March 14, 2016

Traktiran Buku Pangeran Kunang-kunang


doc.irero

Buku ini saya dapat dari seorang kawan -yang memilih untuk bertanya langsung kepada saya melalui sambungan telefon, “Kamu lebih suka buku ‘Seperti Rindu, Dendam Harus di Bayar Tuntas’nya Eka Kurniawan atau ‘Cerita Buat Para Kekasih’nya Agus Noor?" Sepertinya ia ingin membayar ‘Gelombang’ yang terlebih dulu saya kirim untuknya. “Bagaimana kalau kau serahkan saja Norwegian Woodmu!?” kataku mencoba menawar dan langsung ditolak mentah-mentah. Kalau begitu terserah, toh keduanya belum saya miliki. Lalu, dipilihlah buku milik si Pangeran Kunang-kunang. Pertimbangannya, mungkin ia memperhatikan betul undangan pernikahan saya yang menyematkan sekelumit puisi milik Agus Noor.

Putri, Mila dan karib saya yang lain memang lebih suka bertanya secara langsung ketika hendak mentraktir buku. Kejutan tanpa pertimbangan yang pas justru bisa berbuah kesia-siaan. Orang yang gemar membaca buku belum tentu senang dengan semua judul buku, belum tentu pula mereka mengikhlaskan waktu untuk membaca apa saja. “So many books so little time”, begitulah alasannya. Bertanya menjadi keputusan yang tepat meski si penjawab akan menawar judul buku lain yang biasanya lebih langka bin mahal.

Buku bersampul dominan putih ini sudah beberapa bulan mendekam di antara tumpukan buku lain. Miris memang, karena baru bulan lalu saya berhasil merampungkannya. Sebuah kumpulan cerita yang sistematis. Kisahnya beragam tapi dibuat menjadi serangkaian melalui payung ‘Cerita Buat Para Kekasih’. Dari kisah pertama ‘Seorang Wanita dan Jus Mangga’, saya kira Agus Noor adalah seorang yang membiarkan dirinya dilahap imajinasi.

“Bisakah kau bayangkan, kesakitan seperti apa ketika kulit kepalamu perlahan-lahan dikelupas?”

Tanpa tadang aling-aling ia bercerita, suka saja, tanpa membayangkan kengerian di benak pembaca.

Kadang saya merasa ada ‘kejutan-kejutan’ milik AS Laksana, kadang pula muncul sikap ‘kritis’ milk Eka Kurniawan, ada pula bahasa ‘puitis’ milik Aan Mansyur. Tapi ketika menemukan ‘kunang-kunang’, saya yakin betul, itu milik Agus Noor seorang. Bukan kunang-kunang milik Agus Noor tapi, Agus Noor milik kunang-kunang. Ia punya simpanan jutaan cerita mengenai kunang-kunang.

Hemat saya, mungkin awal mula cerita kunang-kunang adalah dari kegelisahan atas ketidakadilan yang terjadi di sekitarnya, dan ia merasa hanya binatang misterius itulah replika yang tepat untuk menyuarakan kebenaraan. Thomas dan Azizah, kisah cinta beda agama yang meneror mental mereka yang gemar berkoar-koar, dan kisah Akuarium yang Agus Noor sulap menjadi tempat ngeri dan menjijikkan. ‘Kunang-kunang di Langit Jakarta mengendap dalam otak saya melebihi 31 judul lainnya. Di sana binatang kecil itu menjadi harapan, penolak lupa atas tragedi ’98.

Konon katanya kunang-kunang adalah binatang yang dekat dengan kuburan dan kematian, tapi Agus Noor membuatnya lebih pedih dari yang kebanyakan orang bayangkan. Ia mengembalikan suara mereka yang terbungkam. Melintasi generasi, mencakup semua segi. Ia mengangkat banyak tragedi dan menutupnya dengan kisah bom Bali.

Terima kasih, Milla. Buku ini sungguh tidak cocok untuk para kekasih!

No comments:

Post a Comment

Review Novel To Kill A Mocking Bird

Doc. irerosana Perlu waktu yang tidak sebentar bagi Amerika untuk mendewasakan diri, menerima bahwa warna kulit bukanlah sesuatu ya...