August 16, 2016

Ulang Tahun Pernikahan






Rasanya baru kemarin sore kita menikah, rupanya sudah memasuki ulang tahun yang pertama. Aku tak banyak memikirkan hal-hal baik hari ini. Kau pun kembali menyibukkan diri setelah mengucap, "happy anniversary, Sayang."

Kau pasti bersusah payah mengingat-ingat tanggal kemarin, hanya agar aku tak marah. Aku sendiri heran mengapa perempuan mudah sekali marah ketika pasangannya lupa tanggal peringatan sesuatu. Aku juga heran mengapa laki-laki tak pernah peduli dengan tanggal peringatan. Tapi aku tahu kau punya banyak ide agar tak ketinggalan pesta. Salah satunya dengan memasang alarm di ponselmu. Belum lagi facebook hadir seperti kawan sejati, tak pernah absen mengingatkan apa-apa saja yang pernah terjadi hari ini. Terkutuklah kalian dengan masa lalu.

Di awal bulan kau sudah membebaniku dengan pertanyaan "mau hadiah apa, Sayang?" Hari-hari berikutnya aku banyak memikirkan jawaban untuk pertanyaanmu.

Aku sudah tak lagi berpikir soal panci set, microwave atau alat-alat dapur lainnya. Aku pun tak mengharap seikat mawar merah. Ingatlah terakhir kali aku meminta bunga dan kau menjawab, "aku kan ngasihnya bunga bank, Sayang," padahal aku ingin bunga, kembang, asli kembang. Apalagi meminta puisi. Ah, aku sudah hapal, jawaban apa yang bakal kuterima, "kamu kan tahu, aku orangnya nggak romantis."

Memang tidak romantis, hanya saja suka berlari ke apotik tengah malam kala tahu aku meriang. Bergegas mengambil motor dan mencari tukang sekoteng hanya agar lambungku sedikit hangat. Membeli bubur kacang hijau setiap pagi gara-gara aku pernah satu kali memintanya (bukan berarti pengen setiap hari keleesss..) Buru-buru menghampiri dan menawarkan bantuan kala tahu aku sibuk memasak. Kalau tidak dibolehkan ngotot tetap ingin membantu, begitu dikasih tugas mencuci sayur, potongan kol dan wortel tersebar di lantai.

Sepertinya kau sudah memberiku segalanya. Lagi pula kenapa selalu laki-laki yang bertanya hadiah apa yang perempuan minta untuk kado pernikahan mereka. Kenapa tidak sebaliknya? Biar sama-sama pusing. Tapi aku tak setega itu, menanyakanmu ingin hadiah apa. Kau pasti diam dan berpikir dalam, apakah pertanyaanku asli atau jebakan.

Sudahlah, lupakan soal hadiah. Bukankah aku hadiahmu dan kamu hadiahku?


Selamat, kita sudah melalui satu tahun pertama dengan lancar. Mari siapkan diri untuk menikmati tahun ke dua. Semoga di tahun ke dua intensitas bertemu meningkat. Terima kasih sudah menjadi pacar, teman dan imam yang baik. Tetaplah unyu-unyu dan menggemaskan.

2 comments:

  1. Masya Allah... so sweet banget ceritanya mbak..
    Semoga menjadi pasangan yang SAMAWA mbak..

    ReplyDelete

Perkara Makan dan Saudaranya

Makan adalah perkara rumit dalam hidup saya. Ini tak semudah seperti yang digambarkan orang-orang yang berkata bahwa itu hanya soal ...