September 28, 2015

Review Novel Kambing dan Hujan


irero.doc 



Memiliki cita-cita menerbitkan buku sendiri sedikit membuat kita lebih berhati-hati dalam bersikap dan bertutur. Terlebih bila buku tersebut akan dipasarkan ke masyarakat umum. Pandai-pandailah membawa diri, begitu kiranya. Adakalanya hal tersebut membenturkan niat untuk mengkritisi karya orang lain. Seorang senior bilang, seorang kritikus sastra pandai sekali menguliti karya hingga sampai ketulang-tulangnya. Beberapa penulis bergidik karenanya. Padahal, belum tentu mereka bisa membuat karya yang lebih baik atau sekadar serupa.

Akibat cita-cita itu, muncul keengganan untuk mengkritik secara gamblang dan blak-blakan. Seorang pembaca yang sekaligus berprofesi sebagai penulis cenderung mempersepsikan diri sebagai si pembuat objek yang dikritik. Walhasil, kehati-hatian muncul, ranah ‘aman’ pun dimainkan. Berbeda dengan pembaca murni, mereka lebih mempersepsikan diri layaknya konsumen yang subjektif sehingga lebih apa adanya dalam memberi tanggapan.

Pemahaman saya mengenai kebebasan (dalam hal ini ‘kritik’) masih sama, semu semata. Dalam kehidupan manapun, batas akan tetap dimainkan sebagaimana fungsinya. Ada kalanya ingin berkomentar pasca melahab habis satu buah buku dengan ‘semau-maunya saya’. Sehat rasanya jiwa andai kata bisa berkata kepada dunia “novel ini jelek, nggak nyaman dibaca!”.

Tapi biarlah, mulut orang-orang lebih berhati-hati dengan adanya tantangan balik, apakah kita bisa membuat lebih baik? Begitulah kira-kira bangunan rasa pra me-review novel ini.

Kambing dan Hujan, saya ketahui berada diurutan pertama alias pemenang sayembara menulis novel DKJ 2014. Ingatan saya langsung mengarah ke ‘Saman’ yang memenangkan sayembara serupa di tahun 1998. Novel karya Ayu Utami tersebut sukses membuat orang berhenti bernapas sejenak karena takjub. Kalau saya pribadi sangat mengagumi pikiran liar Ayu Utami dan gaya bahasa yang digunakan. Saman, membuat saya jatuh cinta pada bacaan pertama dan memasukkan nama Ayu Utami ke dalam list  teratas pengarang ‘wajib beli’.

Saman secara tidak langsung menjadi standar pembanding saya dengan novel-novel pemenang DKJ yang lain. Sejauh ini, sudah 3 novel pemenang DKJ yang berhasil saya rampungkan. Novel ‘Semusim dan Semusim Lagi’ kembali berhasil mencuri hati dengan konsep gaya penulisan lebih modern. Untuk kedua kalinya saya berkata lagi, suka sekali dengan novel karya Andina Dwifatma ini. Lalu ada lagi novel ‘Persiden’ namun terhenti di tengah halaman karena banyak istilah Minang yang membuat kepala nyut-nyutan. Dan ‘Kambing dan Hujan menjadi novel ke 3 yang berhasil saya rampungkan.

Menilik Mahfud Ikhwan sebagai lulusan jurusan sastra UGM, agaknya cukup sulit meragukan novel tersebut dari segi tata bahasa. Runut, teratur, tertib dan sangat renyah untuk dinikmati, begitu kiranya. Prediksi saya, kemenangan ‘Kambing dan Hujan’ tak jauh karena kejelian dan keberanian Mahfud Ikhwan mengangkat ketegangan organisasi islam yaitu ketika awal mula Muhammadiyah mulai muncul yang seolah menandingi NU. Momen ketegangan tersebut terangkum dalam balutan kisah cinta Fauzia dan Mif.

Novel yang mengkritisi suatu persoalan tertentu memang lebih cenderung dilirik. Namun sebagai penulis, kritis asal kritis bisa berdampak negatif bagi dirinya sendiri. Berani mengangkat kasus sensitif saja itu tidak cukup, karenanya penulis harus memiliki dasar dan riset yang kuat guna menangkal dan menghadapi pelik permasalahan yang kemungkinan ditimbulkan. Hal itu tentu untuk mengamankan posisi diri sendiri dan menghindari sebutan waton njeplak tanpa dasar yang kuat.

Mahfud Ikhwan menjadi salah seorang kritis yang jeli dalam mengemas dan menyampaikan pergesekan yang ia hadirkan dalam novelnya. Selain kisah kasih Fauzia dan Mif, ia juga menetralisir permasalahan dengan menghadirkan perseturuan dua orang sahabat lama antara Moek dari kubu NU dan Is dari kubu Muhammadiyah. Keduanya tak lain adalah ayah dari Fauzia dan Mif sendiri.

Cerita berawal dari dua orang muda yang saling menjatuhkan hati dan pilihan hidup untuk bersama, yaitu Fauzia dan Mif. Apalah dikata, kisah cinta mereka mewarisi gaya sinetron yang terhalang restu dari orang tua. Usut diusut, yang awalnya mereka mengira restu tersebut terhalang dari perbedaan pandangan soal organisasi islam, lebih jauh justru mereka menemukan suatu fakta bahwa ayah mereka dulunya adalah sahabat karib. Hal-hal yang menjauhkan keduanya itulah yang menarik dan terkupas banyak dalam novel ini.

Dua sahabat karib kecil Moek yang berasal dari keluarga yang cukup berada dan Is yang tergolong kekurangan, semakin merenggang seiring perbedaan paham organisasi islam yang mereka anut masing-masing. Belum lagi kisah cinta segitiga antara Moek, Is dan Yatun -yang kini menjadi istri Moek alias Ibu dari Fauzia-. Keengganan untuk saling tegur sapa semakin menguat di antara keduanya. Mereka saling berlomba membangun benteng image dengan definisi salah dan benar menurut masing-masing.

Mahfud Ikhwan dalam novel ini memaksimalkan setting flashback orde baru yang begitu sensitif dan masa kini -di mana pergesekan antara kedua organisasi islam sudah tidak begitu dipersoalkan. Kisruh mengenai perselisihan PKI dengan pondok pesantren pun tak luput dibubuhkan Mahfud Ikhwan untuk memperdalam konflik.

Meski dikemas dengan rapi dan hati-hati, namun ada bagian yang cukup mengusik. Yaitu ketika Fauzia menerima surat-surat antara Moek dan Is dari Bapaknya. Tidak diceritakan bagaimana surat dari Moek (Bapak Fauzia) masih berada di tangan Moek sedangkan surat tersebut sudah memperoleh balasan dari Is. Di lain sisi, hubungan Moek dan Is merenggang, dan tidak memungkinkan adanya interaksi lanjutan seperti meminta kembali surat yang sudah dikirim.Bagaimana Moek bisa memperoleh kembali surat yang ia tulis sementara persahabatan mereka tengah koma?

Mungkinkah saya meluputkan satu bagian tertentu yang menjernihkan kejanggalan dari saya? Bagi yang pernah membaca dan lebih tahu bolehlah saya diluruskan.

Di luar satu hal itu, dengan tema yang cukup jeli saya merasa novel ini layak memenuhi peringkat pertama pemenang sayembara DKJ 2014 meski belum mampu menggeser Saman dari hati saya. Seolah menekankan pada sejarah perkembangan islam di suatu daerah dan era tertentu, Mahfud Ikhwan mengakhirinya dengan indah dan damai,  tanpa ada pihak yang terlalu dibela pun dirugikan. Masing-masing tokoh dari dua pihak terasa seperti dibubuhi pesan alasan dan tujuan mengapa begini dan mengapa begitu. Penulis sepertinya sangat memahami pelik di antara ke dua belah pihak, mengapa pihak ini melakukan ini dan mengapa pihak yang lain menanggapinya begitu. Banyak pula pesan moral, nasihat, atittude yang baik yang bisa kita petik. Misal seperti, niat baik saja belum tentu cukup bagi sebagian kalangan. Niat yang baik harus dibarengi dengan cara yang baik. Menyajikan teh untuk seseorang itu termasuk niat baik, namun bila caranya dengan dilempar maka leburlah muatan kebaikannya.

Endorsment dari tokoh perwakilan ke dua belah pihak baik NU dan Muhammadiyah, di mata saya cukup memberi tanda bahwa novel ini telah lulus sensor dari kemungkinan timbulnya persengketaan di hari kemudian. Meski dalam endorsment tersebut keduanya cenderung menanggapi secara wajar dan aman-aman saja. Rupanya perbedaan itu seperti rahasia umum, semua orang mengetahui namun ‘tak perlulah’ diperdebatkan lebih jauh.

Bagian paling menggelitik adalah ketika Moek dan Is terjebak dalam suatu suasana di mana harus saling bertegur sapa kembali setelah saling mendiamkan selama berpuluh tahun. Mereka terlihat seperti dua remaja yang sedang marahan, masih saling menyayangi namun gengsi untuk memulai lebih dulu. Dialog yang dibangun Mahfud mampu membuat saya senyum-senyum sendiri membayangankan kecanggungan di antara Moek dan Is.

Aku dan kamu bagai Kambing dan hujan yang menolak untuk saling bersentuhan. Begitu kiranya Mahfud Ikhwan menggambarkan ketegangan di antara Moek dan Is.

Di masa ini kisah cinta NU dan Muhammadiyah tentu bukan hal yang perlu dibesar-besarkan. Begitu pula seharusnya dengan kisah Fauzia dan Mif. Namun kisah masa lalu ayah mereka tidak bisa begitu saja diabaikan. Bagaimana keduanya berdamai dengan keadaan dan perbedaan, adalah bagian paling menarik secara keseluruhan.

Apalah arti saya kemukakan akhir kisah cinta mereka bila cerita demi cerita yang dibangun dalam setiap bab sayang untuk sekadar didengar dari sebuah ulasan.




                                                                                                               

2 comments:

  1. saya mencoba meluruskan, bagian yang menurut Anda janggal mungkin Anda luput dalam membaca bagian itu. Mif juga heran kenapa bisa surat untuk bapaknya dari Moek koq bisa ada ditangan Moek, kemudian Fauzia menjelaskan itulah hebatnya bapakku, dia selalu menyalin/ngopi surat yang akan dikirimnya. kira-kira begitu, saya menulis ini hanya dengan ingatan. hehehe... tapi riview nya keren! salam.

    ReplyDelete
  2. Ya, saya baru ingat bagian itu, untunglah Mas/Mb Anonim mengingatkan jadi kekeliruan ini bisa dihentikan. Thank you bantuannya ya Mas/Mb Anonim, ah alangkah lebih enak kalau saya bisa sebut nama. Salam kenal :)

    ReplyDelete

Hidup Dengan Sedikit Benda

Baru-baru ini saya menyadari bahwa saya terlalu banyak mencemaskan benda-benda yang saya miliki. Terlebih benda yang benar-benar saya...