikannya saja saya masih gagap. Tapi ia memberi tawaran yang baik, besoknya ia berjanji akan memberi saya beberapa kertas bergambar buatannya. Cukup aneh bukan, ia memberi kertas surat yang akan saya gunakan untuk menulis surat untuknya.

Lalu teman pena saya yang ke dua, tak lain adalah tetangga sendiri. Meskipun bertetanggaan, namun kami gemar sekali bertukar surat –tanpa pos tentunya. Lalu ketika dia harus pindah ke pesantren, barulah kami benar-benar menjadi teman pena. Di pesantren, dia hanya menggunakan 2 bahasa, Inggris dan Arab. Karena takut tertinggal kemampuan, saya memintanya untuk menulis dalam bahasa Inggris saja, itung-itung membantu saya belajar, pikir saya kala itu. Dan benar, dia sering kali menggunakan bahasa inggris. Dia bercerita meski perkembangan bahasa sangat diutamakan di tempat itu namun penggunaan media elektronik sangat dibatasi.

Suatu ketika dalam suratnya dia meminta saya untuk mengajarinya mengoperasikan handphone -nanti ketika dia sudah kembali ke rumah. Aneh sekali, di sana diajarkan banyak bahasa manca negara, mengoperasionalkan komputer tapi tidak dengan handphone. Jadi, sewaktu anak-anak di kampung saya sedang bereuforia mengirim pesan kepada orang yang mereka suka, si teman saya itu sama sekali tidak tahu bagaimana caranya mengirim pesan. Waktu itu saya pun belum memiliki handphone. Barang itu hanya terjamah oleh kalangan tertentu. Teman pena saya itu kebetulan berasal dari keluarga yang cukup berada, dia punya tapi tidak tahu cara memakainya, kebalikan dengan saya.

Semenjak masa kecil saya sudah diberi gambaran dua kehidupan yang berbeda. Bagaimana teman saya mengenyam pendidikan dengan culture agama yang kuat dan saya yang menghujaninya dengan cerita-cerita duniawi dari kehidupan sehari-hari saya.

Itu sepenggal cerita dari masa lalu bersama teman pena. Beranjak SMA saya sudah tidak pernah lagi berkabar via surat. Saat itu hp sudah mulai merebak dan anak yang berkirim surat mulai mendapat lirikan aneh dari anak-anak yang lain. Jangan ditanya bagaimana sekarang saya berkomunikasi dengan mereka, fb, twitter, instagram, waa, line, bbm, blog, path dan sejenisnya berebut untuk saling digunakan.

Mudah, dan cepat alat komunikasi sekarang. Tapi, tetap ada rasa yang berbeda ketika saya menerima pesan bbm dibanding dengan ketika Pak Pos datang untuk menyerahkan sepucuk surat dari salah seorang teman pena. Walau begitu -kata pasangan saya, segala hal dan kemudahan tetap perlu disyukuri. Setidaknya saya bersyukur pernah hidup di jaman di mana berkirim pesan tidak semudah membalikkan tangan. Dari sana saya belajar, bahwa segala sesuatu yang dikerjakan dengan susah payah dan perlu proses panjang itu hasilnya akan lebih manis, berkesan dan dalam.

Demikian jawaban saya untuk Agusnoor. Ngomong-ngomong, dia penulis yang baik sekali, beberapa bulan lalu dia mengijinkan saya untuk mengutip puisi miliknya ke dalam undangan pernikahan saya. Hari ini dia merespon dan merepost postingan IG saya terkait teman pena. Ingin sekali saya bertukar sapa dan berbagi cerita dengannya.


#pensilramadan


Hidup Dengan Sedikit Benda

Baru-baru ini saya menyadari bahwa saya terlalu banyak mencemaskan benda-benda yang saya miliki. Terlebih benda yang benar-benar saya...